Minggu, 11 November 2012

MUHAMMAD AL FETIH


Assalamualaikuuum. Hari ini Alhamdulillah yah punya waktu buat ngepost lagi hehe. Nah, kali ini saya mau menceritakan tentang kejadian apa aja yang terjadi kemarin, tanggal 10 November 2012, nahloh hari apa hayo? Ya Hari Pahlawan dong, masa sebagai anak Indonesia kita lupa. 


Sebagai bangsa yang baik kita harus menghormati jasa para pahlawan nih dengan berbagai kegiatan Positif tentunya. Tanggal 10 kemarin setelah Try Out Matematika dan Sosiologi yang lumayan sulit, saya mengikuti acara bersama teman-teman dari Rohis SMAN 77 yaitu NOFIBAR atau kepanjangannya Nonton Film Bareng. Acara ini angkatan saya yang peloporin tahun lalu, tapi tahun lalu acara kurang sesuai tujuan karena tema film yang diputar saat itu tidak berbau islami, hanya ada action saja (Battle Los Angelos). Di tahun ini, karena yang menjalankan adik kelas sebagai program kerja pertama jadi saya dan teman-teman seangkatan tinggal menonton saja.

Acara dimulai setelah Solat Dzuhur. Film yang ditayangkan untuk kegiatan ini adalah Al Fatih. Sebuah Film perang yang menceritakan tentang penaklukan kota Konstantinopel olah tentara muslim dari Turki Ottoman. Lihat ulasannya berikut:
 

Istanbul atau yang dulu dikenal sebagai Konstantinopel, adalah salah satu bandar termasyhur dunia. Bandar ini tercatat dalam tinta emas sejarah Islam khususnya pada masa Kesultanan Utsmaniyah, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan pengaruh Islam di banyak negara. Bandar ini didirikan tahun 330 M oleh Maharaja Bizantium yakni Constantine I. Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat Islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah beberapa kali memberikan kabar gembira tentang penguasaan kota ini ke tangan umat Islam seperti dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada perang Khandaq.
Selepas Daulah Utsmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali dengan nafas baru. Hasrat dan kesungguhan itu telah mendorong Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama terjadi pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih fitnah dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II), sultan ke-7 Daulah Utsmaniyyah.

Semenjak kecil, Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Konstantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika beliau naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar tadi. Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para ‘ulama terulung di zamannya. Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Asy-Syeikh Muhammad bin Isma’il Al-Kurani telah menjadi murabbi Amir Muhammad (Al-Fatih). Sultan Murad II telah menghantar beberapa orang ‘ulama untuk mengajar anaknya sebelum itu, tetapi tidak diterima oleh Amir Muhammad. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah gurunya.
Waktu bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sulthan, Amir Muhammad tertawa. Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri Amir Muhammad lantas setelah itu dia terus menghafal Al-Qur’an dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Asy-Syeikh Ak Samsettin (Syamsuddin) merupakan murabbi Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Amir Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur’an, hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.
Syeikh Ak Samsettin lantas meyakinkan Amir Muhammad bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits pembukaan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Semsettin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel. Di hadapan tentaranya, Muhammad Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah Subhana Wa Ta’ala. Dia juga membacakan ayat-ayat Al-Qur’an mengenainya serta hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.
Pada 1453 Muhammad Al-Fatih memulai pengepungan Konstantinopel dengan pasukan antara 80.000 sampai 200.000 pasukan dan dari 320 kapal angkatan laut. Kota ini sekarang dikelilingi oleh laut dan tanah; armada di pintu masuk Bosphorus yang membentang dari pantai ke pantai dalam bentuk sabit, untuk menangkal atau menolak bantuan apapun dari laut untuk dikepung.
Pada awal April, Pengepungan Konstantinopel dimulai. Beberapa serangan menemui kesulitan, tembok kota Konstantinopel berhasil dipertahankan walaupun telah di bombardir dengan menggunakan Meriam Orbán baru, sebuah meriam mirip dengan meriam Dardanella. Pertahanan Konstantinopel begitu kuat bahkan Pelabuhan Golden Horn diblokir oleh rantai booming dan dipertahankan oleh 28 kapal perang. Pada tanggal 22 April Muhammad Al-Fatih mengangkut kapal perang ringannya melewati daratan memutari koloni Genoa Galata menuju Golden Horn pantai utara; delapan puluh kapal diangkut dari Bosphorus setelah membuat paving dari kayu sepanjang kurang lebih satu mil. Setelahnya pasukan Bizantium membentang lebih panjang lagi lagi dari panjang dinding. Konstantinopel berhasil ditaklukkan pada tanggal 29 Mei setelah pengepungan lima puluh tujuh hari, kemudian Muhammad Al-Fatih memindahkan ibukota Utsmani dari Adrianopel ke Konstantinopel.
Setelah Jatuhnya Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih mengklaim gelar “Kaisar” Roma (-Kayser i Rûm)”, meskipun klaim ini tidak diakui oleh Patriark Konstantinopel, atau Kristen Eropa. Klaim Muhammad Al-Fatih mengacu pada konsep bahwa Konstantinopel adalah pusat Kekaisaran Romawi, setelah transfer modal ke Konstantinopel pada tahun 330 sebelum masehi dan jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat. Muhammad Al-Fatih juga memiliki garis keturunan darah keluarga Kekaisaran Bizantium, sebagai pendahulunya seperti Sultan Orhan ia telah menikah dengan seorang putri Bizantium. Dia tidak hanya berhak untuk mengklaim sebagai gelar, karena ada Kekaisaran Suci Romawi di Eropa Barat, yaitu Kaisar Frederick III, yang setelah dilacak garis keturunannya merupakan keturnan dari Charlemagne yang memperoleh gelar Kaisar Romawi ketika ia dimahkotai oleh Paus Leo III di tahun 800 – walaupun tidak pernah diakui oleh Kekaisaran Bizantium.

Kalo penasaran ada trailernya nih:
 

Demikian kisah tentang kepahlawanan Sultan Muhammad Al Fatih dalam memperjuangkan umat islam dimasanya dengan merebut kota Konstantinopel. Sultan tidak melancarkan serangan tanpa strategi yang matang. Beliau membuat meriam raksasa untuk menghancurkan tembok Konstantinopel. Hasilnya luar biasa, dengan kuasa Allah SWT, tembok yang mahatebal tersebut hancur seketika.

Kawan, banyak hal yang dapat kita perolah dari Sultan Muhammad Al Fatih diantaranya:
1.      Sejak baligh beliau tidak pernah meninggalkan solat wajib dan sunahnya
2.      Pantang menyerah dalam pertempuran
3.     Tetap Optimis menggempur Konstantinopel walau disara mustahil karena banyak raja Islam yang gagal menaklukannya
4.     Mampu menciptakan strategi yang ampuh dengan cerdas.
5.     Mampu menyihir segenap prajurit untuk berperang di jalan Allah SWT tanpa kenal takut.
6.     Tidak takut pada siapapun selain Allah.
7.      Berlatih dan belajar ilmu agama serta perang sejak kecil

Masih banyak lagi teladan yang bisa kita ambil dari sosok Sultan Muhammad Al Fatih. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, Bisakah umat muslim sekarang melakukan hal yang sama terhadap kaum kafir yang menginjak-injak martabat umat Islam. Menurut saya perlu adanya doktrinasi Jihad yang kuat (yang saya maksud bukan terorisme), maksudnya tetap tawakal pada Allah dan tidak takut untuk memerangi kebathilan sekecil apapun. Saya berharap semua Umat muslim tidak takut mengatakan bahwa hal ini salah atai hal itu salah, bukannya menjadi pengikut saja dan Cuma bisa mengangguk saat diberikan godaan. Semoga semangat Sultan Muhammad Al Fatih bisa merasuki jiwa kita semua, amin.

untuk acara Nofibar sendiri ada Dokumentasinya nih =D
 Ini Suasananya, ikhwan dikanan, hareem dikiri

Ki-Ka: Faisal, Helmy, Ghyas, Aryo, Randy

Ciyus banget nontonnya

Ki-Ka: Firdi, Bang Taufiq, Fadhlil

Oke sekian dulu cerita saya kali ini, makasih buat yang udah bacaaa. wassalamualaikum :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar