Jumat, 11 Januari 2013

Hati Berkata (Cerpen)


               Pada suatu hari ada sebuah keluarga kecil hidup di sudut ingar bingar kota Metropolitan. Keluarga sederhana yang tinggal di sebuah gang berpemukiman padat. Dengan sepetak tanah dan rumah yang diwariskan dari kedua orang tua kepala keluarga ini ditinggali oleh seorang ibu penjahit rumahan beserta ketiga anak anaknya yang terdiri dari dua anak lelaki yang masing-masing duduk di kelas tiga SMP dan berumur 3 tahun, serta seorang anak perempuan yang duduk di bangku kelas 1 SMP.

               Masa lalu keluarga ini suram karena beberapa tahun lalu sang ayah yang amat tempramen meledakan amarahnya kepada seisi rumah karena si Ibu yang linglung memecakan gelas di depan mata ayah, sontak ayah terkejut kemudian membentak Ibu amat keras, ibu yang lugu hanya menangis dihadapannya. Putra sulung yang sedang masa remaja pun naik pitam malihat ayahnya mengkasari ibunya, Ia dorong sang ayah, tetapi ayah yang tak ingin jatuh gengsi membalik meja tamu kemudian membanting pintu melangkah keluar seraya berkalimat; “Aku nggak akan balik lagi” dan pintu pun tertutup menyisakan duka, ibu yang amat mencintai suaminya berteriak sekencang-kencangnya hingga beberapa lama. entah mungkin itu yang membuat Ibu menjadi bisu.

               Saat ini, sehari hari sang ibu bekerja menjahit dan mengurusi pekerjaan rumah dengan dibantu kedua anak tertua mereka. Ibu amat bersyukur dengan keterbatasannya, anak-anaknya sangat menyayanginya dengan membantunya setiap hari, tak jarang ibu memanggil mereka hanya untuk memeluk dan mencium ketiga harapannya tersebut. Anak tertua, Adi sering menyiram tanaman, memperbaiki kursi yang jebol ataupun menutup celah plafon yang bocor kala hujan. Sedang Ita, anak kedua menjadi asisten pribadi Ibu dalam pekerjaannya.

               Namun saat-saat indah itu berakhir saat Adi memulai hidupnya di SMA. Adi mulai meinggalkan pekerjaannya di rumah, atap sering bocor, tumbuhan mulai layu. Beruntung masih ada Ita yang merangkap tugas tugas adi, dibantu Ibu. Adi juga sekarang jarang ada dirumah, pulang larut dan selalu dalam keadaan lelah fisiknya. main dengan teman katanya, selalu itu alasannya.  Tanpa Adi, rumah ini terasa sepi, tidak ada tokoh humoris bagi ibu dan Ita, juga tidak ada seorang sosok pengganti ayah bagi Tio adik bungsunya.

Ibu kini menjadi sering melamun sendiri saat bekerja maupun saat waktu kosong, bahkan sering terlihat menangis. Ita mengerti bahwa ibu rindu pada kakaknya yang hanya ditemuinya saat pagi dan malam, mungkin Adi sudah tidak peduli pada keluarga, atau sudah tidak sayang ibu. Pikiran Ita terhenti saat memahami bahwa apa dayanya Ibu, Ia tidak bisa meminta Adi tinggal, berkata jangan pulang malam saja tidak bisa. Ita tidak berani berbicara pada Adi karena Ia menghormati dan sayang padanya. Ita takut jika Ia berterus terang Adi akan marah padannya.

Tiba-tiba Ibu jatuh sakit. Ita kerepotan karena harus membagi waktu mengurusi rumah dan menjaga Tio. Pesanan jahit menjadi sering tertunda hingga pelangggan protes.

Hal ini berlangsung  beberapa hari sampai pada satu malam. Adi sepeti biasa pulang dengan mata merah dan langsung menuju kamarnya, namun kali ini Ita Mencegatnya.

“Mas Adi dari mana aja sih?” sapa Ita tidak ramah sambil menyedekapkan tangannya.
            
         Adi terkejut, “Habis main sama temeen, kenapa sih?” lalu ia mencoba mengahau Ita yang menghalanginya, namun tidak bisa.
             
              “Ibu sakit maaaaas, mas aja nggak tahu kan???” hentak Ita tak sabar.
             
              “Ooh ibu sakit, belikan obat sana Ta.” Jawab Adi nyeleneh.
        
         “Masya Allah Mas Adi, Ibu nggak Cuma butuh obat, Ibu butuh bantuan buat nyelesaiin kerjaannya, Ita juga kerepotan. Tio nggak bisa ditinggal pula. Ngerti dong mas, mas kan udah besar.” Ucap Ita lebih keras.
               
        “Iya mas mau bantu, tapi temen mas butuh mas banget buat memeriahkan acara, mas dihubungin terus.” Jawab Adi.
             
               “Dulu kan Mas sering bantu Ita sama Ibu dirumah, suka bercanda ke Ita sama Tio. Sekarang rumah sepi mas, gara-gara mas jarang kumpul sama kita.” Lanjut Ita.
             
               “Iya itu kan dulu, sekarang temen mas butuh mas juga, kalo nggak datang, mas bisa dijauhin sama mereka, Ita.” Adi masih saja keras kepala.
           
         “Siapa sih teman mas itu? Sebegitu sayangnya mas sama teman-teman mas daripada kita sekarang. Apa  teman mas itu yang melahirkan mas? Mereka yang besarin mas sampe sekarang? Dimana mereka waktu mas nyaris tenggelam di kolam pak RW? Apa mereka juga yang ngasih mas uang jajan atau selalu khawatir sama mas di jalan? Kenapa mas lebih mentingin mereka? Di akhirat nggak ada teman-teman mas, yang ada amal mas sama orang tua.” Amarah Ita yang dipendamnya sejak lama terlepas jua.
      
         Namun bukan berarti Adi seketika tersadar hingga pintu kamar berderik dan terpampang seseorang dengan kulit yang mulai mengusut mata sayu dan wajahnya yang pucat yang langsung menaikkan dua garis alis Adi. “Ibu..” kemudian hening.
       
           “Ibu nggak bisa bilang kita sangat sayang sama mas..” ucapan Ita kini lirih dengan air mata yang melintasi pipi bersihnya. Entah apa, hal yang kemudian terjadi pada Ita, terjadi pula pada Adi yang juga menaik-turunkan matanya pada orang yang ada di depan matanya. Selanjutnya hanya hening menyelimuti rumah sederhana dengan penghuni sederhana. Mungkin kata-kata selalu jadi cara untuk mengutarakankan apa yang terjadi, tapi Ibu mengungkapkannya lebih jelas lewat hatinya.

2 komentar: