dikenal oleh orang-orang di sekitar untuk sebagian manusia adalah hal yang menyenangkan. ketika sendirian tidak akan merasa kesepian karena banyak kenalan yang dapat diajak berinteraksi. dikenal juga berarti penjelas bahwa diri diperhatikan oleh orang lain. sebagai makhluk sosial, wajar bila kita merasakan hal ini. baik kamu termasuk orang yang ekstrovert maupun introvert sekalipun. merasa dianggap adalah hal yang membuat kita nyaman berada di satu lingkungan.
dalam hierarki kebutuhan yang dijelaskan oleh Abraham Maslow, ini menjadi tingkat keempat yaitu penghargaan. tentu menjadi ruang tersendiri bagi kita apabila kita dihargai oleh orang lain, terlebih orang-orang yang kita sayangi. bahkan sering kali kepada mereka kita ingin menunjukkan yang terbaik yang bisa kita perbuat. adalah perbuatan yang baik bila kita ingin memberikan yang terbaik untuk mereka. dampaknya kita akan lebih dihargai oleh pencapaian itu. semakin tinggi pencapaian maka semakin tinggi juga nilai kita dimata orang.
baik, sampai sini saya mulai merasa ada yang ga beres.
keinginan untuk membuat nilai diri sendiri dimata orang semakin tinggi kerap menimbulkan masalah. sejalan dengan pencapaian dan didukung perluasan relasi maka muncullah polularitas. menurut KBBI, Popularitas adalah tingkat kepopuleran seseorang dalam suatu komunitas sosial. dalam arti yang mudah popularitas adalah level dimana seseorang dikenal oleh masyarakat luas. popularitas bisa diperoleh dari bidang yang dicapai seperti atlet, politisi, selebriti, hingga seniman. semakin popular sesorang maka orang itu makin banyak dikenal.
dengan popularitas seseorang dapat meningkatkan nilai dirinya dimata orang lain sebab sudah banyak yang mengenalnya. namun dibalik itu ada banyak orang yang terjebak dalam popularitas. walaupun dikenal, menjadi popular tidaklah kekal, ada masa dimana sinar popularitasnya akan meredup dan orang akan melupakan namanya, seperti lirik lagu dari Ed Sheeran; "...and (when) the crowds don't remember my name..."
disinilah kadang kita tidak sadar ketika sudah mulai dilupakan kita masih merasa terkenal, maka timbullah star syndrome. istilah terakhir berdefinisi melupakan kehidupannya sebelum terkenal.
itulah yang hamper terjadi pada saya
bagi saya mendapatkan banyak like dalam media sosial adalah bukti bahwa orang lain memperhatikan saya, mengetahui kehidupan saya, dan ingin tahu lebih banyak.
setiap unggahan saya nantikan berapa yang like, love, atau memberi komentar.
makin hari makin meningkat,
hingga saya mendapatkan posisi yang membuat saya dikenal di lingkungan saya
saya menjadi populer
setiap berjalan tidak mungkin orang lain tidak menyapa lebih dahulu.
bahkan seringkali saya lupa nama mereka dan hanya saya lemparkan senyum. saat itu menyenangkan sekali dikenal oleh orang lain, menjadi buah bibir di mana-mana.
saat itu bila saya unggah momen, semakin banyak yang like=semakin banyak yang peduli.
saya semakin senang
sampai akhirnya masa terkenal saya sudah berakhir, agaknya saya merindukan masa sebelumnya. dikenal, disapa, di elu-elukan. pernah saya berpikir untuk membuat diri saya tetap dikenal tanpa embel-embel pencapaian.
akan tetapi saya kemudian tersadar oleh seorang teman untuk berhati-hati dengan star syndrome. mendambakan selalu terkenal sampai lupa diri dan orang-orang yang disayang. mungkin terbaca berlebihan, tapi memang penyakit itu ada sesuai kadarnya. bias orang yang terkenal sekali hingga orang yang popular di kompleknya saja. kemudain saya mulai menyadari bahwa saya tidak perlu popularitas untuk menjadi diri saya sendiri. mereka akan datang ketika saya pantas mendapatkannya. saya rasa saya ingin berubah sejak itu dan masih saya usahakan hingga saat ini karena popularitas adalah ujian, dan ujian harus dilewati dengan baik. mulai saat ini saya tidak suka menjadi populer.
terima kasih, semoga menginspirasi.
"Hindarilah popularitas jika anda menginginkan kedamaian"
- Abraham Lincoln-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar