Sabtu, 24 Desember 2016

#SaveAleppo, simpati kemanusiaan atau kelatahan massal?

Di akhir tahun 2016 ini dunia kembali digemparkan dengan berita peperangan yang terjadi di kawasan timur tengah. Setelah akhir dekade 2000an lalu kita disuguhkan dengan perang antara Israel dan palestina, kemudian revolusi yang terjadi di Mesir hingga Libya, kali ini pertumpahan darah terjadi di kota Aleppo, Suriah.

                Bulan ini menjadi kali kedua Aleppo menghiasi tajuk utama pemberitaan dunia karena perang saudara yang terjadi. Presiden terpilih Bashar Al Assad menjadi pemeran antagonis dari drama pertikaian sesama muslim. Presiden terpilih tersebut dituding sebagai syiah dan ingin memusnahkan penduduk sunni di kota Aleppo oleh media. Tudingan ini memicu kaum Sunni Suriah membentuk barisan pemberontak yang bergerak melawan pemerintah. Barisan ini disebut sebagai tentara mujahidin.

                Saya mengabaikan konflik yang terjadi disana karena banyaknya versi yang terjadi. Hal yang menarik dari pertikaian di Aleppo adalah gelombang simpati yang menyebar sedemkian cepat. Banyak yang menghujat peperangan di Aleppo setelah berita kengerian serta korban rakyat sipil disana tersebar luas di dunia. Kita sebagai pengguna internet dan media sosial barang tentu sering melihat posting mengenai perang Aleppo beserta gambar korban anak-anak serta wanita yang menyayat hati.

                Sebagai orang awam, kita termasuk Warga indonesia lain tentu prihatin dengan korban kekerasan di Aleppo hingga saat ini tersebar kebencian terhadap pemerintahan Assad  dengan hashtag #SaveAleppo. Akan tetapi apakah warga Indonesia mengerti sepenuhnya apa yang terjadi disana? Ataukah hanya ikut tanpa mengetahui yang terjadi?

 Faktanya, masyarakat Indonesia mudah sekali terpancing berita yang disiarkan media.  Sedikit persinggungan terjadi, kabar kebencian seperti api dalam sekam. Sungguh disayangkan negara dengan nilai toleransi tinggi justru mudah terganggu dengan rumor mengenai SARA bahkan yang bukan berasal dari internal negara.

Saat ini masyarakat Indonesia kembali tersambar masalah yang sebenarnya tidak berkenaan secara langsung. Berita yang menjadi viral di sosial media dan masyarakat. Padahal belum diungkap kebenaran berita yang beredar menyusul terungkapnya foto-foto Hoax korban perang suriah. Padahal pemerintah Indonesia pun belum mengambil sikap atas permasalahan itu.


Semoga rakyat Indonesia dapat belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya untuk tidak mudah terpancing emosi saat mendapat berita dari media yang belum terbukti. Pencerdasan sebelum bertindak menjadi penting guna menghindari tindakan yang gegabah. Semoga pula masyarakat tidak sekedar latah melihat tindakan orang sekitar, melainkan melihat dari gambaran yang besar terlebih dahulu. Tidak lupa, doa dan harapan agar pertikaian yang terjadi di Aleppo dapat segera terselesaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar