Jumat, 15 Februari 2013

Valentine vs Maulid Nabi



Kemarin, tanggal 14 Februari seperti biasa setiap tahun sebelumnya, jutaan umat manusia di dunia merayakan satu hari dimana mereka bisa mengungkapkan rasa kasih sayang mereka pada orang-orang tercinta, entah itu orang tua, saudara, namun yang paling pasaran dan sudah pasti mewarnai hari itu adalah kepada kekasih mereka. Hari itu adalah hari valentin. Ratusan ribu rupiah bagi mereka yang berada di Indonesia dapat dihabiskan untuk memberi ungkapan rasa sayang mereka, seperti coklat dan bunga. Tak heran banyak minimarket yang kehabisan coklat atau maraknya penjual bunga musiman.
           
Merayakan valentin umumnya dilakukan dengan pemberian hadiah sebagai ungkapan rasa sayang. Indonesia sejatinya tidak mengenal adat dan tata cara merayakan hari valentin. Tidak salah lagi selain karena memang budaya hari kasih sayang merupakan budaya bawaan dari dunia barat. Namun pada kenyataannya tradisi hari valentin ini semakin lama semakin banyak digandrungi masyarakat, terutama kawula muda. Mereka berlomba-lomba memberikan yang terbaik untuk pacar mereka masing masing, membuat kejutan mungkin, atau sekedar ucapan romantis disaat berdua.
           
Media massa pun turut mengambil peran dalam meluas dan memanasnya hari itu, program-program televise memasang judul tambahan di acara mereka dengan kalimat “Spesial Valentine” tentunya dengan berita kisah cinta para selebritis. Selain media TV, Radio pun banyak mamasukan unsur kasih sayang dalam siaran. Apalagi jika kita mambuka internet dan menemukan semua situs dalam keadaan berbau valentin dan jutaan orang mancanegara yang pasti merayakannya. Dengan demikian, Valentin sudah menjadi budaya dunia.
           
Sementara itu, tiga minggu sebelumnya tepatnya tanggal 24 Januari juga ada peringatan hari besar yang bahkan ditepatkan sebagai hari libur. Hari itu adalah hari besar Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebuah hari dimana dahulu nabi SAW dilahirkan dan menjadi Khalifah dimuka bumi. Dengan populasi muslim di Indonesia yang mencapai delapan puluh persen lebih, sudah seharusnya bangsa Indonesia merayakannya.
           
Namun sebuah ironi timbul menyeruak. Saat Maulid Nabi SAW, jarang sekali orang yang mengingatkan saya akan hari apa ini, bahkan dihari itu tidak ada hal yang memberikan kesan bahwa hari ini adalah Maulid nabi. Disamping tradisi kekal Sekaten masyarakat Jawa dan banyaknya acara Maulid di sekolah-sekolah serta ucapan akun Twitter, pada hari itu saya sebagai kaum muda kurang mengalami kesan bahwa ini loh hari lahir Nabi saya, ini loh harinya umat islam. Tidak ada perayaan khusus pada hari itu, acara televisi pun jarang sekali yang menambah judul acara atau cerita mereka.

Berbeda sekali dengan apa yang terjadi kemarin dimana semua umat merayakan apa yang tidak anutnya sejak dahulu.  Dihari Valentin orang-orang merayakan dengan kekasihnya sedangkan di hari Maulid Nabi tiga minggu sebelumnya, saya harus mencari perayaan pribadi untuk diri saya kepada Allah SWT. Dimanakah sebenarnya perayaan yang seharusnya dilakukan? Apakah dengan peristiwa ini berarti di masa depan saat kaum saya memegang peran, perayaan tradisional seperti sekaten dan bahkan rasa syukur kami lupakan dan kamu biarkan tenggelam bersama budaya lain? Saya tidak bisa menjawabnya sendiri kalau kaum saya menghiraukannya.
                
Sholatulllah salamullah..
Alaa taha rasulillah..
Shalatullah salamullah..
Alaa yasin habibillah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar