Sabtu, 26 November 2016

Fenomena Sapi Makan Sampah

Masyarakat Indonesia memiliki keberagaman di setiap daerah. Tidak terkecuali pada jenis makanan khas daerah. Akan tetapi dari keberagaman yang ada di Indonesia, bahan pangan yang digunakan di setiap daerah relative seragam. Salah satu bahan makanan yang khas Indonesia adalah daging sapi. Hampir seluruh daerah di Indonesia memilih daging sapi sebagai bahan pembuat makanan.

Daging sapi menjadi makanan favorit bagi sebagian besar keluarga di nusantara. Berbagai macam olahan dan hidangan menghiasi daftar makanan paling lezat. Harganya pun terjangkau untuk dinikmati semua kalangan. Namun, pernahkah kita memikirkan hidangan daging sapi yang kita konsumsi berasal dari mana? Bagaimana menurut kamu  jika sapi-sapi tersebut mengkonsumsi pakan dari tempat pembuangan sampah?

Terdengar menjijikkan dan mengerikan, tapi sayangnya begitulah fakta lapangan. Fenomena sapi makan sampah ini terjadi di beberapa daerah di Indonesia diantaranya Semarang, Denpasar, dan Solo. Puluhan sapi digembalakan untuk mencari makan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sapi-sapi tersebut berebut sampah dengan pemulung yg ada di TPA, Memakan apa saja yang dibuang disana.

Contohnya di Semarang. Ada ribuan sapi pemakan sampah yang biasa dibiarkan liar di tempat pembuangan akhir Jatibarang, kelurahan kedungpane, Kecamatan Ngaliyan, Semarang. Jumlah sapi yang berkeliaran di TPA jatibarang berkisar antara 1500 hingga 2000 ekor. Keberadaan ini jelas tidak sehat dan mengancam kesehatan manusia yang mengkonsumsi dagingnya.

Berbahaya

Sapi yang memakan sampah berarti memakan zat sisa limbah rumah tangga dan kantor. Sampah-sampah tersebut mengandung zat-zat yang bisa membahayakan kesehatan tubuh manusia. Zat-zat tersebut antara lain Mercury (Hg), Cadium (Cd), dan Cobalt (Co). dampak dari mengonsumsi daging yang terkontaminasi zat-zat berbahaya tersebut beragam, mulau dari pusing, keracunan, diare, kanker, hingga menyebabkan kematian.

Menanggapi fenomena ini pemkot semarang tidak tinggal diam. Industri rumah pemotongan hewan di semarang sudah mendapat larangan menerima ternak dari TPA Jatibarang. Sehingga seharusnya semarang bebas dari daging sapi yang terkontaminasi sampah.



Permasalahan tidak sampai disitu. Setelah dikeluarkan peraturan tersebut, mengapa populasi sapi di TPA Jati barang tidak berkurang? Malah terkesan lestari. Ada apa sebenarnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar