Selasa, 18 Juni 2013

Terumbu Karang di Indonesia yang Rame dimana

Assalamualaikum wr wb.

tengah malem nih. terhitung jam 02.15. tiba tiba aja kebangun jam satu tadi gara-gara kedinginan disini. di kamar saya yang supernyaman ini memang didesain ramah lingkungan tanpa menggunakan AC. yaa positif  negatif deh. positifnya kalo siang panas pengapnya minta ampun kalo tengah malem gini dinginnya nyamain AC dibawah, padahal saya gatahan dingin dingin haha kok jadi curhat?

gapapa lah  curhatnya juga sama blog sendiri ya ngga? *ngerangkul laptop*

hari sabtu kemarin kebetulan saya habis datang ke SMA 13 Jakarta utara untuk mengikuti acara tentang GreenSchool yang diberi judul "Galas Youth Movement". event yang disingkat menjadi GYM ini bertujuan memberikan penyuluhan kepada kaum anak SMA tentang bagaimana memiliki kehidupan yang ramah lingkungan dengan cara yang asyik seperti menggunakan kertas daur ulang untuk menulis, menggunakan kembali kardus yang tak terpakai menjadi alas karya seni tiga dimensi, sampai permainan seru menggunakan limbah plastik dan kertas.

selain memberikan sarana yang seru, panitia juga mengadakan penyuluhan mengenai dampak penggunaan styrofoam bagi manusia dan lingkungan. ada banyak sekali hal yang dijabarkan mengenai bahan pembungkus makanan itu disana namun namun cangkupan tulisan ini belum kesana ya.

selepas acara saya dihampiri oleh kak Syifa namanya, aktivis Teens Go Green Jakarta Utara. Dia memberitahu saya ada sebuah event yang mengharuskan pesertanya membuat naskah tentang terumbu karang. uhm sebenarnya saya belum mengerti benar apa yang dimaksud dgn "naskah" disini? apakah sebuah cerita pendek atau sinopsis film?
sampai tulisan ini dimuat saya belum juga mengerti, padahal deadline menyerahkan naskahnya besok.
AKH.. woles deh

naaah jangan khawatir boss walaupun saya belum buat naskah, saya telah menggagahi google mencari bahan tulisan bagus tentang terumbu karang. banyak juga yang baru saya ketahui setelah membacanya.

maaaf bgt saya cuma bisa copas disini hehe semoga suatu saat bisa bikin artikel sendiri deh. aminn


Penyebaran  Terumbu  Karang di  Indonesia
Daerah Asia-Mediterania yaitu laut di dalam dan di sekitar kepulauan Indonesia dari bagian utara Australia sampai bagian selatan China memilki daerah terumbu karang yang luas, yaitu sekitar 182.000 km2 yang merupakn 30% dari total daerah terumbu karang di dunia. Khusus mengenai terumbu karang, Indonesia di kenal sebagai pusat distribusi terumbu karang untuk seluruh Indo-Pasifik. Indonesia memilki areal terumbu karang seluas 60.000 km2 lebih. Sejauh ini telah tercatat kurang lebih 354 jenis karang yang termasuk ke dalam 75 marga (Wells (1986) dalam Kunarso 2008).
Terumbu karang (Coral Reefadalah ekosistem khas daerah tropis dengan pusat penyebaran di wilayah Indo-Pasifik. Terbatasnya penyebaran terumbu karang di perairan tropis dan secara melintang terbentang dari wilayah selatan Jepang sampai utara Australia dikontrol oleh faktor suhu dan sirkulasi permukaan (surface circulation). Penyebaran terumbu karang secara membujur sangat dipengaruhi oleh konektivitas antar daratan yang menjadi stepping stones melintasi samudera. Kombinasi antara faktor lingkungan fisik (suhu dan sirkulasi permukaan) dengan banyaknya jumlah stepping stones yang terdapat di wilayah Indo-Pasifik diperkirakan menjadi faktor yang sangat mendukung luasnya pemencaran terumbu karang dan tingginya keanekaragaman hayati biota terumbu karang di wilayah tersebut (Anonim, 2008).
 Terumbu karang di Indonesia ditemui sangat berlimpah di wilayah kepulauan bagian timur (meliputi Bali, Flores, Banda dan Sulawesi). Namun juga terdapat di perairan Sumatera dan Jawa. Indonesia menopang tipe terumbu karang yang bervariasi (terumbu karang tepi, penghalang dan atol). Namun tipe terumbu karang yang dominan di Indonesia ialah terumbu karang tepi. Terumbu karang tepi ini dapat dijumpai sepanjang pesisir Sulawesi, Maluku, Barat dan Utara Papua, Madura, Bali, dan sejumlah pulau-pulau kecil di luar pesisir Barat dan Timur Sumatera. TipePatch Reefs (terumbu karang yang mengumpul) paling baik terbentuk di wilayah Kepulauan Seribu, sedangkan terumbu karang penghalang paling baik terbentuk di sepanjang tepi Paparan Sunda, bagian Timur Kalimantan dan sekitar Kepulauan Togean (Sulawesi Tengah). Terdapat pula beberapa atol, contohnya Taka Bone Rate di Laut Flores merupakan atol terbesar ketiga di dunia. Kondisi terumbu Karang Indonesia mengalami penurunan drastis hingga 90% dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Total terumbu karang Indonesia yang mencapai 85.200 km2, terluas ke dua di dunia setelah Great Barrier Reefitu tercatat 40 persen diantaranya berada dalam kondisi rusak, rusak sedang 24 persen, dan sangat baik hanya enam persen (Iwan, 2009).
Beberapa faktor rusaknya terumbu karang di Indonesia disebabkan karena aktivitas manusia, di antaranya adalah membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemari air laut, penggunaan pupuk dan pestisida buatan pada lahan pertanian turut merusak terumbu karang di lautan, boros menggunakan air (semakin banyak air yang digunakan semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan akhirnya mengalir ke laut), membuang jangkar pada pesisir pantai, penambangan pasir atau bebatuan di laut dan pembangunan pemukiman di pesisir, limbah dan polusi dari aktivitas masyarakat di pesisir secara tidak langsung berimbas pada kehidupan terumbu karang, pengambilan karang untuk bahan bangunan dan hiasan akuarium, menangkap ikan di laut dengan menggunakan bom dan racun sianida, dan selain karena kegiatan manusia, kerusakan terumbu karang juga berasal dari sesama mahkluk hidup di laut seperti siput drupella salah satu predator karang (Juliana, 2011).
Karang cenderung memutih apabila suhu meningkat tajam dalam waktu yang singkat atau suhu meningkat perlahan-lahan dalam jangka waktu yang panjang. Gangguan alam yang lain yang dapat menyebabkan pemutihan karang yaitu tingginya tingkat sinar ultra violet, perubahan salinitas secara tiba-tiba, kekurangan cahaya dalam jangka waktu yang lama, dan penyakit. Faktor pengganggu lainnya adalah kegiatan manusia, mencakup sedimentasi, polusi dan penangkapan ikan dengan bahan peledak. Rusaknya terumbu karang mengakibatkan sumber rantai makanan juga hilang. Akibatnya, selain nelayan kian sulit menangkap ikan, udang atau biota laut lainnya, pertumbuhan dari biota tersebut juga lambat (Iwan, 2009).



ugh, yang saya bold miris sekali ya kawan
saya akan post yang lainnya nanti, 

Wassalamualaykum Wr. Wb

3 komentar: