sekarang kita lebarkan lagi pembahasan kita. kalau kemarin sampai keluarga, sekarang coba tengok kanan tengok kiri, kelompok apa aja yang ada di sekitar kita. mungkin ada kelompok sepeda yang biasa tiap minggu gowes atau kelompok majelis ta'lim atau pengajian malam. banyak banget deh bisa dibayangkan kalo kita hidup tanpa kelompok pasti nggak teratur.
Kelompok-kelompok tersebut pasti punya struktur agar kelompok itu bisa jalan dan pekerja dengan baik. dan dari segambreng kelompok itu pasti kamu termasuk salah satu atau beberapa organisasi di lingkungan rumah atau sekolah.
Nah, yang saya angkat ini adalah mengenai kepala dari suatu organisasi. pemegang stir kelompok. Biasanya diisi oleh ketua. coba perhatiin organisasi di sekitar kamu, ada ngga yang setiap periode selalu jalan dan bekerja? kalo ada bandingin sama organisasi yang ada jadwal ketemu tapi malah jarang ketemu dan organisasi itu nggak jalan.
saya suka main futsal disekolah. Tapi saat saya kelas 10 saya urungkan niat untuk ikut ekskul futsal karena biaya yang besar untuk masuk futsal. saya tertawa mengapa hanya untuk ikut ekskul ini saja harus keluar banyak. Ini kan cuma main futsal. Usut punya usut setelah beberapa hari saya di SMA, saya kagum juga dengan ekskul ini. Futsal di SMA saya sangak teknikal dan sistematis. Tidak semua orang bisa ikut-ikutan, harus daftar terlebih dahulu. Latihannya pun ketat dengan pelatih yang tegas pula. Itu semua diurusi oleh kakak-kakak kelas saya. Ketua futsal pada saat itu Bimo yang lumayan cakap dalam memimpin. bisa merangul teman-temannya dan membangun suasana dalam latihan.
Waktupun bergulir. Tibalah saatnya semua ekstrakurikuler meregenerasi pengurusnya masing-masing. Yang saya perhatikan di tubuh ekskul futsal ini adalah jarangnya frekuensi latihan mereka sejak angkatan Bimo duduk di kelas tiga. sudah seharusnya angkatan saya yang mengurusi ekskul. Tapi yang terjadi adalah jarangnya mereka latihan. Jika dilihat, angkatan saya yang masih rajin latihan hanya Awb, Paris, dan Arif. mereka niat latihan, namun saya rasa mereka kehilangan orang yang bisa mereka percayakan untuk mengadakan latihan mingguan. walhasil, kelas X yang semangat latihan menjadi bingung, alumni yang dahulu menggawangi ekskul futsal pun geram.
Adakah yang mesti disalahkan dalam kejadian ini. Disetiap pihak pasti memiliki sudut yang disalahkan. tapi kalau kita lihat dari jauh tidak ada yang bisa disalahkan karena semua orang mengalami proses kepemimpinan masing-masing. Nggak semua orang bisa lulus atau nggak semua orang ingin jadi pemimpin.
dari kasus ini bisa ditarik kesimpulan bahwa ekskul Futsal ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. sebuah hal biasa yang dialami suatu kelompok setelah berganti rezim. memang hal yang wajar tapi tahukah kamu pada masa kerajaan Majapahit, setelah patih Gajah Mada meninggal dan tiada lagi yang mampu menandingi kepemimpinannya, kerajaan tersebut perlahan hancur. Makanya semua orang seharusnya sudah menjadi pemimpin minimal memimpin diri sendiri agar siap memimpin orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar