Di akhir tahun 2016 ini dunia kembali digemparkan dengan
berita peperangan yang terjadi di kawasan timur tengah. Setelah akhir dekade
2000an lalu kita disuguhkan dengan perang antara Israel dan palestina, kemudian
revolusi yang terjadi di Mesir hingga Libya, kali ini pertumpahan darah terjadi
di kota Aleppo, Suriah.
Bulan ini
menjadi kali kedua Aleppo menghiasi tajuk utama pemberitaan dunia karena perang
saudara yang terjadi. Presiden terpilih Bashar Al Assad menjadi pemeran
antagonis dari drama pertikaian sesama muslim. Presiden terpilih tersebut
dituding sebagai syiah dan ingin memusnahkan penduduk sunni di kota Aleppo oleh
media. Tudingan ini memicu kaum Sunni Suriah membentuk barisan pemberontak yang
bergerak melawan pemerintah. Barisan ini disebut sebagai tentara mujahidin.
Saya
mengabaikan konflik yang terjadi disana karena banyaknya versi yang terjadi.
Hal yang menarik dari pertikaian di Aleppo adalah gelombang simpati yang
menyebar sedemkian cepat. Banyak yang menghujat peperangan di Aleppo setelah
berita kengerian serta korban rakyat sipil disana tersebar luas di dunia. Kita
sebagai pengguna internet dan media sosial barang tentu sering melihat posting
mengenai perang Aleppo beserta gambar korban anak-anak serta wanita yang
menyayat hati.
Sebagai orang
awam, kita termasuk Warga indonesia lain tentu prihatin dengan korban kekerasan
di Aleppo hingga saat ini tersebar kebencian terhadap pemerintahan Assad dengan hashtag #SaveAleppo. Akan tetapi
apakah warga Indonesia mengerti sepenuhnya apa yang terjadi disana? Ataukah
hanya ikut tanpa mengetahui yang terjadi?
Faktanya, masyarakat Indonesia mudah sekali
terpancing berita yang disiarkan media.
Sedikit persinggungan terjadi, kabar kebencian seperti api dalam sekam.
Sungguh disayangkan negara dengan nilai toleransi tinggi justru mudah terganggu
dengan rumor mengenai SARA bahkan yang bukan berasal dari internal negara.
Saat ini masyarakat Indonesia kembali
tersambar masalah yang sebenarnya tidak berkenaan secara langsung. Berita yang
menjadi viral di sosial media dan masyarakat. Padahal belum diungkap kebenaran
berita yang beredar menyusul terungkapnya foto-foto Hoax korban perang suriah.
Padahal pemerintah Indonesia pun belum mengambil sikap atas permasalahan itu.
Semoga rakyat Indonesia dapat belajar dari
pengalaman-pengalaman sebelumnya untuk tidak mudah terpancing emosi saat
mendapat berita dari media yang belum terbukti. Pencerdasan sebelum bertindak
menjadi penting guna menghindari tindakan yang gegabah. Semoga pula masyarakat
tidak sekedar latah melihat tindakan orang sekitar, melainkan melihat dari
gambaran yang besar terlebih dahulu. Tidak lupa, doa dan harapan agar
pertikaian yang terjadi di Aleppo dapat segera terselesaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar