Malam tidak lebih dari dua belas jam. Siang tidak lebih dari
waktu malam. Aku bukanlah pelanggar kesempatan yang selalu bodoh saat
memilikinya. Orang bilang kesempatan tidak datang dua kali. Beberapa yang lain
selalu berharap pada yang kedua. Kalau aku, aku akan meresapi kesempatan itu
hingga ke akarnya. Menembus batas logika dengan fantasi yang semu. Aku memandang
dimana kesempatan itu akan berlabuh, entah akan jadi kenyataan atau tidak akan.
Dia datang melalui senyuman. Gelombang-gelombang kecil yang menembus bajuku hingga masuk kedalam tubuh. Membuat tubuh bergetar tanpa getaran. Ramai suasana disana tidak berlaku saat dia merasukiku. Hanya hening yang terhampar disana bersama alunan piano semu menari-nari dalam setiap langkahnya. Selembar kertas putih melayang diantara rimbun bunga sakura dan alunan piano merdu. Itu dia kesempatan. Aku bergetar dan jantungku berdegup sekali lagi. Aku harus meraih selembar kesempatan itu sebelum senyuman itu berpaling dariku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar