Jumat, 07 September 2018

Adil Sejak dalam Pikiran; Politik Bulan Ini

apa yang terlintas dalam benak ketika melihat dinamika politik negara sekarang ini? (September 2018) gaduh dan tidak kondusif. di berbagai media pihak-pihak politisi beradu argumen hingga berlebihan. durasi dalam beradu pandangan pun tidak tahu waktu. teringat sejak 2016 tepatnya menjelang pilkada DKI Jakarta, kisruh politik di negeri ini tidak pernah benar-benar mereda. terkadang berisik, kemudian diam sebentar, lalu tidak lama kembali ribut.

saya merasa ada tiga masalah utama dalam kisruh politik ini; perbedaan pandangan politik dengan sikap tidak saling menghargai pendapat orang lain, kurangnya toleransi satu sama lain, dan tenggang rasa diantara masyarakat benar benar buruk dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia. jangankan di tingkat politisi diatas sana, di warung-warung kopi, kampus, sekolah, hingga grup whatsapp keluarga pun menjadi arena perdebatan politik yang tidak ada habisnya. habis kasus A, muncul kasus B. seakan-akan situasi ini ingin terus dihangatkan hingga pilpres tahun depan. sedangkatn 2019 masih tiga perempat tahun lagi yang mana masih lama, apakah situasi yang ribut ini akan mampu kita sebagai masyarakat tahan?

sebagai contoh kemarin:
indonesia saat ini sedang dilanda krisis kurs rupiah yang diakibatkan banyak hal. rupiah turun hingga 11% hingga minggu pertama bulan september ini. masyarakat berlomba-lomba mengidentifikasi penyebab mengapa rupiah bisa melemah hingga sedemikan drastis. kubu pemerintah menyalahkan beberapa faktor eksternal (perang dagang AS dan China, ekonomi argentina dan turki, dll) yang menjadi penyebab terjadinya masalah. sedangkan pihak oposisi menyalahkan pemerintah yang lamban dalam menangani penurunan nilai rupiah.

apakah kedua pendapat itu benar?
YA! kedua kubu sama sama memiliki dasar dalam menganalisa masalah. masak sih setingkat menkeu dan menko perekonomian menangani krisis tidak bisa. pihak oposisi pun sebenarnya membantu pemerintah dengan memberi alternatif solusi walaupun dengan posisi menyerang

dua duanya benar, akan tetapi masih banyak masyarakat saling menyalahkan. menyalahkan kubu pemerintah dan yang lain menyalahkan kubu oposisi. lihat? padahal kedua sisi memberikan masukan yang berharga untuk perekonomian Indonesia akan tetapi masih saling mengalahkan untuk kepentingan yang bukan kepentingan umum.

kedua sisi menginginkan keadilan
tapi belum adil sejak dalam pikirannya sendiri

untuk siapakah semua pertikaian ini?
untuk keadilan bagi siapa?
saya sebagai rakyat biasa tidak mendapat pengaruh apapun dari debat politisi yang setiap hari ada di TV, ketika mereka membuang tenaga, emosi dan argumen, masyarakat tidak mendapatkan efek sedikitpun.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar