Assalamualaikuuum. Hari ini Alhamdulillah yah punya waktu
buat ngepost lagi hehe. Nah, kali ini saya mau menceritakan tentang kejadian
apa aja yang terjadi kemarin, tanggal 10 November 2012, nahloh hari apa hayo? Ya
Hari Pahlawan dong, masa sebagai anak Indonesia kita lupa.
Sebagai bangsa yang baik kita harus
menghormati jasa para pahlawan nih dengan berbagai kegiatan Positif tentunya. Tanggal
10 kemarin setelah Try Out Matematika dan Sosiologi yang lumayan sulit, saya
mengikuti acara bersama teman-teman dari Rohis SMAN 77 yaitu NOFIBAR atau
kepanjangannya Nonton Film Bareng. Acara ini angkatan saya yang peloporin tahun
lalu, tapi tahun lalu acara kurang sesuai tujuan karena tema film yang diputar
saat itu tidak berbau islami, hanya ada action saja (Battle Los Angelos). Di tahun
ini, karena yang menjalankan adik kelas sebagai program kerja pertama jadi saya
dan teman-teman seangkatan tinggal menonton saja.
Acara dimulai setelah Solat Dzuhur.
Film yang ditayangkan untuk kegiatan ini adalah Al Fatih. Sebuah Film perang
yang menceritakan tentang penaklukan kota Konstantinopel olah tentara muslim
dari Turki Ottoman. Lihat ulasannya berikut:
Istanbul
atau yang dulu dikenal sebagai Konstantinopel, adalah salah satu bandar
termasyhur dunia. Bandar ini tercatat dalam tinta emas sejarah Islam khususnya
pada masa Kesultanan Utsmaniyah, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan
pengaruh Islam di banyak negara. Bandar
ini didirikan tahun 330 M oleh Maharaja Bizantium yakni Constantine I.
Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat Islam
memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium. Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam juga telah beberapa kali memberikan kabar gembira tentang
penguasaan kota ini ke tangan umat Islam seperti dinyatakan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada perang Khandaq.
Selepas
Daulah Utsmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat
jihad hidup kembali dengan nafas baru. Hasrat dan kesungguhan itu telah
mendorong Sultan Murad II (824-863
H/1421-1451 M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Beberapa
usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama
terjadi pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih
fitnah dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak
berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan
Muhammad Al-Fatih (Mehmed II), sultan ke-7 Daulah Utsmaniyyah.
Semenjak
kecil, Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan
Konstantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang
sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya
meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika beliau naik tahta pada tahun 855 H/1451
M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar
tadi. Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya.
Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para ‘ulama terulung di zamannya.
Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Asy-Syeikh Muhammad bin Isma’il
Al-Kurani telah menjadi murabbi Amir Muhammad (Al-Fatih). Sultan Murad II telah
menghantar beberapa orang ‘ulama untuk mengajar anaknya sebelum itu, tetapi
tidak diterima oleh Amir Muhammad. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani
dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah
gurunya.
Waktu
bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sulthan,
Amir Muhammad tertawa. Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa
ini amat berkesan pada diri Amir Muhammad lantas setelah itu dia terus
menghafal Al-Qur’an dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Asy-Syeikh Ak Samsettin (Syamsuddin)
merupakan murabbi Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Amir
Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur’an, hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi
dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.
Syeikh
Ak Samsettin lantas meyakinkan Amir Muhammad bahwa dia adalah orang yang
dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits
pembukaan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui
Syeikh Semsettin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel.
Di hadapan tentaranya, Muhammad Al-Fatih
lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan
memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah Subhana Wa Ta’ala.
Dia juga membacakan ayat-ayat Al-Qur’an mengenainya serta hadis Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini semua
memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka
menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.
Pada
1453 Muhammad Al-Fatih memulai pengepungan Konstantinopel dengan pasukan antara
80.000 sampai 200.000 pasukan dan dari 320 kapal angkatan laut. Kota ini
sekarang dikelilingi oleh laut dan tanah; armada di pintu masuk Bosphorus yang
membentang dari pantai ke pantai dalam bentuk sabit, untuk menangkal atau
menolak bantuan apapun dari laut untuk dikepung.
Pada
awal April, Pengepungan Konstantinopel dimulai. Beberapa serangan menemui
kesulitan, tembok kota Konstantinopel berhasil dipertahankan walaupun telah di
bombardir dengan menggunakan Meriam Orbán baru, sebuah meriam mirip dengan
meriam Dardanella. Pertahanan Konstantinopel begitu kuat bahkan Pelabuhan
Golden Horn diblokir oleh rantai booming dan dipertahankan oleh 28 kapal
perang. Pada tanggal 22 April Muhammad Al-Fatih mengangkut kapal perang
ringannya melewati daratan memutari koloni Genoa Galata menuju Golden Horn
pantai utara; delapan puluh kapal diangkut dari Bosphorus setelah membuat
paving dari kayu sepanjang kurang lebih satu mil. Setelahnya pasukan Bizantium
membentang lebih panjang lagi lagi dari panjang dinding. Konstantinopel
berhasil ditaklukkan pada tanggal 29 Mei setelah pengepungan lima puluh tujuh
hari, kemudian Muhammad Al-Fatih memindahkan ibukota Utsmani dari Adrianopel ke
Konstantinopel.
Setelah
Jatuhnya Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih mengklaim gelar “Kaisar” Roma
(-Kayser i Rûm)”, meskipun klaim ini tidak diakui oleh Patriark Konstantinopel,
atau Kristen Eropa. Klaim Muhammad Al-Fatih mengacu pada konsep bahwa
Konstantinopel adalah pusat Kekaisaran Romawi, setelah transfer modal ke
Konstantinopel pada tahun 330 sebelum masehi dan jatuhnya Kekaisaran Romawi
Barat. Muhammad Al-Fatih juga memiliki garis keturunan darah keluarga
Kekaisaran Bizantium, sebagai pendahulunya seperti Sultan Orhan ia telah
menikah dengan seorang putri Bizantium. Dia tidak hanya berhak untuk mengklaim
sebagai gelar, karena ada Kekaisaran Suci Romawi di Eropa Barat, yaitu Kaisar
Frederick III, yang setelah dilacak garis keturunannya merupakan keturnan dari
Charlemagne yang memperoleh gelar Kaisar Romawi ketika ia dimahkotai oleh Paus
Leo III
di tahun 800 – walaupun tidak pernah diakui oleh Kekaisaran Bizantium.
Kalo penasaran ada trailernya nih:
Kalo penasaran ada trailernya nih:
Demikian
kisah tentang kepahlawanan Sultan Muhammad Al Fatih dalam memperjuangkan umat
islam dimasanya dengan merebut kota Konstantinopel. Sultan tidak melancarkan
serangan tanpa strategi yang matang. Beliau membuat meriam raksasa untuk
menghancurkan tembok Konstantinopel. Hasilnya luar biasa, dengan kuasa Allah
SWT, tembok yang mahatebal tersebut hancur seketika.
Kawan,
banyak hal yang dapat kita perolah dari Sultan Muhammad Al Fatih diantaranya:
1.
Sejak baligh beliau tidak pernah meninggalkan solat
wajib dan sunahnya
2.
Pantang menyerah dalam pertempuran
3.
Tetap Optimis menggempur Konstantinopel walau
disara mustahil karena banyak raja Islam yang gagal menaklukannya
4.
Mampu menciptakan strategi yang ampuh dengan
cerdas.
5.
Mampu menyihir segenap prajurit untuk berperang di
jalan Allah SWT tanpa kenal takut.
6.
Tidak takut pada siapapun selain Allah.
7.
Berlatih dan belajar ilmu agama serta perang sejak
kecil
Masih banyak lagi teladan yang
bisa kita ambil dari sosok Sultan Muhammad Al Fatih. Yang jadi pertanyaan
sekarang adalah, Bisakah umat muslim sekarang melakukan hal yang sama terhadap
kaum kafir yang menginjak-injak martabat umat Islam. Menurut saya perlu adanya
doktrinasi Jihad yang kuat (yang saya maksud bukan terorisme), maksudnya tetap
tawakal pada Allah dan tidak takut untuk memerangi kebathilan sekecil apapun. Saya
berharap semua Umat muslim tidak takut mengatakan bahwa hal ini salah atai hal
itu salah, bukannya menjadi pengikut saja dan Cuma bisa mengangguk saat
diberikan godaan. Semoga semangat Sultan Muhammad Al Fatih bisa merasuki jiwa
kita semua, amin.
untuk acara Nofibar sendiri ada Dokumentasinya nih =D
Ini Suasananya, ikhwan dikanan, hareem dikiri
Ki-Ka: Faisal, Helmy, Ghyas, Aryo, Randy
Ciyus banget nontonnya
Ki-Ka: Firdi, Bang Taufiq, Fadhlil
Oke sekian dulu cerita saya kali ini, makasih buat yang udah bacaaa. wassalamualaikum :D


Tidak ada komentar:
Posting Komentar