hal yang menarik adalah saat bel pulang sekolah sudah berbunyi. Niat saya saat itu adalah selepas shatal ashar saya akan meluncur langsung pulang kerumah. Tapiiii keluar dari masjid Al Arif tercinta, mental saya digedor oleh suara tendangan bola dilapangan, kemudian datang suara yang merobohkan keyakinan saya yang lemah.
"hoy, Alfa sini main Bola" teriak Respati dari tengah lapangan. Tidak butuh waktu lama, saya pun langsung berlari menghampiri bola, membuka tas, lalu bergabung dengan teman-teman yang lain bermain Bola. das..das..das beh nikmat banget sob sebab inilah hobi saya yang bener bener tapi nggak sempet saya salurkan.
nih dia tim rohis yang kerjaannya main futsal mulu pulang sekolah
oke lanjut. waktupun cepet banget berlalu dan seperti menghilang beberapa saat, tiba-tiba jam sudah menunjukan pukul 16.45. Bah, sampe rumah jam berapa nih? pikir saya kemarin dengan pulang jam 17.00, sampai rumah jam 18.40, itu saya lalui dengan lewat plumpang, rawabadak, kebon baru, dan cilincing, padahal sekolah dicempaka putih, rumah rorotan. hmm kemarin saya terpaksa lewat situ karena di pulogadung pasti macet total dan tidak ada celah untuk bernapas karena asap pabrik bercampur dengan asap angkot, bus AKAP, Angkot, truk besar, dan motor macam RX-King atau Vespa.
tapi yang saya alami kemarin justru membuat geregetan, kenapaa? yaiyalah karena ekspektasi saya lewaj jalan kecil seperti ini besar untuk lancar dan cepat sampai rumah. eh kenyataannya di perempatan Rawabadak sudah tidak bisa jalan kalau tidak menyerobot dengan resiko besar, yaitu dimaki-maki pengguna jalan yang lain. dengan banyaknya yang nyerobot+banyak juga kendaraan dari arah lain. singkat cerita, kemacetan sampai kebon baru, Jakarta Utara.
Nah, hari ini nih. karena saya pulang (sedikit) lebih awal dari kemarin, saya berharap agar saya bisa sampai rumah lebih awal dan Pulogadung kesana masih lancar. awalnya benar saja ketika melewati terminal Pulogadung, jalanan lengang sekali dengan jumlah angkot sangat lebih sedikit dari biasanya. tapi kemudian melewati teminal bayangannya yahhh sudah bisa dilihat diatas, macetnya nggak ketulungan, sebab jalan didepan pertigaan menuju Buaran sedang diperbaiki dengan dicor. alhasil jalan yang wajarnya dilalui dalam waktu 3 menit harus diulur jauh sekali hingga 30 menit, 10X lipat broh, gila.
Setelah melewatu United Tractors, pasar cakung, dan Jalan Cakung-Cilincing dengan padat merawap, saya masuk ke Babek dengan lancaar. tapi aaaaahhh di pasar kandang sapi kesana tuh Masya Allah macetnya makin parah. jalan kelurahan yang nggak lebar-lebar banget diisi oleh banyak kendaraan, motor, mobil, angkot jadi satu jalan menuju arah pulang: Rorotan. apalagi banyak persimpangan jalan yang menyumbat arus kendaraan. tapi yang mendominasi ini nih sob:
Omprengan atau yang lazim disebut Angkot Plat Hitam. kendaraan ini puluhan jumlahnya yang bertugas mengantar jemput karyawan KBN (kawasan Berikat Nusantara) Sukapura yang jumlahnya ratusan . jadi bisa dibayangkan saat jam pulang kerja bersamaan semua angkot keluar mengangkut penumpang yang bejibun dalam satu jalur. yah udahlah sabaaar. kemudian saya mengambil inisiatif banting stir motor ke arah jalan kecil di Jalan Rorotan 3 untuk memotong jalan. Tapi sob yang namanya macet itu di Jakarta udah Kronis, susah disembuhin. sampai 3/4 jalan di ujung gang. saya terhenti untuk 20 menit, DUA PULUH MENIT SOB!! bayangin cuma buat keluar gang sempit itu. apa yang saya lakukan sambil menunggu macet? matikan motor, dengarin alunan azan magrib, standarkan motor, take a nap di motor wuuh yaiyalah lagian lama banget.
akhirnya setelah perjalanan panjang nan menyiksa menggunakan motor dari sekolah keruma ditutup dengan sampai kerumah pukul 18.20. Beh kapan ya kemacetan di DKI ini bisa terurai, makin banyak penduduk, makin banyak kendaraan, jalanan banyak yang direparasi, banyak proyek fly over lah, gorong-gorong lah, jalanan banyak lubang lah. bikin Jakarta makin dekil, dan kotor dari segi udara.menurut saya nih sob, perlu adanya kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat. buat pemerintah agar semua proyek diselesaikan secepat mungkin dan perlu adanya penyaringan bagi para kaum urban yang nggak punya KTP DKI, harus tegas sih biar Kota ini nggak makin sumpek bro, banyak orang, terus tata kota dirapihin, masak jalan ini misalnya lebar, terus 1 Km lagi jadi sempit, terus lebar lagi, terus sempit lagi, ya jelas aja macet, mana ada negara lain yang kayak gini. ohya angkutan umum harus diperbaiki sistemnya. nah buat masyarakat sebaiknya jangan menggunakan egonya kebanyakan deh saya menganggap dijalanan orang Jakarta itu serakah dan tidak mau kalah pasti. mengendarai itu asal pelan selamat, sadar diri aja deh biar Jakarta yang kita inginkan dapat terwujud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar