Upacara Bercanda
Disebuah sekolah negeri di tengah
kepenatan ibukota, terlihat seseorang yang datang dengan pandangan ganjil bagi
anak-anak sebaya disekitarnya. Para remaja itu memperhatikannya dengan seksama
terhadap gayanya berjalan, belah pinggir rambutnya, celananya yang biasa namun
dianggap gombrong, serta cara pandangnya yang ramah. Akan tetapi pandangan itu
asing bagi murid-murid SMP itu. Anak berbadan proporsional itu tidak sendiri,
disampingnya ada Ibu Dewi yang mengantarnya menuju kelas.
“Eh, siapa tuh can? Anak baru deh
kayaknya, freak banget gayanya hahaha” ujar Jonni pada Chandra yang duduk di
sebelahnya.
“iya Jon, kayaknya anak baru abis
digandeng Bu Dewi tuh” jawab Chandra.
“Masuk kelas mana ya dia?” sambung
Jonni.
Akhirnya anak baru tadi masuk ke
kelas delapan tempat Jonni dan Chandra berada. Saat Dia masuk, semua tatapan
tertuju padanya. Geli sekali murid-murid kelas ini yang melihatnya, bajunya
yang sedikit kumal membuatnya terlihat rendah dimata yang lain, beberapa anak
dibelakang tertawa mengejek setelah melihatnya. “gembel dari TPS mana tuh?”
ucap mereka sambil menahan tawa yang lain pun ikut tersenyum hina. Tidak ada
seorangpun yang menyerahkan tempat duduk sebelahnya untuk Dia. Tetapi anak baru
yang satu ini mengacuhkannya, tatapannya yakin sekali, entah bagaimana bisa
ditengah cemoohan banyak anak ini dia bertahan, padahai inilah kali pertamanya
tinggal di kota.
“haloo teman teman, Perkenalkan nama
saya Joko.” Ucapnya memulai perkenalan didepan kelas.
“Joko ape? Joko Tingkir?” celetuk
Bryan dipojokan.
“Bukan, nama saya Joko Wibowo, saya
pindahan dari Kupang Nusa Tenggara Timur.”
“Oh, Sumber air sudekat ya?” sela
Jonni yang sontak membuat seluruh isi kelas tertawa, Faisal pun menggebrak meja
saking gelinya. Joko yang sedang berdiri didepan hanya tersenyum datar
memperhatikannya, tidak ada rasa tersinggung ataupun marah diatas wajahnya.
“eeeh, sudah sudah, kok jadi ribut sih?
Sudah maaf ya Joko, kelas ini berisik sekali.” Kata Bu Dewi setelah bangkit
dari kursinya.
“iya tidak apa Ibu, saya juga harus
menyesuaikan dengan lingkungan saya yang baru ini.
Kemudian,
kelas 8-B melanjutkan kegiatan dengan belajar. Joko yang diminta Ibu Dewi untuk
duduk disebelah Bryan di pojok-kanan-belakang bersama anak-anak yang sering
bercanda. Karena lingkungan, Bryan, Chandra, dan Jonni berkenalan lebih jauh
dengan Joko. Joko adalah anak pindahan dari NTT, dan kenapa namanya Joko yang
seperti nama anak Jawa kebanyakan, Joko sebenarnya lahir di Banyumas Jawa
Tengah namun karena Ayahnya seorang Polisi yang sering pindah Dinas, Jono pun
menghabiskan masa SDnya di Kupang, Joko menceritakan pengalamannya sekolah di
Desa yang jauh dari peradaban, tidak ada listrik, yang ada hanya lampu ublik,
tidak ada jembatan, hanya ada tali penghubung antara bantaran sungai. Jarak rumahnya
dengan Sekolah pun sepuluh kilometer dengan.
“wah naik apa lo kesekolah?” Tanya Bryan.
“ya jalan kaki, soalnya naik turun
gunung.” Jawab Joko singkat.
“Gue sih mendingan gausah sekolah
kalo begitu.” Sambar Jonni sembari menggeliat di bangkunya kemudian
menggeletakan kepalanya di meja. Joko melanjutkan ceritanya. Suaranya pun
semakin bersemangat ketika menjelaskan perjalanannya dengan teman-teman disana
yang penuh petualangan, namun semuanya sangat bersemangat ke sekolah, walaupun
sekolah mereka mau roboh sekalipun, mereka tetap rajin datang ke sekolah. Dengan
perlengkapan seadanya, mereka pantang telat datang ke sekolah.
Joko melihat adanya perbedaan
mendasar pada apa yang Ia alami di Kupang dengan di Jakarta sekerang. Bryan dan
Chandra setelah itu sibuk mengobrol tentang motornya masing-masing sementara
Jonni sudah ditidurkan headset-nya sejak tadi. Tas mereka pun terlihat kemps dan
benar saja ketika ditanya, mereka hanya membawa 2 pasang buku, dan baju futsal
untuk eskul. Jika dilihat kedepan, hanya paling tidak dua baris di depan yang
mendengarkan pelajaran sang guru, sisanya sibuk dengan obrolan, mainan sendiri,
sampai terlelap kedalam mimpi. Hal-hal seperti itu membuatnya risih.
Sepulang sekolah Joko diajak oleh
mereka bertiga untuk pergi “nongkrong” katanya, Joko tidak begitu mengerti
kegiatan apa itu. dengan motor yang mereka titip di belakang sekolah, mereka
menuju sebuah warung yang tidak jauh dari sana. Lalu Joko duduk di pinggir
warung, betapa terkejutnya Joko terhadap apa yang dilihatnya; beberapa teman
seangkatan dan kakak kelasnya yang berada disana merokok dan bermain judi
Rollet, sejumlah yang lain tengah asyik mengerubungi sebuah Handphone di
pojokan, entah sedang apa.
Tiba tiba seseorabg datang merangkul
Joko yang sedang melamun, “hey, lo anak baru ya? Kenapa kok ngeliatnya takut
banget, disini mah santai aja sama kita-kita”
“eh maaf kenapa kalian merokok dan
Judi disini?” Tanya Joko polos
Jawabanpun harus diawali dengan tawa “ya
memang kenapa? Santai aja nggak ada yang ngelarang kita kali boy” jawab lawan
bicaranya yang ternyata kakak kelas Joko.
Mengapa
disini benar benar berbeda? Ada apa sebenarnya, padahal mereka punya segalanya. Kata
Joko dalam hati. “oh iya maaf saya harus kembali ke rumah sekarang!” sergasnya.
Selajutnya Joko bergegas kembali kerumah dengan perasaan mengganjal, tidak enak
sekali didalam dada. Semua yang dilihatnya benar benar berbeda dari apa yang diharapkan.
Kemilau kota besar ternyata mampu membuat silau pendangan anak remajanya
terlupa akan tugas dasarnya sebagai pelajar, yang dapat Joko simpulkan adalah
dengan adanya semua fasilitas, bukannya membuat mereka terpacu dengan tugas
mereka tetapi justru menjadi ranjang empuk yang mampu memindahkan konsentrasi
mereka.
Joko merasa miris melihat tingkah laku
teman teman barunya yang merasa dunia milik mereka sendiri, tak ada aturan, tak
ada tata karma, bebas semau hati. Tentu ini akan membuat kemauan mereka dengan
pihak lain berbenturan. Puncaknya adalah saat upacara bendera pada hari senin
ini. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu Pak Sugi menyiapkan barisan upacara
namun barisan tak kunjung rapih, para siswa justru sibuk dengan obrolan mereka
hingga suara sound system yang diproduksi pita suara pak Sugi tak mampu
menjangkau telinga mereka. Sulit sekali bagi mereka untuk melangkahkan kaki
menuju lapangan upacara. Akhirnya sampai lima belas menit barisan dapat diatur,
itupun masih kurang rapih. Karena waktu sudah terulur banyak, upacara pun
dimulai. Sebenarnya semua sesuai susunan acara, tetapi banyaknya siswa yang
mengobrol membuat suasana tidak kondusif apalagi untuk khidmat. Joko yang
dahulu menjadi komandan upacara di sekolahnya merasa amat geregetan dengan apa
yang dilihatnya. Saat pengibaran bendera merah putih bahkan masih ada suara
menggerutu dari arah belakang barisan. Jokopun mencoba untuk memejampan mata
agar dapat tenang merasakan pengibaran, namun itu tidak berhasil. Jiwa muda
Joko pun bergejolak. Saat barisan diistirahatkan, Joko bergerak, berlari kearah
Podium, dan mengambil alih mikrofon.
“Selamat Pagi semua, senang bisa hadir
dalam upacara hari ini, tapi ada yang mesti diganti. menurut Ini bukan upacara
bendera, ini upacara Bercanda. Apakah apa acara bercanda dan mengobrol disini,
saya minta maaf yang sebesar besarnya kepada semuanya atas kelancangan saya
mengambil alih mikrofon apalagi saya baru seminggu disekolah ini. Bukanlah sesuatu
yang biasa penyebabnya sampai saya berani kesini. Tapi izinkan saya bercerita
tentang tempat tinggal saya yang lama, yang jauhnya dengan sekolah sepuluh
kilometer, yang melewati jembatan gantung, yang harus ditempuh keluar masuk
hutan, naik turun gunung. Tapi kami semangat belajar disekolah biarpun sekolah
kami reot, tidak ada jendela, daun pintu pun keropos. Kami ingin sekali
mengejar impian kami. Setelah saya lihat disini, sangat memalukan. Kita punya
segalanya, tapi kita lupa, untuk apa kita ada disini, kita Cuma buang-buang
waktu hey. Saya atau mungkin kita semua pasti ingin memajukan bangsa ini. Mulailah
dari diri kalian sendiri. Disaat upacara, mana rasa bangga kita terhadap Negara?
Apakah sudah hilang? Buruk sekali. Lebih baik kita bercermin seperti apa diri
kita. Baru kita bertindak sesuai dengan aturan. Maaf atas kelancangan ini. Terima
kasih.” Tutupnya.
Tiba-tiba sekolah ini bergemuruh keras
olah tepuk tangan seluruh peserta upacara. Joko kembali keposisinya di barisan
dan lebih banyak menutupi wajah. Semua orang mengerti bahwa yang dikatakan Joko
adalah jujur apa adanya, maka tidak ada yang protes karenanya. Semua yang ada
dilapangan salut sekali pada Joko yang luar biasa berani. Setelah itu saat menyanyikan
lagu nasional Satu Nusa Satu Bangsa semua siswa menyanyi dengan lantang dan
keras.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar