Pada suatu hari ada sebuah keluarga
kecil hidup di sudut ingar bingar kota Metropolitan. Keluarga sederhana yang
tinggal di sebuah gang berpemukiman padat. Dengan sepetak tanah dan rumah yang
diwariskan dari kedua orang tua kepala keluarga ini ditinggali oleh seorang ibu
penjahit rumahan beserta ketiga anak anaknya yang terdiri dari dua anak lelaki
yang masing-masing duduk di kelas tiga SMP dan berumur 3 tahun, serta seorang
anak perempuan yang duduk di bangku kelas 1 SMP.
Masa lalu keluarga ini suram
karena beberapa tahun lalu sang ayah yang amat tempramen meledakan amarahnya
kepada seisi rumah karena si Ibu yang linglung memecakan gelas di depan mata
ayah, sontak ayah terkejut kemudian membentak Ibu amat keras, ibu yang lugu
hanya menangis dihadapannya. Putra sulung yang sedang masa remaja pun naik
pitam malihat ayahnya mengkasari ibunya, Ia dorong sang ayah, tetapi ayah yang tak
ingin jatuh gengsi membalik meja tamu kemudian membanting pintu melangkah
keluar seraya berkalimat; “Aku nggak akan balik lagi” dan pintu pun tertutup
menyisakan duka, ibu yang amat mencintai suaminya berteriak sekencang-kencangnya
hingga beberapa lama. entah mungkin itu yang membuat Ibu menjadi bisu.
Saat ini, sehari hari sang ibu
bekerja menjahit dan mengurusi pekerjaan rumah dengan dibantu kedua anak tertua
mereka. Ibu amat bersyukur dengan keterbatasannya, anak-anaknya sangat
menyayanginya dengan membantunya setiap hari, tak jarang ibu memanggil mereka
hanya untuk memeluk dan mencium ketiga harapannya tersebut. Anak tertua, Adi sering
menyiram tanaman, memperbaiki kursi yang jebol ataupun menutup celah plafon
yang bocor kala hujan. Sedang Ita, anak kedua menjadi asisten pribadi Ibu dalam
pekerjaannya.
Namun saat-saat indah itu
berakhir saat Adi memulai hidupnya di SMA. Adi mulai meinggalkan pekerjaannya
di rumah, atap sering bocor, tumbuhan mulai layu. Beruntung masih ada Ita yang
merangkap tugas tugas adi, dibantu Ibu. Adi juga sekarang jarang ada dirumah,
pulang larut dan selalu dalam keadaan lelah fisiknya. main dengan teman
katanya, selalu itu alasannya. Tanpa
Adi, rumah ini terasa sepi, tidak ada tokoh humoris bagi ibu dan Ita, juga
tidak ada seorang sosok pengganti ayah bagi Tio adik bungsunya.
Ibu kini menjadi sering melamun sendiri saat bekerja maupun
saat waktu kosong, bahkan sering terlihat menangis. Ita mengerti bahwa ibu
rindu pada kakaknya yang hanya ditemuinya saat pagi dan malam, mungkin Adi
sudah tidak peduli pada keluarga, atau sudah tidak sayang ibu. Pikiran Ita
terhenti saat memahami bahwa apa dayanya Ibu, Ia tidak bisa meminta Adi
tinggal, berkata jangan pulang malam saja tidak bisa. Ita tidak berani berbicara
pada Adi karena Ia menghormati dan sayang padanya. Ita takut jika Ia berterus
terang Adi akan marah padannya.
Tiba-tiba Ibu jatuh sakit. Ita kerepotan karena harus membagi
waktu mengurusi rumah dan menjaga Tio. Pesanan jahit menjadi sering tertunda
hingga pelangggan protes.
Hal ini berlangsung beberapa hari sampai pada satu malam. Adi sepeti
biasa pulang dengan mata merah dan langsung menuju kamarnya, namun kali ini Ita
Mencegatnya.
“Mas Adi dari mana aja sih?” sapa Ita tidak ramah sambil
menyedekapkan tangannya.
Adi terkejut, “Habis main sama
temeen, kenapa sih?” lalu ia mencoba mengahau Ita yang menghalanginya, namun tidak
bisa.
“Ibu sakit maaaaas, mas aja nggak
tahu kan???” hentak Ita tak sabar.
“Ooh ibu sakit, belikan obat sana Ta.” Jawab Adi nyeleneh.
“Masya Allah Mas Adi, Ibu nggak Cuma
butuh obat, Ibu butuh bantuan buat nyelesaiin kerjaannya, Ita juga kerepotan.
Tio nggak bisa ditinggal pula. Ngerti dong mas, mas kan udah besar.” Ucap Ita
lebih keras.
“Iya mas mau bantu, tapi temen
mas butuh mas banget buat memeriahkan acara, mas dihubungin terus.” Jawab Adi.
“Dulu kan Mas sering bantu Ita
sama Ibu dirumah, suka bercanda ke Ita sama Tio. Sekarang rumah sepi mas,
gara-gara mas jarang kumpul sama kita.” Lanjut Ita.
“Iya itu kan dulu, sekarang temen
mas butuh mas juga, kalo nggak datang, mas bisa dijauhin sama mereka, Ita.” Adi
masih saja keras kepala.
“Siapa sih teman mas itu? Sebegitu
sayangnya mas sama teman-teman mas daripada kita sekarang. Apa teman mas itu yang melahirkan mas? Mereka yang
besarin mas sampe sekarang? Dimana mereka waktu mas nyaris tenggelam di kolam
pak RW? Apa mereka juga yang ngasih mas uang jajan atau selalu khawatir sama
mas di jalan? Kenapa mas lebih mentingin mereka? Di akhirat nggak ada
teman-teman mas, yang ada amal mas sama orang tua.” Amarah Ita yang dipendamnya
sejak lama terlepas jua.
Namun bukan berarti Adi seketika
tersadar hingga pintu kamar berderik dan terpampang seseorang dengan kulit yang
mulai mengusut mata sayu dan wajahnya yang pucat yang langsung menaikkan dua garis alis Adi. “Ibu..” kemudian hening.
“Ibu nggak bisa bilang kita
sangat sayang sama mas..” ucapan Ita kini lirih dengan air mata yang melintasi
pipi bersihnya. Entah apa, hal yang kemudian terjadi pada Ita, terjadi pula
pada Adi yang juga menaik-turunkan matanya pada orang yang ada di depan matanya. Selanjutnya
hanya hening menyelimuti rumah sederhana dengan penghuni sederhana. Mungkin kata-kata
selalu jadi cara untuk mengutarakankan apa yang terjadi, tapi Ibu mengungkapkannya
lebih jelas lewat hatinya.
bagus fa
BalasHapus:) makasih dit. banyak yg typo ternyata
BalasHapus