Tak ada yang abadi. Gunung-gunung
kokoh berpijak menantang langit, andai tidak ada gunung, magma mungkin harus berdalih
pada kuasa-Nya. Lautan mahaluas berkuasa atas apapun didalamnya, andai tidak
ada laut, hiu paus dan semua didalamnya mungkin memohon pada-Nya.
Lihat
dipucuk kekuasaan, ribuan kertas mengkilap berharga menjadi primadona
kehidupan, semua orang ingin memilikinya, kejayaan selama-lamanya. Tengoklah
pula panggung semu dunia, jutaan manusia mencari ketenaran, kejayaan, kekayaan
semu pula.
Kehidupan
manusia belakangan ini aneh, kebersamaan bukan lagi menjadi tujuan bersama,
kemakmuran bukan lagi menjadi pedoman, kepercayaan sudah menjadi komoditas
pasar. Dimana rasa kemanusiaan dan akal budi mereka? Bukankah mereka berkembang
sedari bukan menjadi apa-apa dimuka bumi ini? Bukankah mereka belajar dari apa
yang mereka tidak ciptakan? Bukankah kehidupan mereka tidak akan berguna bila
sendiri-sendiri? Ada apa?
Mengapa
mereka begitu sombong pada umat mereka sendiri? Mengapa wujud yang maha
sempurna dan naluri berbeda itu diarahkan
justru kepada apa yang diberikan pada binatang? Berapa banyak dari mereka yang
bisa bertahan untuk tetap bersih?
Melihat
dunia dengan kehidupannya mewah sekali, mereka ingin melampaui langit, menjangkau
surga, menembus neraka. Dan mereka ingin mereka sendiri yang bangga, dimana
mereka saat yang lain harus merangkak jauh menuju sumur, atau yang tengah
melambai menanti harapan?
Akankah mereka siap saat semua yang mereka punya
direbut? Akankah mereka siap menghadapi kenyataan? Apakah mereka masih
menganggap semuanya kekal?
Memang hidup mereka hanya sekali. Tapi apakah hanya
untuk diri sendiri yang bahkan berdiri sendiri saja tidak mampu?
Aku juga
ingin kehidupan yang sempurna, namun aku sendiri melamun. Andaikata dunia tidak
memiliki kejahatan dan kebathilan, akankah itu ada?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar