Ini adalah salah satu Cerpen gue, kalo ada banyak kesalahan mohon dimaafin yaa! Terimakasih, dan selamat menikmati!
Lonceng alumunium tua itu berdetang menandakan akhir kegiatan belajar mengajar. Tanpa banyak pikiran aku dan sahabatku berhambur kelapangan menuju pagar rotan reyot sekolah kami.
“Hey Rio! Mau kemana kau? Aku ikut!” seru Henry mencoba mengejarku berlari.
“Biasa, aku hendak bertemu Cikung!” jawabku bersemangat tanpa menghiraukan kakiku yang melepuh menapaki kerikil jalan.
Sesampainya di gerbang, Henry mencapai ujung nafasnya. “Rio tunggu! Aku lelah sekali mengejarmu berlari.”
“Ayolah sobat, perjalanan kita masih jauh.” Tepisku menghampiri Henry yang sedang berpegangan pada gerbang rotan. “Kau kan memakai sepatu.” Sentilku membandingkan kakiku yang dekil dengan sepatu sportnya.
“Hmm okelah aku mengerti. Lagi pula aku tidak ada kerjaan dirumah. Aku akan ikut!” tukasnya. Pernyataan sahabatku ini membuatku semakin bersemangat mendaki bukit. Kamipun berlari bersampingan menuju hutan Barito.
Terkadang hidup ini mengharuskan kita untuk memilih, apakah aku akan terus patuh, diam, namun aman dan tenteram atau memilih untuk melemparkan hidup ini kedalam lubang buaya yang terdapat kebenaran dan keadilan terpendam untuk berusaha keluar serta mempertaruhkan segalanya demi tegaknya apa yang seharusnya benar. Kawan, aku termasuk orang gila yang akan memilih pilihan kedua.
Namaku Haryono namun semua orang memanggilku Rio. Aku adalah murid SMP Negeri 3 Dayakambah kabupaten Barito Kuala Kalimantan tengah. Aku tinggal bersama ibuku didalam rumah panggung yang hampir menyerupai gubuk rapuh di desa Dayakambah.
Kami berlari-lari kecil disebuah jalan setapak melewati perkebunan Sawit. Jalan yang biasa kami lewati setiap hari, aku berada di depan sedangkan Henry mengekoriku. Separuh jalan kami lewati didalam perkebunan Sawit seluas lima hektar ini. Pohon demi pohon telah kami hafal cirinya bak baju yang kami kenakan setiap hari. Mulai jalan lurus, berkelok, sampai naik dan turun telah kami hitung jumlah pohon sawit yang mengiring jalan kami yaitu sekitar 258 batang Sawit. Mentaripun hanya mengintip diantara helai-helaian daun Sawit, membuat penglihatan kami teduh dan nyaman. Sering kami jumpai kawanan beruk pekerja menghadang kami utuk meminta sesuatu penganan, maka dari itu setiap jumpa aku selalu membawakan jagung manis buatan ibu sebagai mahar untuk si beruk bagi kami untuk melewati kebun ini. Setelah lima belas menit menyusuri ratusan pohon sawit yang sedikit membosankan, akhirnya kami sampai didepan gerbang hutan Barito. Sebuah tempat yang aku sukai karena disini aku bebas malakukan apa saja tanpa larangan siapapun. Kadang aku berburu babi hutan bersama paman Arki, kadang pula memetik daun Pakis sebagai obat yang tak kuketahui. Tetapi yang paling aku rindukan adalah bertemu seekor sahabat baikku.
“Waduh, hutan hujan ini besar dan luas sekali ya?” Takjub Henry seraya memutarkan tubuh memandangi ranting dan dedaunan diatas kepalanya.
“Ya, hutan ini memang luas dan akan selalu luas!” cetusku tersenyum kearah Henry.
“Apa kau yakin? Sekarang kan sedang marak-maraknya pembalakan liar.” Sambung Henry sedikit tegang.
Aku mendekati Henry hingga tepat didepan wajahnya, “Itu tidak akan terjadi disini! Ayo kita jalan!” tegasku.
“Oh yeah, baiklah bro.” jawabya dengan muka sedikit menunduk. Kamipun kembali melanjutkan perjalanan menyusuri puluhan pohon pinus dan belukar yang tumbuh acak dan rimbun. Siang hari ini begitu hening tanpa ada suara kecuali kicauan burung merpati diatas kanopi hutan hujan.
“Nah, kita hampir sampai bukan?” kata Henry melangkah didepan dengan menunjuk-nunjuk ranjang jaring yang terikat pada empat batang pohon pinus tumbuh persegi sepuluh meter didepannya.
“Iya kawan, tapi aku tidak melihat dia ya?” heranku mencari sang sahabat.
“Cikung! Cikung! Dimana kau?”sebar Henry keseluruh penjuru hutan.
“Cikung! Ini Rio dan Henry kawan!” sambungku melihat kesekeliling hutan hujan ini. Tiba-tiba ada seekor hewan berbulu merah tua tanpa ekor berbalik dan berayun pada akar beringin menuju posisi kami, itulah Cikung.
“Hap, dapat kau, haha kemana saja kau tadi?” sapaku menangkap Cikung.
“Hahaha, kau pasti lapar ya sobat?” tambah Henry mengelus kepala botak Cikung. Iapun mengangguk-angguk kegirangan.
Cikung adalah seekor anak Orangutan asli Kalimantan. Aku menemukannya dihutan ini dalam keadaan keritis tiga tahun lalu akibat perburuan liar besar-besaran yang merenggut orang tua Cikung dari kehidupannya. Sejak saat itu, aku merawatnya disini dengan segenap tenagaku demi kelestarian spesiesnya. Akupun berjanji padanya bahwa suatu saat, aku akan memberi pasangan betina untuknya. Sejak saat menemukan Cikung bersama paman Arki, aku prihatin akan kelangsungan hidup lingkungan saat ini dan masa depan jika selalu disalahgunakan oleh manusia. Maka dari itu, aku sangat membenci perusakan lingkungan agar tak ada lagi Cikung-Cikung yang lain. Karena tanpa lingkungan sama saja dengan tanpa masa depan.
“Hah, Sudah kenyang kan?” ucapku pada cikung setelah menyuapinya setengah sisir pisang hijau. Cikungpun menatapku dan menarik-narik rambut ikalku, setelah itu iya langsung melompat-lompat diatas pangkuanku, sungguh menggemaskan. Henry yang sedang memakan bekalnya disebelahku tertawa melihat tingkah laku bayi Orangutan ini. Sikap manja Cikung ini yang membuat kami sayang padanya seperti Henry sebagai sahabatku. ”Dengar ya cikung, kami akan selalu ada disini setiap kau membutuhkan karena aku mengerti keadaanmu dan karena kau adalah sahabat kami, kami akan melindungimu dari apapun yang berani mengancammu.” Bisikku pada Cikung dengan serius. Aku tersenyum pada Henry. Dia mengelus perut gembul Cikung yang nyaman dipangkuanku.
Tak terasa senja mulai menyingsing. Kami yang sedang asyik bermain-main harus kembali pulang dan mempersiapkan hari esok. Sungguh mengharukan perpisahan ini walaupun selalu kami lakukan karena Cikung selalu mengantar kami sampai gerbang perbatasan kebun sawit. Tenanglah kawan kami pasti kembali. ucapku dalam hati melambai pada Cikung menjauh dari perbatasan. Keluar dari perkebunan, aku dan Henry lalu menyusuri jalan yang berbeda untuk pulang kerumah kami masing-masing.
“Rio, Maghrib begini kamu baru pulang nak?” sapa ibu didapur sambil mencuci kangkunya.
“Iya ibu, Rio lelah sekali berjalan kaki tadi.” Jawabku malas yang langsung merebah telungkup diatas dipan ruang tengah.
“Bisa bantu ibu mangupas bawang nak?” lanjut ibu bangkit dan mengusap tangan basahnya pada sebuah kain.
“Nanti bu, Rio masih lelah sekali.” Tandasku.
Setelah mendengar jawabanku, ibu berjalan mendekatiku dan duduk diujung dipan didepanku, “Kamu habis darimana Rio?” tanyanya embil mengusap rambutku.
“Rio habis ketempat Cikung bu.” Jawabku pada hembusan napas panjang.
“Ketempat Cikung? Sore sekali pulangnya? Tanpa menungguku menjawab, ibu melanjutkan, “Dengar Rio, kamu itu sudah tiga belas tahun, sudah besar. Sudah bisa membantu ibu bekerja di perkebunan sawit. Lagipula ibu sudah tua, kalah saing dengan buruh muda yang lebih kuat” ungkapnya.
“Aduh ibu, Rio kan sudah pernah bilang Rio tidak akan bekerja di perkebunan sawit!” tepisku lemah.
“Loh, memangnya kenapa?” lanjutnya penasaran.
“Ini ya bu, Rio kasih tahu, Perkebunan sawit itu hanya akan menghabiskan Hutan, dan melenyapkan habitat hewan dan Tumbuhan.” Jelasku sembil bangun kemudian bersandar pada tembok kayu.
“Wah, anak ibu sudah pintar rupanya.” gembira ibu, “Tapi dulu ayahmu juga seorang buruh kebun sawit loh Rio!” semangatnya tersenyum padaku.
“Hah? Jadi buruh? Oh iya bu, ayah itu kemana sih?” tanyaku penasaran. Setelah kubertanya, Ibu sempat terdiam beberapa saat.
“iya. Ayahmu? Dia pergi merantau, tapi ibu tidak tahu kemana. Yang jelas katanya Ia akan kembali suatu saat.” Ungkapnya lembut.
“Sudah dua belas tahun kan bu? Ibu tidak marah?” sambungku heran.
“Tentu tidak nak! Ayahmu itu bukan tipe orang yang suka ingkar janji. Ibu yakin, suatu saat Ia akan segera kembali walau tak membawa apa-apa.” Jawabnya spontan.
“Kok begitu sih bu? Rio pasti kesal kalau jadi ibu.” Lanjutku serius.
“Untuk apa? Kalau sudah cinta, ibu akan selalu percaya walaupun harus menunggu belasan tahun.” Lengkapnya lagi tersenyum bahagia kearahku seakan menyihirku untuk berbuat sama seperti ibu. Sebuah senyuman yang kurasa sangat ikhlas, tulus sampai akhir hayatnya.
“Oh gitu ya bu? Ya sudah, Rio tidur dulu ya bu, ngantuk.” Tutupku sambil berpaling dan menelungkupkan badan lagi. Tanpa balasan, ibu yang masih dihiasi senyuman tulus itu, lekas ke dapur untuk mengupas bawang. Kawan, sungguh menusia yang tulus bukan. Aku terus berharap ayah dapat kembali dan menggembirakan ibu.
Selama aku hidup tak pernah sedikitpun aku merasakan kemewahan. Karena yang ada dirumahku hanyalah satu keluarga radio tua yang sudah tidak dapat kugunakan lagi, itupun adalah peninggalan ayahku yang tak sanggup kubuang. Oleh karena itu, setiap malam aku pergi ke balai desa Dayakambah untuk menonton televisi bersama warga yang sama sekali tak terkesan mewah. Hanya sebuah televisi uzur ukuran empat belas inci yang diletakan diatas rak buku setinggi seratus lima puluh sentimeter yang remotenya sudah ngalur ngidul, maka harus ada pawang yang menekan tombol di televisi dengan gagang sapu yaitu pak Sarbin.
“Pak Sar, tolong pindah salurannya ke nomor empat ya!” mintaku kedapa pak Sarbin didepan televisi yang berada di serambi balai desa. Karena aku yang pertama datang, maka aku yang menentukan saluran televisi ini sampai warga bubar.
“Siap boss!” ujarnya yang kebetulan dahulu hanya lulusan SD.
Pada saluran nomor empat inilah acara favoritku. Setiap habis Isya, aku selalu stand by didepan TV ini untuk menyaksikan program National Geograpic yang aku gemari. Bukan karena gambarnya, namun issu lingkungan yang selalu mereka bahas. Lewat acara ini, aku bisa mengerti tentang lingkungan serta hutan hujan seperti rumah Cikung, informasi lingkungan, dan yang paling kukagumi adalah issu pemanasan global, lewat bahasan ini aku mengerti bahwa limbah udara dari pabrik dan kendaraan bermotor dapat merusak kehidupan. Limbah AC dan kulkas dapat dapat melubangi lapisan ozon dan memberi jalan masuk bagi sinar Ultraviolet yang sangat merugikan manusia. Yang aku pahami, adalah keberadaan hutan hujan yang dapat menyaring asap dan zat buang pabrik serta kendaraan bermotor dan mampu membentuk kembali lapisan ozon. Informasi inilah yang mampu membuatku tepacu untuk menjaga hutan Cikung demi hidupnya dan bumi ini juga. Adalah Allbert Gore, seorang ilmuwan Amerika Serikat yang pertama kali mengissukan pemanasan global, kegigihannya menyebarkan issu ini membentukku semakin terinspirasi untung menjaga hutan Cikung, ini sangat menyenangkan.
Selepas bubar sekolah, aku dan Henry kembali ke hutan untuk berjumpa dengan Cikung, namun ada yang beda ketika kami melewati kebun sawit, disana banyak truk dan traktor serta banyak orang berkerumun.
“Hey bang Henry, meu kemana kau?” Tanya seorang berpakaian jas rapih kepada Henry disampingku.
“Mau jalan-jalan, paman!” jawab Henry singkat.
“Ya sudah, jangan jauh-jauh ya!” tutup orang itu yang terlihat sibuk dengan HT-nya, “Iya pak Hendra, semua sudah siap.” Ungkapnya kepada seseorang dalam HT.
“Itu siapa Hen? Nyebut-nyebut nama ayah kamu lagi.” Tanyaku sambil menatap pria berstelan jas itu.
“Dia paman Herman, asisten ayah.” Jawab Henry kikuk.
“Lantas, mau apa mereka? Lemparku lagi mengegetkan Henry yang tiba-tiba melamun.
“A-aku nggak tahu Rio.” Beri Henry sedikit aneh.
“Ya sudahlah, mungkin ingin membangun pos pengamanan, ayo kita pergi!” balasku yang sudah tidak sabar berjumpa Cikung.
Tidak biasanya aku merasakan ada yang aneh, maka kami turun ke desa lebih siang. Dan, benar saja, perasaanku tidak menipu.
“Memang benar ya, Hutan Barito kita mau dibabat?” ujar tetanggaku kepada tetanggaku yang lainnya dalam perjalananku pulang.
“Iya bu, katanya oleh PT Hendra Sejahtera, perusahaan kebun sawit kita!” Jawab temannya lagi dari belakang pagar rumahnya.
“Yah, mudah-mudahan bisa menambah lowongan kerja deh.” Harap tetanggaku itu.
Aku yang sedang berjalan tersentak dan berhenti sejenak sambil bertanya-tanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa PT Hendra Sejahtera? Ah, daripada aku tenggelam dalam kebingungan, aku langsung tancap gas menuju rumahku dan membicarakannya dengan ibu.
“Ibu! Ibu!” panggilku dari depan rumah.
“Ada apa nak?” ibu yang sedang momotong ayam kampung bergegas menemuiku di depan rumah. “Ada apa nak? Teriak-teriak segala.”
“Apa benar hutan Barito akan dibabat?” cetusku tanpa basa-basi terbakar rasa cinta lingkungan.
“Hmm, ayo duduk dulu biar emosinya turun!” ajak ibu dengan sangat lembut.
“Huh baiklah, bagaimana bu?” tembakku tidak sabar.
Ibu lantas ambil posisi yang nyaman baru hendak bicara, “Begini nak, PT Hendra Sejahtera tempat ibu bekerja hendak membuka lahan untuk memperluas perkebunan sawit.” Mulai ibu gamang.
“Apa? Apa lima hektar itu belum cukup?” tambahku naik darah.
“Ibu tidak mengerti nak, ibu hanya menjalankan tugas dari atasan ibu.” Lengkap ibu mencoba menenangkanku.
“Aduh ibu, bagaimana tempat tinggal Cikung? Bagaimana duna ini nantinya kalau hutan terus menerus dihabiskan?” ungkapku geram.
Ibu yang bingung antara pekerjaan dan anaknya melanjutkan dengan apa adanya, “Ibu tak bisa berbuat apa-apa Rio, tapi ibu akan mendukung penuh apapun tindakan kamu jika menurutmu itu hal yang benar.” Kata ibu menyemangati yang duduk dibangku depan rumah tepat disampingku.
“Aha, apa ibu mau membantu Rio menyadarkan masyarakat?” mintaku polos tapi dengan tulus menatap ibu yang terlihat menyesal.
“Menyedarkan masyarakat? Maaf ya nak, ibu tidak bisa, kalau ibu melawan ibu akan dipecat.” Sesal ibu.
“Baik kalau ibu tidak mau, Rio akan melakukan itu sendiri.” Sekejap pengucapan itu, sekejap pula aku berangkat meninggalkan rumah berlari untuk meminta bantuan warga sebanyak-banyaknya dan menyadarkan mereka akan bahaya pembalakan liar. Oh Tuhan, tolonglah aku.
Aku terus berlari dan berlari, tak sama sekali lelah merasukiku sebab aku tahu bahwa bencana besar akan datang. Aku pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana cara menyampaikan pesan penting ini kepada warga dengan cepat dan tepat. Malam ini sekitar pukul 19.00, dimana aku dapat menemukan keramaian? Jalan seakan mejauh dariku sedangkan waktu laksana motor balap yang meng-overtake langkahku. Terus menerus berpikir tiada ujung sampai disuatu pasar, diatas kepalaku menyala sebuah lampu: Balai desa.
Sekonyong-konong aku memutar balik lalu berbelok kearah balai desa. Kebetulan sekali ini adalah waktu bagi para warga untuk menonton televisi. Semoga saja semua orang percaya akan ucapanku ini.
“Assalamualaikum pak Sarbin. Boleh tolong mematikan televisinya sebentar?” mintaku dari belakang kerumunan warga ke pak Sarbin yang berada di muka rak buku sambil terengah-engah.
“Untuk apa?” kata pak Sabin membisik.
“ Ayolah pak Sarbin, ini penting sekali!” lebarku dengan sedikit memaksa. Pria paruh baya itu mengernyit sesaat lalu iya mengambil gagang sapu kekuasaannya lalu menekan tombol off. Wargapun terhenyak dan kaget karena pak sarbin mematikan TV itu secara tiba-tiba. Sunyi seyap balai desa tadi berubah drastis menjadi riuh dan ribut. Berbegai kalimat protes bertibi-tubi dilontarkan ke pak Sarbin, namu dengan berbekal pengalaman selama hampr duapuluh tahun menjadi juru televisi Ia tetap bergeming.
“Wah, apa pula pak Sarbin ini?” teriak seorang centeng yang duduk di garda belakang.
“Hei, lagi seru nih pak!” seru anak-anak di barisan depan.
“Nyalakan lagi pak! Biar warga tenang.” Ujar salah satu tokoh masyarakat yang juga sedang asyik menonton.
“Maaf, bukan apa-apa, tapi saudara kita ingin menyamapaikan sesuatu hal yang penting.” Ujar pak Sarbin rendah. Selintas itu warga kembali tenang setelah melihatku maju kedepan mereka.
“Sebelumnya saya minta maaf, telah mengganggu bapak dan ibu sekalian, tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan .” mulaiku rendah.
“Wah, hal penting apa ini?” heran seorang bapak yang enak duduk dipelataran balai desa sambil bersandar yang penasaran.
“Hm, apa kalian tahu penebangan yang akan dilakukan besok di hutan Barito?” jelasku lebih serius.
Setelah beberapa saat bergerutu, “Oh iya kami tahu, memeng kenapa?” balas bapak tadi. Yang lain terlihat diam. Nampaknya, mereka heran mengapa aku mengangkat topik ini.
“Kalian tahu? Itu bukanlah sekedar penebangan biasa, tapi itu penebangan liar! Illegal loging kata orang kota. Penebangan itu tidak berizin pemerintah!” tegasku. Sejurus kemudian warga tersentak kaget mendengar pernyataanku yang begitu tajam, “Oleh kerena itu bapak ibu, kita harus sama-sama mencegah dan menghentikan rencana itu!” kerasku lagi.
“Bah, apa pula kau? Sudah jelas-jelas penebangan hutan itu untuk perkebunan sawit. Untuk lowongan kerja kita!” lempar centeng yang didepanku tadi.
“Iya, betul itu!” partispasi ibu-ibu yang berada di sayap kiri kerumunan.
“Nah, itu dia. Niat pihak PT ingin menebang hutan sudah salah. Karena hutan Barito itu adalah hutan lindung yang dilindungi undang-undang. Apa jika akhirnya PT itu bangkrut, kalian sanggup kehilangan pekerjaan di perkebunan sawit itu? tidak kan?” lontarku yang semakin berapi-api.
“Apa? Kami tidak percaya apa yang kau katakan. Sebab pihak PT telah menjanjikan kami pekerjaan di perkebunan sawit itu.” Damprat sekumpulan remaja ditengah kerumunan.
“Apa kau tidak takut ibumu dipecat gara-gara ini?” introgasi seorang ibu lainnya.
“Tidak. Karena ibu tidak akan dipecat.“ tepisku.
“Hei Rio, kau tahu? Pemilik PT Hendra Sejahtera pak Hendra itu adalah ayah dari Henry, Sahabatmu itu.“ ungkap seorang diantara para remaja. Sontak aku terkejut mendengar ungkapan itu. Begaimana bisa Henry tidak memberitahuku tentang ayahnya? Pembalakan itu? Oh Jadi itu sebab mengapa ia selalu termenung saat kami bermain di hutan.
“Rio, bengong saja!” bentak centeng itu.
“Ayolah pak, ibu! tolong bantu aku! Kalian tidak kasihan dengan hutan ini? Semua hewan didalamnya? Apa kalian tidak mendengar peringatan tentang pemanasan global dan dampak yang akan ditimbulkan?” jelasku yang mulai tak sanggup merangkul mereka.
“Hutan? Lingkungan? Boro-boro kami pikirkan itu nak. Untuk makan sehari-hari saja sudah susah. Mendingan kamu pulang dan membantu ibumu dirumah!” lembut salah satu ibu yang bergerombol di sektor kiri.
“Nah, benar itu. Lebih baik kau pergi sebelum kulempar kau!” semprot centeng tadi yang tak henti-hentinya menyela.
Aku belum menyerah hingga seseorang menyela pembicaraanku, “Tapi ini penting demi lingkungan dan keselamatan..”
“Halah, berisik kau! Berat betul omonganmu seperti pemerintah!” Lempar seorang bapak diatas pagar pelataran.
“Pergi sana! Mengganggu acara TV saja!” lontar seorang anak kecil dari pengkuan ibunya.
“Ayo, sekali lagi kau berlagak, ku gampar kau!” bentak si centeng lagi sambil berdiri tepat didepan wajahku. Namun aku takkan gentar dengannya walaupun dia memiliki tubih dua kali lipat dari tubuhku.
“Lihat saja, lingkungan ini tidak akan aman jika hutan terus menerus dibabat! Tapi aku takkan tinggal diam!” tegasku meradang sambil meliukkuan leher kearah warga.
Si centengpun naik pitam dan mendorongku keluar balai desa. “Berisik kau, pergi sana!” tembaknya.
“Hu! Pergi sana dasar pengganggu!” umpat seorang anak lainnya.
Sejurus kemudian bedanku berdebam ketanah setelah didorong si centeng dari pelataran balai desa. Selepas bangkit, aku memandang kearah balai desa, pak Sar yang sejak tadi bisu kembali memainkan gagang sapunya dan menghidupkan televisi. Wargapun kembali senyap dan tenang. Aku harus kemana lagi? Sedangkan aku tidak bisa tinggal diam begitu saja mengingat penebangan hutan itu hanya tinggal hitungan jam. Kulihat lagi mereka yang sedang asyik menonton televisi seperti biasa, tenang, nyaman tanpa ada pikiran mengganjal seputar lingkungan dan hutan. Aku tahu mereka tak ingin dipecat dan terlibat dalam masalah besar, tapi apakah mereka tidak memandang jauh kedepan sana, menggunakan otak mereka menembus batas imajinasi sejauh mungkin hingga sampai ke kemungkinan terburuk dunia ini seperti pemanasan global misalkan. Ah, bagi mereka tak pentinglah memikirkan itu disaat himpitan akan kebutuhan ekonomi yang sangat mendesak. Saat kayapun apakah yang akan membuat mereka ingat akan segala peringatan alam ini? Kecil sekali kemungkinannya berharap pada bangsa yang naif ini. Sedangkan yang kutahu sekarang Henry telah mendustaiku. Aku sendiri disini sekarang. Sekarang aku akan pergi ke hutan, bertemu dengan cikung den melakukan semua tindakan yang kubisa untuk menhentikan atau bahkan mencegah penebangan liar itu. Oh Tuhan, Izinkanlah aku untuk berhasil.
Malam ini sekitar pukul 20.00 WIB aku harus cepat menuju rumah cikung. Untuk kesana dengan berkari cukup lima belas menit saja. Namun aku harus tetap tidur agar dapat mencegah penebangan tersebut. Sesampainya di gerbang hutan, aku melihat sebanyak lima buah traktor siap melahap habis kayu gelondongan hutan Barito. Ini mambuatku sedikit gentar kawan. Tapi aku terus berlari sebelum Cikung tertidur diatas jaring ranjangnya. Aku beruntung malam ini karena ditengah hutan yang gelap gulita, Tuhan memberikan sebuah bulan purnama yang terang benderang. Ini menguntungkan bagiku karena aku dapat melihat walau hanya remang. Hingga akhirnya, aku menemukan empat pinus tempat ranjang Cikung yang telah kami tandai. Tanpa pikir panjang aku langsung memanjati salah satunya.
“Hei Cikung, kau sudah tidur?” bukaku. Cikung yang terbaring pulas mengisyaratkan ia sedikit terganggu. “Aku ingin kau tahu aku menyayangimu melebihi apapun.” Ujarku. Seketika itu pula Cikung terbangun dan duduk didepanku namun dengan kepala tertunduk seakan ia tahu apa yang akan ia dengar. “Aku tahu apa yang kau takutkan, kau takut kehilanganku kan?” tambahku, Cikung lantas mengangguk. “Dengar, sudah kubilang kita tidak akan terpisah walau sekalipun kau berbeda denganku.” Lanjutku sambil merangkul pundak cikung dan memberikan pukulan akrab. “Kau tahu, besok akan ada traktor yang akan menebang hutan ini, tapi tenang saja, karena aku akan mencegahnya, iya kan?” riangku menyemangati Cikung. Mendengar bicaraku tadi, Cikung tersentak kaget dan menelungkupkan tubuhnya dengan gemetar. Oh Tuhan, aku lupa bahwasanya Cikung trauma dengan traktor yang telah merenggut nyawa ibunya tiga tahun lalu sehingga iya harus pindah kemari. “Oh iya, kau trauma traktor ya? Maaf ya.” Dalihku. Cikung mengerling, “Tapi tenang saja, aku akan tetap melindungimu. Sekarang tidurlah supaya bisa bangun lebih pagi esok!” perintahku sembari membaringkan tubuh diatas ranjang jaring yang nyaman untuk mengakhiri hari yang penat ini.
Sebelum berhasil memejamkan mata, aku mendengar suara gaduh diantara semak. Sial, sekarang gelap, aku tak bisa melihat apapun. Semakin dekat suara itu, semakin penasaran aku dibuatnya. Sepertinya ini harimau atau ular. Aku reflek melompat jauh dari jaring ranjang dan mendarat dengan keras ditanah. Kuambil batu segenggam, siap merajam.
“RIO!” teriak suara itu.
“Siapa disana?” balasku semakin penasaran. Sepertinya suara itu tak asing bagiku, itu pria. Dan pria itu menunggu membalasnya hingga wajahnya terekam sinar rembulan.
“Ini aku Henry.” Sambungnya.
“Apa? Apa maumu datang kemari?” bentakku kasar.
“Sebelumnya aku minta maaf tidak memberitahumu soal besok.” Ungkapnya merendah.
“Maaf? Untuk apa? Menghinaku?” lemparku keras.
“Bukan, Niatku kesini untuk menolongmu! Aku bisa membantumu Rio!” tawarnya tegas.
“Apa lagi yang kau sembunyikan sekarang? Besok ayahmu akan menghabisi hutan ini, tapi kau malah diam selama ini! Apa kau ingin menjebakku” ucapku meradang.
Namun Henry tetap kaku seperti memendam rasa bersalah, “Tidak Rio! Aku sungguh-sungguh ingin membantumu, karena aku bisa! Oke, aku diam selama ini agar kita tetap bersahabat, agar tidak pusing memikirkan hal ini. Tapi yang terjadi Justru seperti ini! Aku serba salah. Aku hanya ingin melihat sahabatku senang.” Ungkapnya mengantiklimaks suasana.
Aku yang gelap mata karena perbuatannya menghempaskan semua tawaran Henry. “Apa maksudmu? Ingin membuatku senang? Pulang sana! Dan pikirkan semua kesalahanmu! Aku harus tidur sekarang!” lontarku sedang. Melepas genggaman batu tadi berpaling menuju jaring ranjang.
“Baik, aku akan pulang, tapi asal kau tahu, aku tidak akan mengingkari kata-kataku! Ingat itu kawan!” tutupnya.
“Terserah kau saja dengan semua omong kosongmu! Aku sudah ngantuk.” Balasku dingin sambil memanjati salah satu pinus itu lagi.
“Lihat saja Rio, apa yang akan kulakukan!” lemparnya sembari berlari pulang menuju desa.
Aku terus memandanginya hingga tak terlihat. Dia sahabatku, Bagaimana bisa aku membentaknya setelah selama ini berteman. Tapi kurasa dia pantas mendapatkannya setelah menipuku terhadap sustu hal yang sangat penting. Tapi apa yang akan dia lakukan setelah ini, aku pensaran. Akupun berbaring disebelah cikung yang mendengkur pulas dengan rasa mengganjal di jantung, aku bersalah.
Ranjang jaring Cikung bergetar keras. Kubuka sedikit, sinar lantas menusuk tanpa permisi, menggambarkan kanopi lebat berusuk ranting serta sebuah warna merah tua yang tak henti-hentinya berkelebat beberapa senti dari ujung hidungku. Gawat, aku bangun terlambat. Sekarang sudah cukup cerah untuk rencana penebangan hutan itu. Aku patut berterima kasih kepada Cikung yang tak menyerah untuk membangunkanku. Beberapa helai bulu dikepalanya kubelai sebentar lalu cikung menunjuk-nunjuk ke suatua arah, suara traktor.
Sontak aku melompat dengan cikung teguh dipunggungku. Lututku terbentur batu dengan keras sehingga menyebabkan pendarahan namun takku pedulikan langsung aku tancap gas menuju arah suara itu. Tak henti aku berlari, semuanya telah memenuhi ruang dipikiranku. Langkahpun tak ku gubris hingga akhirnya Cikung tiba-tiba melompat ke dahan pohon dan berteriak histeris. Aku jatuh tersungkur kedalam sebuah parit, dahiku terhantam sesuatu yang keras lalu bocor, rasa nyeri dan pusing sekejap merasukiku, tapi aku tak ingin kalah, “AH! Tidak akan kubiarkan!” teriakku pada angkasa luas dan bangkit untuk menangkap Cikung lalu kembali berlari secara membabi buta. Ratusan umpatan telah kusebar kesegala penjuru hutan ini sampai tempat dimana suara traktor itu berada. Berpuluh langkah kilat berikutnya, kudapati jalan sudah gundul sebelum sampai ke traktor itu. Kentara sekali traktor yang kudengar itu bukanlah yang pertama menjamah hutan Barito yang masih perawan ini. Aku berhenti sejenak melihat traktor yang kudengar itu bersiap mengapad kearahku, berarti aku salah jalan. “Kurang ajar pak Hendraaa!” umpatku setajam pisau berbalik arah hingga membuat Cikung panik.
Pontang-panting ku menginjakkan kaki dibumi hina ini, berlari menuju jejak roda traktor diatas tanah merah yang seharusnya dihuni jutaan humus segar. Darahku semakin meroket keatas ubun-ubun melihat pohon-pohon rindang yang ditebang tak terperi. Sepanjang jejak traktor ini aku selalu melihat kesekeliling. Aku selalu memandangi ratusan pohon yang tumbang, ditambah lagi rasa nyeri didalam dahiku yang menjadi-jadi membuat penglihatanku semakin tak fokus, hingga akhirnya, “Tidaaak, aku tidak akan menyerah!” seruku terengah diatas permukaan tanah setelah tersandung batang kayu gelondongan yang terbaring melintang ditanah. Pendaratanku terlentang hingga merobek lengan bajuku. Reflek, aku langsung mendekap Cikung, “Cikung, kau tidak apa-apa kan?” Cikung menggeleng. Aku gendong lagi Cikung dan aku kembali berlari lebih cepat. Sampai saatnya aku melihat tiga buah traktor sekitar seratus meter didepan langkahku. Sekali lagi aku pasang sprint ala Usain Bolt hingga membalap ketiga traktor itu.
Aku berdiri kaku dua puluh meter didepan traktor terdepan. Kurentangkan kedua tangan , kuat, kaku, tegas tak peduli. Kungadahkan wajah keudara. Kuhela nafas sedalam-dalamnya, “BERHEENTIIIII!” teriakku habis-habisan menggelegar diudara. Ketiga traktorpun tersentak berhenti menerima komando kebingungan dari seorang pria elit mengenakan stelan Tuxedo berkaca mata hitam. “Tolong hentikan semua ini!” tambahku keras. Cikung yang tegang, erat memeluk betisku yang berlumur darah dari lutut yang kuabaikan tadi.
Pria Tuxedo itu berdiri dari samping kemudi, “Tunggu dulu, kamu ini siapa?” tenangnya.
“Aku Rio, anak yang akan melindungi hutan ini dan isinya.” Gertakku tak melepaskan rentangan tangan ini yang semakin berang akan sikap orang berkemeja putih ini.
“Bhahaha, tahu apa kamu soal hutan ini? Anak baru kemarin sore saja!” leceh pria paruh baya ini.
“Dengar! Jika hutan tropis ini habis, lingkungan dan ekosistem akan Hancur, HANCUUR!” kesalku semakin keras. Segala teriakanku membuat tanah terasa bergemuruh kencang. Semua burung dihutan ini berhambur keudara lalu sigap menukik kebawah menuju arah lokasiku dan menghantam atap ketiga traktor tersebut. Namun gemuruh tak jua berhenti. Semak-semak bergetar keras, akar gantung berayun cepat. Ternyata semua hewan didalam hutan ini mucul dari segala penjuru. Tiga ekor badak bercula satu muncul di belakangku lalu berhenti memasang kuda-kuda. Seekor harimau Kalimantan mengintai disamping traktor terdepan membuat sang pria Tuxedo panik. Belum lagi sekawanan tapir, babi hutan, dan kijang yang kesemuanya berbaris mengitariku dan ketiga traktor membuat ketiga traktor dan masing-masing dua orang didalamnya terkepung. Hal ini menjadikanku bak berperan menjadi penglima tentara hewan. Oh Tuhan, apakah Kau mengirimkan mereka untuk menolongku?
“Oh anak muda, tenang sedikit. Aku hanya inginkan kayu hutan ini, bukan hewannya. Kau biasa mengambil hewan dan aku hutannya, oke?” tawarnya takut mengamati harimau disampingnya. Harimau tersebut sesekali menggertak dan berputar mengelilingi traktor pria Tuxedo itu.
“Semuanya penting! hewan, hutan, semuanya! Apa gunanya hewan tanpa habitat mereka? Kau tahu? Membabat hutan ini sama saja memangkas masadepan dunia! Pulau Kalimantan ini adalah wilayah hutan hujan kedua terbesar didunia! Didunia pak! Bayangkan kalau luasnya dunia ini peringkat kedua terbesar hanya ada di pulau kecil ini! Masih saja kau ingin mengurangi jumlahnya.” gertakku mengepalkan tangan sekuat-kuatnya.
“Masa bodoh dengan dunia! Aku, Hendra Subrata ingin menguasai seluruh perkebunan sawit di pulau kaya ini. Camkan itu!” angkuhnya.
“Hendra? Kau orang licik adalah ayah dari Henry?” tanyaku semakin marah.
“Iya, sahabat terbaikmu Rio! Sudahlah, bicara denganmu hanya buang-buang waktu saja. Hei, jalankan kembali traktor ini!” pinta pak Hendra pada pengemudinya. Traktorpun kembali dihidupkan sehingga mambuat para tentara hewan kalap mendengar suara gahar sang traktor dan berhambur kedalam hutan hingga tak terlihat sama sekali meninggalkan aku dan Cikung berdua. “Hahaha, lihatlah Rio! Kau hanya tinggal berdua sekarang!” gertaknya memutar balik kedaan. Situasi ini membuat pak Hendra berada diatas angin, namun aku tidak akan mau kalah.
“Pergi sana cikung! Aku akan menghadapinya sendiri!” ungkapku teguh. Cikung yang tadinya melawan, aku paksa hingga ia berlari kebelakang sebatang pohon sambil berharap-harap cemas. “Aku akan melindungi hutan ini meski harus mati sekalipun!” berangku tajam agak rendah. Traktor semakin dekat meregangkan nyawaku. Bolong didahiku semakin membuatku tersiksa. Aneh, aku tak merasakan kegentaran sama sekali membayangkan ajalku hanya tinggal beberapa jengkal. Sementara semak-semak terus bergetar keras lagi namun sama sekali takku hiraukan.
Mata pisau hanya beberapa senti dari pelupuk mataku, aku tetap berdiri kaku melawan. Traktor terdepan tiba-tiba berhenti.
“Cukup Rio!” lawan suatu suara yang kukenal sebagai suara si centeng di balai desa tempo hari. Apa apa ini?
“Abang?” Bingungku sumringah sembari memalingkan wajah ke belakang. Ternyata tak hanya si centeng, tapi semua warga desaku datang dan berdiri dibelakangku untuk membantu. Oh Tuhan, terima kasih.
“Tenanglah nak, kau sudah lebih dari luar biasa melindungi hutan ini dan menyadarkan para warga.” Ungkap ibu disela-sela mereka.
“Ibu? Ibu datang?” tanyaku lelah sudah tak bisa mengeluarkan kata-kata keras. Namun, aku kembali memalingkan wajah ke pak Hendra dengan lebih percaya diri dengan semua warga menjadi kaki dan tanganku yang sudah rentan.
“Oh, jadi bala bantuan ya? Mengharukan sekali!” ejek pak Hendra tanpa peri kemanusiaan sama sekali dengan sikap tetap dingin. “Hei, warga tak tahu diuntung, apa kalian tidak takut saya pecat semua?” gertaknya.
“Tidak, karena kami sidah tahu belangmu, kau mengiming-imingi kami pekerjaan agar kami percaya, padahal kau ingin mencuri kayu gelondongan ini, ya kan?” ungkap paman Arki yang memang bekerja pada perkebunan sawit sekarang yang sudah siap sedia dengan parangnya. Para warga inipun patut marah karena kebanyakan dari mereka bekerja di perkebunam sawit pak Hendra.
“Oh, jadi kalian sudah pintar ya? Tapi aku sudah tak membutuhkan kalian lagi, karena aku akan menjadi miliyarder di Jakarta, hahaha.” Tepisnya masih angkuh, “Sekarang, hidupkan lagi traktornya, kita hancurkan mereka semua!” perintah lagi kepada ketiga pengemudi. Uratku menimbul semua. Kengerian akan terjadinya bentrokan lebih menakutkan bagiku dibandingkan kehilangan nyawa karena hal yang benar karena ini melibatkan banyak orang. Sikap dingin pak Hendra membuat lima puluhan warga geram dan kesal. Betapa bersalahnya aku jika ada korban jatuh akibat keyakinan dan keteguhanku. Aku mulai takut.
“Ayo warga, SERBUUUU!” komando sang centeng memimpin garda dengan golok kesayangannya. Sementara aku berlalu dari setiap langkah kaki amarah mereka, ini salahku. Warga berusaha menaiki traktor setinggi tiga meter dan menghentikan lajunya. Membuat pak Hendra dan kaki tangannya terjepit.
“Bapak, Paman, tolong hentikan!” pintaku yang sama sekali diabaikan mereka semua. “Ini salah paham, tolong hentikan! Aku tidak mau ada korban berjatuhan!” Mintaku hampir menyerah. Tetapi para warga masih berusaha menguasai ketiga traktor tersebut. Sampai akhirnya keajaiban terjadi.
Dorrr
Suara pistol membahana jauh kelangit, “Jatuhkan senjata kalian!” Ujar seorang diantara enam personil berbaju coklat dengan lencana dimana-mana, polisi. Para warga pun terkejut dan langsung menghentikan usaha mereka dan turun membuat barisan disampingku tanpa senjata yang mereka hempaskan ketanah. Pak Hendrapun terlihat merasa lega tidak jedi bulan-bulanan warga.
“Wah pak, sepertinya ada salah paham disini. Saya nggak salah kan pak?” lega pak Hendra yang tengah terjepit.
“Belum tentu, semua akan dijelaskan sesaat lagi!” cetus seorang polisi lagi. Tak berselang lama, seorang pria paruh baya bercelana coklat rapih ditambah kemeja hijau muncul diri balik kerimbunan belukar.
“Perhatian, saya Barkah, anggota DPRD kabupaten Barito Kuala yang menerima laporan pembalakan liar.” Buka pria itu dengan penuh wibawa.
“Liar? Ini tidak melanggar hukum pak! Saya sudah izin dengan polhutan!” tepis pak Hendra lari dari kesalahan.
Pak Barkah melangkah kedepan traktor dan melanjutkan pembicaraan. “Maaf pak Hendra, sesuai perda Kalimantan Tengah No. 22 tahun 2004 menyatakan bahwa seluruh hutan Barito adalah hutan lindung, termasuk yang sudah bapak garap!” jelasnya lengkap dilanjuti dengan jeda panjang.
“Hutan lindung?” bingung warga.
“Bukankah ini semua hutan garapan pak?” kejut pak Hendra yang sama sekali terungkap kobohongannya karena keringat mencair disekujur tubuhnya dan badan yang terlihat tegang gemetar.
“Oleh karena itu sebelum menggarap, pak Hendra teliti terlebih dahulu hukum yang berlaku!” lanjut pak Berkah. “Dan karena itu pula kami berhak untuk menahan anda pak.” Vonis pak Berkah. Seketika tu pula, para polisi membekuk pak Hendra eserta lima orang kaki tanggannya yang mengemudikan traktor. Dengan elakan dan perlawanan sekuatnya, pak Hendra dan anak buahnya digiring ke kantor polisi terdekat.
Sejak saat itu pak Barkah terus mendapat ucapan selamat dari para warga secara silih berganti. Setelah itu, pak Barkah menghampiriku dan merengkul pundakku, “Kau sungguh hebat nak, bertarung sendiri melawan saudagar kaya dan anak buahnya.” Pujinya setinggi langit.
“Aku juga takkan berhasil melakukannya jika tanpa bantuan para warga dan bapak. Dan aku juga tak ingin lingkungan musnah karena manusia itu.” Balasku merendah tak mampu menyembunyikan kegembiraan. Pak Barkahpun tersenyum padaku.
“Terima kasih ya nak, atas sikap patriotismemu!” tutur pak Barkah seraya memelukku. Pelukan yang begitu hangat dan nyaman, aku merasa aman sekali berada didekat pak Barkah.
“Bapak tahu? nama bapak itu seperti nama ayahku yang telah lama pergi.” Ungkapku menunduk rindu.
“Benarkah?” bingungnya melepas pelukannya dengan lembut dan menengok kearah ibu yang sejak tadi tak berpaling pandangan dari pak Barkah. “Karti?” panggilnya begitu hangat.
“Ayah? Sudah lama sekali.” Ungkap ibu menghampiri pak Barkah dan memeluknya erat-erat. “Ibu tahu ayah pasti akan pulang.” Rintihnya mengeluarkan air mata dalam peluk pak Berkah membuatku bingung.
“Ibu, bisa jelaskan ini padaku?” pintaku mencoba melerai ibu dengan pak Barkah.
Ibu melepas pelukan dengan sangat sumringah. “Nak, doamu selama ini terkabul.” Katanya menatap sayang pak Barkah, “Pak Berkah ini memang ayahmu.”
Dunia sekan-akan menerbangkanku melayang tinggi keangkasa lalu menghempaskanku jauh ketanah dengan sangat sakit. “Ayah? Kalau kau ayahku, kenapa kau baru muncul sekarang?” bentakku. “Kami sudah cukup bergelimang kemiskinan , tahu!” kesalku didepan mereka berdua.
“Sudah nak tidak apa-apa, yang penting ayah sudah ada disini sekarang.” Jelas ibu menenangkan.
“Maafkan ayah selama ini, ayah mencoba mencari kalian di seluruh penjuru pulau ini namun ayah tak berhasil. Tapi ayah berjanji akan tinggal bersama kalian disini, membangun rumah baru dan apapun yang kau mau!” tawarnya.
Aku yang selalu punya satu keinginan berubah menjadi senang sekejap. “Benarkah? Apa Cikung boleh tinggal bersama kita?” pintaku lugu menunjuk Cikung yang kembali dipunggungku.
“Tentu saja boleh, karena dia hanya sendiri kan disini.” Kata ayah. Cikungpun melompat-lompat kegirangan.
“Terima kasih ya yah!” Aku, Cikung, ayah, dan ibupun saling berpelukan. Tak pernah kubayangkan keluargaku akan berkumpul lagi. Tapi perasaanku tetap mengganjal dijantung, sakit sekali. “Ayah, yang memanggil ayah itu siapa sampai ayah bisa kesini?” tanyaku melepas pelukan. Wargapun menghampiri kami dan berkerumun.
“Orang itu sanggat berjasa nak. Ialah yang berhasil menelepon polisi dan memberi tahu ayah tentang ini.” Ungkap ayah didepanku.
“Orang itu jugalah yang berhasil menyadarkan kami akan niat jahat Pak Hendra. Dan merangkul kami mendukungmu melawan pak Hendra.” Tambah seorang ibu diantara kerumunan.
“Ah, siapa orang itu? aku jadi penasaran nih!” balasku tidak sabar.
Selang waktu berikutnya warga membuka jalan kecil menuju hutan, “Orang disanalah yang melakukannya.” Ujar ibu menunjuk sesosok laki-laki sebaya denganku lusuh, seperti tidak tidur semalam, berdiri berharap dibawah kerimbunan hutan, menatapku tajam penuh harapan; Henry.
Aku berlari kencang kearahnya. Iapun tertawa lalu tos denganku, ”Hei sobat, aku minta maaf telah melepas kepercayaan padamu!” dalihku gembira.
“Yang sudah ya sudah, sekarang ayo kita pulang, dan memulai kehidupan yang baru!” balas Henry sembil merangkulku dan Cikung pulang ke desa. Ayah, Ibu,dan para warga mengikuti penuh keceriaan dibelakang.
Setelah bengkrut, Pak hendra menjual perkebunannya kepihak kontraktor yang sangat ramah. Sehingga membuat kehidupan warga lebih baik. Henry yang tak pernah sependapat dengan ayahnya sejak ibunya meinggal tiga tahun lalu memilih tinggal bersamaku dan menjadi saudara. Cikungpun senang dirumahku sekarang, tapi aku tetap menyimpan rencana dengan ayah untuk memberinya pasangan. Terima kasih Tuhan atas segala balasanmu yang tiada banding.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar