Masyarakat
Indonesia memiliki keberagaman di setiap daerah. Tidak terkecuali pada jenis
makanan khas daerah. Akan tetapi dari keberagaman yang ada di Indonesia, bahan
pangan yang digunakan di setiap daerah relative seragam. Salah satu bahan
makanan yang khas Indonesia adalah daging sapi. Hampir seluruh daerah di Indonesia
memilih daging sapi sebagai bahan pembuat makanan.
Daging sapi
menjadi makanan favorit bagi sebagian besar keluarga di nusantara. Berbagai macam
olahan dan hidangan menghiasi daftar makanan paling lezat. Harganya pun
terjangkau untuk dinikmati semua kalangan. Namun, pernahkah kita memikirkan
hidangan daging sapi yang kita konsumsi berasal dari mana? Bagaimana menurut
kamu jika sapi-sapi tersebut
mengkonsumsi pakan dari tempat pembuangan sampah?
Terdengar menjijikkan
dan mengerikan, tapi sayangnya begitulah fakta lapangan. Fenomena sapi makan
sampah ini terjadi di beberapa daerah di Indonesia diantaranya Semarang,
Denpasar, dan Solo. Puluhan sapi digembalakan untuk mencari makan di Tempat
Pembuangan Akhir (TPA). Sapi-sapi tersebut berebut sampah dengan pemulung yg
ada di TPA, Memakan apa saja yang dibuang disana.
Contohnya di
Semarang. Ada ribuan sapi pemakan sampah yang biasa dibiarkan liar di tempat
pembuangan akhir Jatibarang, kelurahan kedungpane, Kecamatan Ngaliyan,
Semarang. Jumlah sapi yang berkeliaran di TPA jatibarang berkisar antara 1500
hingga 2000 ekor. Keberadaan ini jelas tidak sehat dan mengancam kesehatan
manusia yang mengkonsumsi dagingnya.
Berbahaya
Sapi yang
memakan sampah berarti memakan zat sisa limbah rumah tangga dan kantor. Sampah-sampah
tersebut mengandung zat-zat yang bisa membahayakan kesehatan tubuh manusia. Zat-zat
tersebut antara lain Mercury (Hg), Cadium (Cd), dan Cobalt (Co). dampak dari
mengonsumsi daging yang terkontaminasi zat-zat berbahaya tersebut beragam,
mulau dari pusing, keracunan, diare, kanker, hingga menyebabkan kematian.
Menanggapi fenomena
ini pemkot semarang tidak tinggal diam. Industri rumah pemotongan hewan di
semarang sudah mendapat larangan menerima ternak dari TPA Jatibarang. Sehingga seharusnya
semarang bebas dari daging sapi yang terkontaminasi sampah.
Permasalahan tidak sampai disitu.
Setelah dikeluarkan peraturan tersebut, mengapa populasi sapi di TPA Jati
barang tidak berkurang? Malah terkesan lestari. Ada apa sebenarnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar