Minggu, 23 September 2018

Mengalir dan Suci Lagi Menyucikan

Sepertinya aku yang sedari dulu menolak untuk menyamaratakan kehidupan seperti air mulai menemukan kesegaran dari pribahasa itu. Aku melihat aliran sungai di seberang rumah, aku membayangkan jadi apa sebelumnya air-air ini. Apakah dari mata air gunung nun jauh disana. Atau kah bermula dari cucian piring bibi pagi tadi.

Kemudian Aku menyadari setiap molekul air yang ada di sungai memiliki kisahnya sendiri-sendiri, aku membayangkan apakah dalam aliran yang riuh itu mereka berbagi cerita tentang apa yang mereka alami? Bila benar akan menjadi ruang yang indah sungai itu.

Seorang sahabat mengatakan bahwa dahulu ayahnya pernah memberi nasihat, "bahwasanya air wudhu yang mengalir dan suci lagi menyucikan adalah filosofi yang relevan bagi kehidupan kita." Sebagai insan Allah kita harus mengalir, memberikan manfaat bagi lingkungan yang kita lalui dalam perjalanan hidup. Kita pun patut untuk memberikan kebaikan (menyucikan) bagi manusia lain yang berhubungan dengan kita. Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah sebaik-baiknya pribadi.

Aku lihat lagi dalam aliran air. Mereka tidak perduli mau mereka berasal dari air gunung yang segar, air hujan, maupun air bekas toilet, mwrmer tetap mengaliri persawahan, menjadi habitat bagi makhluk hidup dalam sungai. Baik atau buruknya mereka tetap bermanfaat bagi alamnya.

Aku menuliskannya dalam catatanku agar nanti aku dapat membacanya lagi dan mengingat bahwa aku pernah mendapatkan ilmu yang baik bahkan dari hal kecil seperti air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar