Demokrasi
Bulan November segera datang
membawa angin demokrasi yang sangat terasa. Bagi mahasiswa Universitas
Diponegoro, bulan November merupakan titik dimana panggung demokrasi digelar. Sebelas
fakultas di Undip menjalani regenerasi kepengurusan. Di tingkat legislatif
seperti senat mahasiswa, regenerasi pemimpin diselenggarakan dengan cara
musyawarah mufakat sedangkan di tingkat eksekutif seperti HMJ dan BEM
diselenggarakan dengan cara pemilihan umum. Seluruh mahasiswa ikut serta dalam hingar-bingar pesta demokrasi kampus.
Menilik
lebih jauh demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang telah Indonesia anut
sejak kemerdekaan. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, demokrasi adalah (bentuk
atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan
perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat. Sama seperti pengertiannya,
Demokrasi di Undip memilih pemimpin yang berasal dari mahasiswanya. Dari mahasiswa
oleh mahasiswa dan untuk mahasiswa.
Dalam penerapannya
sistem demokrasi memiliki beberapa keunggulan yang diantaranya; Pemegang kekuasaan dipilih menurut
suara dan keinginan rakyat sehingga apa yang diinginkan seluruh rakyat tidak
jatuh di tangan yang salah; kedua, Mencegah adanya monopoli kekuasaan. Dalam politik
demokrasi rakyat menjadi pengendali kekuasaan pemimpin sehingga tidak terjadi
penyalahgunaan kekuasaan; ketiga, Kesetaraan
hak membuat setiap masyarakat dapat ikut serta dalam sistem politik yang
diterapkan. Dalam demokrasi tidak mengenal hierarki sosial, dengan kata lain
seluruh rakyat memiliki posisi yang sama di mata pemimpinnya.
Kembali
ke demokrasi kampus. Universitas merupakan miniatur dari sistem pemerintahan
negara dimana ada rakyat dan ada pemimpinnya. Apa yang mahasiswa lakukan di
sistem organisasi universitas merupakan representasi dari apa yang pemerintah
lakukan di di tingkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu demokrasi kampus memegang
peran penting dalam perkembangan pemikiran setiap mahasiswa.
Aklamasi?
Berbicara
tentang demokrasi kampus, khususnya Undip dewasa ini kita sering mendengar atau
bahkan merasakan apa yang disebut
Aklamasi. Kondisi dimana hanya ada satu calon yang mengajukan diri menjadi
pemimpin suatu organisasi. Sebelum kita membahas penyebab dan akibatnya, kita
samakan persepsi mengenai apa itu aklamasi. Rupanya, ‘aklamasi’ bukanlah bahasa
asli Indonesia. Kata ini berasal dari Bahasa Latin, yaitu acclamare yang
berarti “menyambut”. Aklamasi kemudian diserap dalam Bahasa Indonesia dan
tertera dalam Kamus Besar. Menurut buku acuan kata tersebut, aklamasi
adalah pernyataan setuju secara lisan dari seluruh peserta rapat dan sebagainya
terhadap suatu usul tanpa melalui pemungutan suara.
Beberapa Pemira (pemilihan raya) baik
fakultas maupun universitas beberapa tahun kebelakang. Pada saat situasi
aklamasi banyak tanggapan mewarnai pesta demokrasi, kebanyakan menkritik
terjadinya aklamasi yang tidak menawarkan pilihan untuk masyarakat. Menurut saya
pun aklamasi bukanlah jalan terbaik bagi demokrasi karena demokrasi yang sehat
adalah demokrasi yang menawarkan pilihan bukan persetujuan.
Sayangnya walaupun tidak ada
pihak yang menginginkan aklamasi, situasi ini terjadi karena memang tidak bisa dihindari. Ada beragam faktor yang
menyebabkan terjadinya situasi aklamasi seperti; kurangnya kader penerus
kepemimpinan, sistem kaderisasi yang tidak sempurna, dan kesan lembaga yang
kurang baik menyebabkan sepi peminat. Penyebab lain bisa saja muncul karena
situasi di setiap tempat berbeda-beda.
Kondisi demikianlah yg sedang
melanda Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip pada Pemira 2016. Hingga perpanjangan
pendaftaran hanya satu pasang calon yg maju. Kalau bicara penyebab, setiap
orang memiliki opininya masing-masing. Saya tidak mempermasalahkannya, karena
sekarang yang dihadapi adalah asumsi mahasiswa FEB mengenai terjadinya Aklamasi
ini. Mahasiswa akan tetap memilih namun bukan antar calon tapi setuju atau
tidak setuju untuk satu-satunya calon yg maju. Lebih jauh adalah bagaimana caranya agar
keadaan Aklamasi tidak terjadi lagi untuk kedepannya.
Dengan jumlah mahasiswa aktif
mencapai lebih dari empat ribu orang seyogyanya bukan menjadi masalah yang
besar bagi FEB untuk mecalonkan lebih dari satu pasang. Apalagi kaderisasi di
FEB sedang mencapai gerenrasi terbaik yang berwawasan luas dan mampu mengambil
sikap menghadapi pengaruh internal maupun eksternal. Dua tahun terakhir FEB
mengeluarkan ratusan alumni Latihan Manajemen Mahasiswa tingkat Dasar (LKMMD)
sehingga menjadi acuan tingkat partisipasi mahasiswa yang meningkat. Sekarang bukan
waktunya lagi meratapi apa yang telah terjadi, sudah saatnya kita berpandangan
kedepan mengevaluasi agar FEB jauh dari situasi aklamasi untuk tahun-tahun
kedepan. Sehingga Fakultas Ekonomi terbaik di Indonesia ini kembali meraung
keras dan Berjaya.
Ekonomi Jaya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar