Minggu, 10 Februari 2013

Tak Ada Yang Abadi


Tak ada yang abadi. Gunung-gunung kokoh berpijak menantang langit, andai tidak ada gunung, magma mungkin harus berdalih pada kuasa-Nya. Lautan mahaluas berkuasa atas apapun didalamnya, andai tidak ada laut, hiu paus dan semua didalamnya mungkin memohon pada-Nya.
          
Lihat dipucuk kekuasaan, ribuan kertas mengkilap berharga menjadi primadona kehidupan, semua orang ingin memilikinya, kejayaan selama-lamanya. Tengoklah pula panggung semu dunia, jutaan manusia mencari ketenaran, kejayaan, kekayaan semu pula.

          Kehidupan manusia belakangan ini aneh, kebersamaan bukan lagi menjadi tujuan bersama, kemakmuran bukan lagi menjadi pedoman, kepercayaan sudah menjadi komoditas pasar. Dimana rasa kemanusiaan dan akal budi mereka? Bukankah mereka berkembang sedari bukan menjadi apa-apa dimuka bumi ini? Bukankah mereka belajar dari apa yang mereka tidak ciptakan? Bukankah kehidupan mereka tidak akan berguna bila sendiri-sendiri? Ada apa?

          Mengapa mereka begitu sombong pada umat mereka sendiri? Mengapa wujud yang maha sempurna dan naluri berbeda  itu diarahkan justru kepada apa yang diberikan pada binatang? Berapa banyak dari mereka yang bisa bertahan untuk tetap bersih?

          Melihat dunia dengan kehidupannya mewah sekali, mereka ingin melampaui langit, menjangkau surga, menembus neraka. Dan mereka ingin mereka sendiri yang bangga, dimana mereka saat yang lain harus merangkak jauh menuju sumur, atau yang tengah melambai menanti harapan?

Akankah mereka siap saat semua yang mereka punya direbut? Akankah mereka siap menghadapi kenyataan? Apakah mereka masih menganggap semuanya kekal?
Memang hidup mereka hanya sekali. Tapi apakah hanya untuk diri sendiri yang bahkan berdiri sendiri saja tidak mampu?

          Aku juga ingin kehidupan yang sempurna, namun aku sendiri melamun. Andaikata dunia tidak memiliki kejahatan dan kebathilan, akankah itu ada?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar