Minggu, 23 Oktober 2016

Demokrasi Aklamasi (?)



Demokrasi 

Bulan November segera datang membawa angin demokrasi yang sangat terasa. Bagi mahasiswa Universitas Diponegoro, bulan November merupakan titik dimana panggung demokrasi digelar. Sebelas fakultas di Undip menjalani regenerasi kepengurusan. Di tingkat legislatif seperti senat mahasiswa, regenerasi pemimpin diselenggarakan dengan cara musyawarah mufakat sedangkan di tingkat eksekutif seperti HMJ dan BEM diselenggarakan dengan cara pemilihan umum. Seluruh mahasiswa ikut serta dalam hingar-bingar pesta demokrasi kampus.

                Menilik lebih jauh demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang telah Indonesia anut sejak kemerdekaan. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, demokrasi adalah  (bentuk atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat. Sama seperti pengertiannya, Demokrasi di Undip memilih pemimpin yang berasal dari mahasiswanya. Dari mahasiswa oleh mahasiswa dan untuk mahasiswa.

                Dalam penerapannya sistem demokrasi memiliki beberapa keunggulan yang diantaranya; Pemegang kekuasaan dipilih menurut suara dan keinginan rakyat sehingga apa yang diinginkan seluruh rakyat tidak jatuh di tangan yang salah; kedua, Mencegah adanya monopoli kekuasaan. Dalam politik demokrasi rakyat menjadi pengendali kekuasaan pemimpin sehingga tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan; ketiga, Kesetaraan hak membuat setiap masyarakat dapat ikut serta dalam sistem politik yang diterapkan. Dalam demokrasi tidak mengenal hierarki sosial, dengan kata lain seluruh rakyat memiliki posisi yang sama di mata pemimpinnya.

                Kembali ke demokrasi kampus. Universitas merupakan miniatur dari sistem pemerintahan negara dimana ada rakyat dan ada pemimpinnya. Apa yang mahasiswa lakukan di sistem organisasi universitas merupakan representasi dari apa yang pemerintah lakukan di di tingkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu demokrasi kampus memegang peran penting dalam perkembangan pemikiran setiap mahasiswa.

Aklamasi?

                Berbicara tentang demokrasi kampus, khususnya Undip dewasa ini kita sering mendengar atau bahkan merasakan  apa yang disebut Aklamasi. Kondisi dimana hanya ada satu calon yang mengajukan diri menjadi pemimpin suatu organisasi. Sebelum kita membahas penyebab dan akibatnya, kita samakan persepsi mengenai apa itu aklamasi. Rupanya, ‘aklamasi’ bukanlah bahasa asli Indonesia. Kata ini berasal dari Bahasa Latin, yaitu acclamare yang berarti “menyambut”. Aklamasi kemudian diserap dalam Bahasa Indonesia dan tertera dalam Kamus Besar. Menurut buku acuan kata tersebut, aklamasi adalah pernyataan setuju secara lisan dari seluruh peserta rapat dan sebagainya terhadap suatu usul tanpa melalui pemungutan suara.

                Beberapa Pemira (pemilihan raya) baik fakultas maupun universitas beberapa tahun kebelakang. Pada saat situasi aklamasi banyak tanggapan mewarnai pesta demokrasi, kebanyakan menkritik terjadinya aklamasi yang tidak menawarkan pilihan untuk masyarakat. Menurut saya pun aklamasi bukanlah jalan terbaik bagi demokrasi karena demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang menawarkan pilihan bukan persetujuan.

                Sayangnya walaupun tidak ada pihak yang menginginkan aklamasi, situasi ini terjadi karena memang  tidak bisa dihindari. Ada beragam faktor yang menyebabkan terjadinya situasi aklamasi seperti; kurangnya kader penerus kepemimpinan, sistem kaderisasi yang tidak sempurna, dan kesan lembaga yang kurang baik menyebabkan sepi peminat. Penyebab lain bisa saja muncul karena situasi di setiap tempat berbeda-beda.

                Kondisi demikianlah yg sedang melanda Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip pada Pemira 2016. Hingga perpanjangan pendaftaran hanya satu pasang calon yg maju. Kalau bicara penyebab, setiap orang memiliki opininya masing-masing. Saya tidak mempermasalahkannya, karena sekarang yang dihadapi adalah asumsi mahasiswa FEB mengenai terjadinya Aklamasi ini. Mahasiswa akan tetap memilih namun bukan antar calon tapi setuju atau tidak setuju untuk satu-satunya calon yg maju.  Lebih jauh adalah bagaimana caranya agar keadaan Aklamasi tidak terjadi lagi untuk kedepannya.

                Dengan jumlah mahasiswa aktif mencapai lebih dari empat ribu orang seyogyanya bukan menjadi masalah yang besar bagi FEB untuk mecalonkan lebih dari satu pasang. Apalagi kaderisasi di FEB sedang mencapai gerenrasi terbaik yang berwawasan luas dan mampu mengambil sikap menghadapi pengaruh internal maupun eksternal. Dua tahun terakhir FEB mengeluarkan ratusan alumni Latihan Manajemen Mahasiswa tingkat Dasar (LKMMD) sehingga menjadi acuan tingkat partisipasi mahasiswa yang meningkat. Sekarang bukan waktunya lagi meratapi apa yang telah terjadi, sudah saatnya kita berpandangan kedepan mengevaluasi agar FEB jauh dari situasi aklamasi untuk tahun-tahun kedepan. Sehingga Fakultas Ekonomi terbaik di Indonesia ini kembali meraung keras dan Berjaya.


Ekonomi Jaya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar