Jumat, 06 Februari 2015

Nulis Lagi

Assalamualaikum warrah matullahi wabarokatuh

Hai

Sudah lama sekali semenjak terakhir kali saya menulis. Hampir satu semester saya tidak memainkan jemari ini untuk kembali mengasah kemampuan menulis. Banyak ide dan pikiran juga yang mengalir sepanjang waktu yang tidak sempat saya tuangkan lagi kedalam tulisan. Mungkin tepatnya semenjak saya ditolak dari manajemen di satu upk. Remuk hati saya mengingat saya sudah berusaha semampu dan semaksimal yang saya bisa untuk masuk kedalam magang redaksinya.

Semester satu kemarin bukanlah masa-masa yang mulus bagi saya. Disamping rasa syukur dan bangga saya karena diberi amanat memegang angkatan, banyak diantara peristiwa yang mengecewakan dan merupakan kemunduran dari target yang saya canangkan di awal kuliah. Kegagalan demi kegagalan telah menyurutkan mental saya sehingga minim semangat untuk mengejarnya lagi. Sebuah momen yang seharusnya tidak saya ulang kembali di semester mendatang.

Pada awalnya saya optimis dapat mmembagi fokus saya ke berbagai macam bidang; akademik, olahraga, seni, hobby, dan bermain. Namun kenyataannya saya justru terseret oleh tuntutan akademik dan terbuai oleh nikmatnya bersantai, bermain, dan berleha-leha. Sungguh sesuatu yang disayangkan mengingat usia saya yang sudah tidak muda lagi. Target membuat novel pun kembali kandas. Lagi-lagi kandas oleh kemauan yang rasanya ingin ditonjok.

Ada satu momen yang menjadi titik nadir mental dan semangat saya. Saya kehilangan sesuatu yang saya perjuangkan semenjak lama, sesuatu yang mampu merubah segalanya. Saya tidak ingin, namun faktanya semua yang saya lakukan ada hubungannya dengan peristiwa itu. Padahal saya pikir saya telah memeliharanya dengan baik. Akan tetapi aksi yang saya berikan saja tidak cukup apabila yang disana tidak memberikan reaksi positif. Saya berusaha memperbaikinya sepanjang waktu, namun belum berhasil. Hingga saya sadari saat ini memang bukanlah saat yang tepat. Saya perlu lebih banyak belajar dari apa yang telah menjadi keputusan. Karena pelajaran dapat didapat dari mana saja, saya akhirnya menyadari bahwa saya harus belajar dari ini dan akan terus berusaha memperbaikinya, bukan meninggalkannya.

Sampai sekarang saya masih menunggu momentum untuk balik lagi ke jalur yang seharusnya. Dimanakah momentum itu berada? Saya benci saat menemukan bahwa saya sendiri yang harus momentum itu. Hati kecil saya menginginkan ada satu hal yang mampu mengubah segalanya dari segi positif. Satu hal yang menyalakan sekam semangat saya yang telah lama redup.

saya yakin sebentar lagi matahariakan terbit dan menerangi apapun yang dilihatnya, optimis adalah modal awal untuk menatap hari kedepan. karena masa depan dari masa kecil dulu telah dimulai :)

Nantikan tulisan saya selanjutnya


Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarokatu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar