Kemarin, tanggal 14 Februari seperti
biasa setiap tahun sebelumnya, jutaan umat manusia di dunia merayakan satu hari
dimana mereka bisa mengungkapkan rasa kasih sayang mereka pada orang-orang
tercinta, entah itu orang tua, saudara, namun yang paling pasaran dan sudah
pasti mewarnai hari itu adalah kepada kekasih mereka. Hari itu adalah hari
valentin. Ratusan ribu rupiah bagi mereka yang berada di Indonesia dapat
dihabiskan untuk memberi ungkapan rasa sayang mereka, seperti coklat dan bunga.
Tak heran banyak minimarket yang kehabisan coklat atau maraknya penjual bunga
musiman.
Merayakan valentin umumnya dilakukan
dengan pemberian hadiah sebagai ungkapan rasa sayang. Indonesia sejatinya tidak
mengenal adat dan tata cara merayakan hari valentin. Tidak salah lagi selain
karena memang budaya hari kasih sayang merupakan budaya bawaan dari dunia
barat. Namun pada kenyataannya tradisi hari valentin ini semakin lama semakin
banyak digandrungi masyarakat, terutama kawula muda. Mereka berlomba-lomba
memberikan yang terbaik untuk pacar mereka masing masing, membuat kejutan
mungkin, atau sekedar ucapan romantis disaat berdua.
Media massa pun turut mengambil peran
dalam meluas dan memanasnya hari itu, program-program televise memasang judul
tambahan di acara mereka dengan kalimat “Spesial Valentine” tentunya dengan
berita kisah cinta para selebritis. Selain media TV, Radio pun banyak mamasukan
unsur kasih sayang dalam siaran. Apalagi jika kita mambuka internet dan
menemukan semua situs dalam keadaan berbau valentin dan jutaan orang
mancanegara yang pasti merayakannya. Dengan demikian, Valentin sudah menjadi
budaya dunia.
Sementara itu, tiga minggu sebelumnya
tepatnya tanggal 24 Januari juga ada peringatan hari besar yang bahkan
ditepatkan sebagai hari libur. Hari itu adalah hari besar Maulid Nabi Muhammad
SAW. Sebuah hari dimana dahulu nabi SAW dilahirkan dan menjadi Khalifah dimuka
bumi. Dengan populasi muslim di Indonesia yang mencapai delapan puluh persen
lebih, sudah seharusnya bangsa Indonesia merayakannya.
Namun sebuah ironi timbul menyeruak. Saat
Maulid Nabi SAW, jarang sekali orang yang mengingatkan saya akan hari apa ini,
bahkan dihari itu tidak ada hal yang memberikan kesan bahwa hari ini adalah
Maulid nabi. Disamping tradisi kekal Sekaten masyarakat Jawa dan banyaknya
acara Maulid di sekolah-sekolah serta ucapan akun Twitter, pada hari itu saya
sebagai kaum muda kurang mengalami kesan bahwa ini loh hari lahir Nabi saya,
ini loh harinya umat islam. Tidak ada perayaan khusus pada hari itu, acara televisi
pun jarang sekali yang menambah judul acara atau cerita mereka.
Berbeda sekali dengan apa yang
terjadi kemarin dimana semua umat merayakan apa yang tidak anutnya sejak dahulu.
Dihari Valentin orang-orang merayakan
dengan kekasihnya sedangkan di hari Maulid Nabi tiga minggu sebelumnya, saya
harus mencari perayaan pribadi untuk diri saya kepada Allah SWT. Dimanakah sebenarnya
perayaan yang seharusnya dilakukan? Apakah dengan peristiwa ini berarti di masa
depan saat kaum saya memegang peran, perayaan tradisional seperti sekaten dan
bahkan rasa syukur kami lupakan dan kamu biarkan tenggelam bersama budaya lain?
Saya tidak bisa menjawabnya sendiri kalau kaum saya menghiraukannya.
Sholatulllah salamullah..
Alaa taha rasulillah..
Shalatullah salamullah..
Alaa yasin habibillah..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar