Assalamualaikum warrah matullahi wabarokatuh
Hai
Sudah lama sekali semenjak terakhir kali saya menulis. Hampir
satu semester saya tidak memainkan jemari ini untuk kembali mengasah kemampuan
menulis. Banyak ide dan pikiran juga yang mengalir sepanjang waktu yang tidak
sempat saya tuangkan lagi kedalam tulisan. Mungkin tepatnya semenjak saya
ditolak dari manajemen di satu upk. Remuk hati saya mengingat saya sudah
berusaha semampu dan semaksimal yang saya bisa untuk masuk kedalam magang
redaksinya.
Semester satu kemarin bukanlah masa-masa yang mulus bagi
saya. Disamping rasa syukur dan bangga saya karena diberi amanat memegang
angkatan, banyak diantara peristiwa yang mengecewakan dan merupakan kemunduran
dari target yang saya canangkan di awal kuliah. Kegagalan demi kegagalan telah
menyurutkan mental saya sehingga minim semangat untuk mengejarnya lagi. Sebuah momen
yang seharusnya tidak saya ulang kembali di semester mendatang.
Pada awalnya saya optimis dapat mmembagi fokus saya ke
berbagai macam bidang; akademik, olahraga, seni, hobby, dan bermain. Namun kenyataannya
saya justru terseret oleh tuntutan akademik dan terbuai oleh nikmatnya
bersantai, bermain, dan berleha-leha. Sungguh sesuatu yang disayangkan
mengingat usia saya yang sudah tidak muda lagi. Target membuat novel pun
kembali kandas. Lagi-lagi kandas oleh kemauan yang rasanya ingin ditonjok.
Ada satu momen yang menjadi titik nadir mental dan semangat
saya. Saya kehilangan sesuatu yang saya perjuangkan semenjak lama, sesuatu yang
mampu merubah segalanya. Saya tidak ingin, namun faktanya semua yang saya
lakukan ada hubungannya dengan peristiwa itu. Padahal saya pikir saya telah
memeliharanya dengan baik. Akan tetapi aksi yang saya berikan saja tidak cukup
apabila yang disana tidak memberikan reaksi positif. Saya berusaha
memperbaikinya sepanjang waktu, namun belum berhasil. Hingga saya sadari saat
ini memang bukanlah saat yang tepat. Saya perlu lebih banyak belajar dari apa
yang telah menjadi keputusan. Karena pelajaran dapat didapat dari mana saja,
saya akhirnya menyadari bahwa saya harus belajar dari ini dan akan terus
berusaha memperbaikinya, bukan meninggalkannya.
Sampai sekarang saya masih menunggu momentum untuk balik
lagi ke jalur yang seharusnya. Dimanakah momentum itu berada? Saya benci saat
menemukan bahwa saya sendiri yang harus momentum itu. Hati kecil saya
menginginkan ada satu hal yang mampu mengubah segalanya dari segi positif. Satu
hal yang menyalakan sekam semangat saya yang telah lama redup.
saya yakin sebentar lagi matahariakan terbit dan menerangi apapun yang dilihatnya, optimis adalah modal awal untuk menatap hari kedepan. karena masa depan dari masa kecil dulu telah dimulai :)
Nantikan tulisan saya selanjutnya
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarokatu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar