Pasar Johar
merupakan pasar terbesar di Semarang, segala aktivitas ekonomi bergerak setiap
harinya disini. Aktivitas pasar Johar tak pernah henti dari dini hari hingga
besoknya lagi. Pedagang, pemasok, buruh gendong, kuli panggul semuanya ada
disini, mereka berasal dari berbagai tempat yang letaknya tak jauh dari
Semarang. Namun tak lama ini pasar terbesar di Semarang ini terbakar, hampir
setengah dari bagian pasar terbakar habis, isu isu mengenai penyebab kebakaran
pun santer terdengar banyak yang bilang pasar Johar sengaja dibakar agar
mempermudah renovasi pasar ini. disamping isu isu yang santer terdengar
mengenai penyebab kebakaran banyak kalangan yang sangat dirugikan mengenai hal
ini. Disini kami melihat bahwa bukanlah penyebab yang terus terusan kita usut,
justru kami melihat akan imbas yang terjadi akibat kebakaran tersebut, salah
satunya adalah imbas kebakaran yang dialami oleh para ibu ibu buruh gendong
yang setiap harinya mencari rezeki di pasar tersebut. kebakaran tersebut telah
memberi kan efek yang besar terhadap rezeki para ibu ibu buruh gendong itu,
pengurangan jam pun yang menjadi pemicu utama berkurangnya rezeki para ibu ibu
tersebut. Dari hal hal tersebut kami aertarik untuk menulis sebuah laporan
tentang kondisi para ibu ibu tersebut setelah dan sebelum kebakaran. semoga
laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terima kasih.
Banyak hal yang terkadang sering
luput dari pandangan kita, bahwa seharusnya kita bersyukur dengan kehidupan
yang kita miiliki. Jika kita mau sedikit membuka mata dan menatap sekitar kita
lebih teliti lagi, Indonesia masih harus sangat berjuang untuk memeratakan
kesejahteraan masyarakatnya. Sebenarnya, kita tidak perlu heran bahwasanya kita
masih miskin dalam beberapa aspek. Namun, adakalanya kita perlu lebih peduli
dan memahami masalah sosial apa yang berada disekitar kita.
Kita
dapat mengambil contoh dari Ibu – ibu buruh gendong yang berada di Pasar Johar,
Semarang. Para buruh tersebut, sudah menghidupkan nadi perekonomian Pasar Johar
sejak pagi buta. Dengan bermodalkan selendang lusuh yang mereka miliki, para
buruh gendong tersebut mampu membawa berpuluh – puluh kilogram barang dan
kemudian diupahi dengan uang yang tidak seberapa.
Salah
satunya adalah Ibu Partinah, buruh gendong yang tinggal di Karang Tengah,
Demak. Demi mencukupi kebutuhan keluarga, buruh gendong yang sudah berusia 47
tahun itu, setiap harinya harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan sepeda
motor. Dengan usia yang sudah tidak lagi muda, beliau dapat mengangkut barang
bawaan sekitar 60 – 65 kilogram, dengan hanya bermodalkan kain lusuh yang
beliau gunakan sebagai penopang dipunggungnya. Menurut, Ibu yang memiliki tiga
orang anak dan tiga orang cucu tersebut, beliau hanya dibayar sekitar lima ribu
rupiah sekali angkut barang, namun apabila sepi pengunjung, terkadang mereka
hanya mendapatkan uang yang cukup hanya untuk makan.
Ketika
kami bertanya lebih dalam kepada Ibu Partinah, ternyata beliau mempunyai suami
yang dulunya sebelum kebakaran, ikut bersama Ibu Partinah menjadi kuli angkut
muatan. Namun, semenjak kebakaran yang melanda Pasar Johar beberapa waktu lalu,
suami Ibu Partinah hanya mengantarkan beliau ke lokasi bekerja setiap setelah
menunaikan sholat shubuh.
Setiap
pekerjaan tentunya mempunyai risiko yang dihadapi, begitu pula dengan apa yang
dialami Ibu Partinah. Sejak sekitar tahun 2003, Ibu Partinah pernah berhenti
bekeja, yaitu ketika beliau jatuh dari tangga saat memikul beban yang berat.
Selama tiga tahun beliau berhenti bekerja, demi menjaga kesembuhan tulang kaki
beliau yang patah. Namun beliau tidak banyak khawatir ketika beliau harus
membayar rumah sakit saat itu karena memiliki organisasi yang setiap bulannya
menarik iuran buruh gendong seperti Ibu Partinah sebesar tiga puluh ribu tiap
bulan, yang kemudian pada akhirnya ketika Ibu Partinah mengalami patah tulang,
beliau tidak membayar pengobatan sepeser pun.
Dua
puluh tujuh tahun ibu Partinah menggendong belanjaan orang lain. Upah yang
kecil tidak menjadi alasan Ibu untuk mengeluh dan marah pada keadaan. Semua tampak
baik-baik saja sampai kebakaran hebat membakar pasar Johar beberapa minggu
lalu. Sebuah degradasi yang kentara ketika mengetahui fakta bahwa jam kerja
Ibu-ibu perkasa ini dipotong hingga lebih dari separuhnya. Para pedagang yang
sedianya bongkar muat berkurang, pembelinya pun pergi. Ibu Partinah menuturkan
bahwa banyak rekan-rekannya yang berhenti bekerja setelah Johar hangus. Hal
yang sama terjadi pada suaminya yang bekerja sebagai kuli pasar. Namun dibalik
musibah yang dalam, kami melihat ketegaran ibu Partinah dan teman-teman
seperjuangannya. Musibah memang tiada yang bisa mengatur selain Sang Pencipta,
ibu Partinah ikhlas menghadapi keadaan dan tetap bekerja dengan semangat.
Sepenggal hikmah yang bisa kita ambil sebagai mahasiswa untuk mengabdikan ilmu
pada masyarakat layaknya ibu Partinah.
Dewasa
ini jika kita berpikir dengan logika, tentu saja Ibu Partinah dan keluarga
sangatlah berkekurangan dalam hidupnya. Apalagi ditambah Pasar Johar yang
kemudian terbakar dan melumpuhkan pekerjaan beberapa pemiliknya. Namun,
kesulitan – kesulitan hidup tersebut nyatanya tidak Ibu Partinah gerutukan
sedimikian kejinya, karena beliau terus berpesan dan mensyukuri hidup meski
tidak hanya seberapa rezeki yang harus mereka usahakan setiap harinya.
Menurut
kami, sudah saatnya pemerintah mulai memahami apa saja kesulitan – kesulitan
yang dimiliki oleh setiap rakyatnya. Kemudian, memberikan jaminan serta
memperdulikan nasib rakyat kecil dengan baik. Itulah sebabnya, betapa kejinya
seorang koruptor ketika mereka sedang melakukan aksinya, kemudian disisi lain
uang yang mereka makan merupakan hak – hak rakyat yang berkekurang seperti
keluarga Ibu Partinah, yang posisinya Ibu Partinah juga ikut membayar pajak
setiap tahunnya. Jika saja, ada kebijakan – kebijakan yang baik dan segera
memberikan jaminan kehidupan lebih layak terhadap para ibu buruh gendong yang
ada, pasca kebakaran Pasar Johar
tentunya akan mengurangi beban mereka dan kembali menhidupkan perputaran
perekonomian Pasar Johar yang sempat lumpuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar