Sabtu, 08 September 2018

Menjerang sisa-sisa Kejayaan Pasar Johar Semarang


Pasar Johar merupakan pasar terbesar di Semarang, segala aktivitas ekonomi bergerak setiap harinya disini. Aktivitas pasar Johar tak pernah henti dari dini hari hingga besoknya lagi. Pedagang, pemasok, buruh gendong, kuli panggul semuanya ada disini, mereka berasal dari berbagai tempat yang letaknya tak jauh dari Semarang. Namun tak lama ini pasar terbesar di Semarang ini terbakar, hampir setengah dari bagian pasar terbakar habis, isu isu mengenai penyebab kebakaran pun santer terdengar banyak yang bilang pasar Johar sengaja dibakar agar mempermudah renovasi pasar ini. disamping isu isu yang santer terdengar mengenai penyebab kebakaran banyak kalangan yang sangat dirugikan mengenai hal ini. Disini kami melihat bahwa bukanlah penyebab yang terus terusan kita usut, justru kami melihat akan imbas yang terjadi akibat kebakaran tersebut, salah satunya adalah imbas kebakaran yang dialami oleh para ibu ibu buruh gendong yang setiap harinya mencari rezeki di pasar tersebut. kebakaran tersebut telah memberi kan efek yang besar terhadap rezeki para ibu ibu buruh gendong itu, pengurangan jam pun yang menjadi pemicu utama berkurangnya rezeki para ibu ibu tersebut. Dari hal hal tersebut kami aertarik untuk menulis sebuah laporan tentang kondisi para ibu ibu tersebut setelah dan sebelum kebakaran. semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terima kasih.


            Banyak hal yang terkadang sering luput dari pandangan kita, bahwa seharusnya kita bersyukur dengan kehidupan yang kita miiliki. Jika kita mau sedikit membuka mata dan menatap sekitar kita lebih teliti lagi, Indonesia masih harus sangat berjuang untuk memeratakan kesejahteraan masyarakatnya. Sebenarnya, kita tidak perlu heran bahwasanya kita masih miskin dalam beberapa aspek. Namun, adakalanya kita perlu lebih peduli dan memahami masalah sosial apa yang berada disekitar kita.
Kita dapat mengambil contoh dari Ibu – ibu buruh gendong yang berada di Pasar Johar, Semarang. Para buruh tersebut, sudah menghidupkan nadi perekonomian Pasar Johar sejak pagi buta. Dengan bermodalkan selendang lusuh yang mereka miliki, para buruh gendong tersebut mampu membawa berpuluh – puluh kilogram barang dan kemudian diupahi dengan uang yang tidak seberapa.
Salah satunya adalah Ibu Partinah, buruh gendong yang tinggal di Karang Tengah, Demak. Demi mencukupi kebutuhan keluarga, buruh gendong yang sudah berusia 47 tahun itu, setiap harinya harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan sepeda motor. Dengan usia yang sudah tidak lagi muda, beliau dapat mengangkut barang bawaan sekitar 60 – 65 kilogram, dengan hanya bermodalkan kain lusuh yang beliau gunakan sebagai penopang dipunggungnya. Menurut, Ibu yang memiliki tiga orang anak dan tiga orang cucu tersebut, beliau hanya dibayar sekitar lima ribu rupiah sekali angkut barang, namun apabila sepi pengunjung, terkadang mereka hanya mendapatkan uang yang cukup hanya untuk makan.
Ketika kami bertanya lebih dalam kepada Ibu Partinah, ternyata beliau mempunyai suami yang dulunya sebelum kebakaran, ikut bersama Ibu Partinah menjadi kuli angkut muatan. Namun, semenjak kebakaran yang melanda Pasar Johar beberapa waktu lalu, suami Ibu Partinah hanya mengantarkan beliau ke lokasi bekerja setiap setelah menunaikan sholat shubuh.
Setiap pekerjaan tentunya mempunyai risiko yang dihadapi, begitu pula dengan apa yang dialami Ibu Partinah. Sejak sekitar tahun 2003, Ibu Partinah pernah berhenti bekeja, yaitu ketika beliau jatuh dari tangga saat memikul beban yang berat. Selama tiga tahun beliau berhenti bekerja, demi menjaga kesembuhan tulang kaki beliau yang patah. Namun beliau tidak banyak khawatir ketika beliau harus membayar rumah sakit saat itu karena memiliki organisasi yang setiap bulannya menarik iuran buruh gendong seperti Ibu Partinah sebesar tiga puluh ribu tiap bulan, yang kemudian pada akhirnya ketika Ibu Partinah mengalami patah tulang, beliau tidak membayar pengobatan sepeser pun.
Dua puluh tujuh tahun ibu Partinah menggendong belanjaan orang lain. Upah yang kecil tidak menjadi alasan Ibu untuk mengeluh dan marah pada keadaan. Semua tampak baik-baik saja sampai kebakaran hebat membakar pasar Johar beberapa minggu lalu. Sebuah degradasi yang kentara ketika mengetahui fakta bahwa jam kerja Ibu-ibu perkasa ini dipotong hingga lebih dari separuhnya. Para pedagang yang sedianya bongkar muat berkurang, pembelinya pun pergi. Ibu Partinah menuturkan bahwa banyak rekan-rekannya yang berhenti bekerja setelah Johar hangus. Hal yang sama terjadi pada suaminya yang bekerja sebagai kuli pasar. Namun dibalik musibah yang dalam, kami melihat ketegaran ibu Partinah dan teman-teman seperjuangannya. Musibah memang tiada yang bisa mengatur selain Sang Pencipta, ibu Partinah ikhlas menghadapi keadaan dan tetap bekerja dengan semangat. Sepenggal hikmah yang bisa kita ambil sebagai mahasiswa untuk mengabdikan ilmu pada masyarakat layaknya ibu Partinah. 
Dewasa ini jika kita berpikir dengan logika, tentu saja Ibu Partinah dan keluarga sangatlah berkekurangan dalam hidupnya. Apalagi ditambah Pasar Johar yang kemudian terbakar dan melumpuhkan pekerjaan beberapa pemiliknya. Namun, kesulitan – kesulitan hidup tersebut nyatanya tidak Ibu Partinah gerutukan sedimikian kejinya, karena beliau terus berpesan dan mensyukuri hidup meski tidak hanya seberapa rezeki yang harus mereka usahakan setiap harinya.
Menurut kami, sudah saatnya pemerintah mulai memahami apa saja kesulitan – kesulitan yang dimiliki oleh setiap rakyatnya. Kemudian, memberikan jaminan serta memperdulikan nasib rakyat kecil dengan baik. Itulah sebabnya, betapa kejinya seorang koruptor ketika mereka sedang melakukan aksinya, kemudian disisi lain uang yang mereka makan merupakan hak – hak rakyat yang berkekurang seperti keluarga Ibu Partinah, yang posisinya Ibu Partinah juga ikut membayar pajak setiap tahunnya. Jika saja, ada kebijakan – kebijakan yang baik dan segera memberikan jaminan kehidupan lebih layak terhadap para ibu buruh gendong yang ada, pasca kebakaran Pasar Johar  tentunya akan mengurangi beban mereka dan kembali menhidupkan perputaran perekonomian Pasar Johar yang sempat lumpuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar