Kamis, 08 Mei 2014

Awas Baeku Galak! #2 (cerpen)




                “Huh, selesai juga.” Ujarku rendah seusai mendengar lonceng pulang sekolah untuk kesekian kalinya. Bel pulang sekolah berarti meninggalkan kelas yang nyaman dan sejuk ini menuju siang hari yang terik. Namun juga seperti keluar dari penjara panas tempat pelajaran panas ada, matematika dan fisika di jam terakhir. Sungguh menyebalkan.

                Pak guru gendut gundul telah mempersilahkan kami keluar. Aku lantas lari paling depan keluar kelas nyaman namun memenyiksa itu menuju udara kebebasan. Aku mencari teman teman kelas sebelahku yang memang kebanyakan anggota remaja masjid.

                “Bert! Ayolah main bola, ajak anak-anak kelas lo.” Ajak Fatih. Tanpa aku kumpulkan pun teman teman remaja masjid kelasku sudah berkumpul dengan sendirinya. Sudah paham bahwa rabu siang saatnya menggelar permainan bola seadanya. Tanpa alas kaki dan hanya mengandalkan bola plastik kami dapat dengan riang menghabiskan siang hari.

                “Ayoo maju maju semua tim gue!” Seru Yasir menggebu-gebu bersiap  melempar bola ke rekannya bak Gianluigi Buffon saat timnya tertinggal. Namun sayang, lagi-lagi bola lemparannya justru terbawa angin dan melebar ke luar lapangan.

                “Ah bego lo sin lempar aja ga becus.” Bentak Tegar yang tadinya telah bersiap di gawang lawan untuk menyambut lemparan Yasir. Kami yang lain tertawa melihat tingkah konyol yasir. Pertandingan pun sempat terhenti karena semua pemain jatuh dalam gelak tawa.

                “Lo lempar bola kaya melempar singkong.” Ujar  Baeku.

                Begitulah permainan kami hingga seterusnya.

                Setelah lelah bermain sebagian kami bergegas solat Ashar termasuk aku. Memori sepanjang permainan tak luput dari perbincangan kami sesaat sebelum solat.

                Jamaah solat telah bubar, waktunya melegakan tenggorokan di warung Mail atau bang Mail. Akantetapi ada yang membuat kami terkejut karena jalanan di depan sekolah.

                “Eh ada apa itu Sein?” Husein menggeleng.

                “Mana gue tau ‘kan daritadi gue solat sama lo.” Jawabnya

                “Oh iya.” Aku mempercepat langkahku ke bang Mail. “Mail, ada apa ramai-ramai begini?” tanyaku.

                “Hmm itu badak papua ribut.” Jawab Mail

                “Ha Siape? Baeku pasti ya? Ada-ada aja itu bocah. Ribut sama siapa sekarang Mail?” Tambah Fatih yang datang bersamaku pula.

                “Sekarang sama karyawan botak tuh, si Rofii. Katenye sih gara-gara Baeku mau minta air galon tadi. Terus nggak dikasih sama Rofii. Nah marah si Baeku. Bener sih memang itu galon bukan punya Rofii, Baekunya juga lagi capek abis main bola barangkali. Abis debat karena air gallon jadi tabok-tabokan orang berdua.” Mail menjelaskan versi Baeku yang tadi sempat ke warung Mail. Setelah itu Mail menuturkan bahwa Baeku dan Rofii akhirnya dipanggil oleh Pak Yahya dan disidang saat itu juga. Bang Mail juga berkata, “Sampai keluar sekolah berkelahinya. Itu lihat di depan gerbang pecahan piring dua-duanya melempar gelas sama piring, untung warga sini misahin tadi.”

                “Ah gila banget Baeku kaya kesetanan, gimana sih kalo dikelas Sut?” disana rombongan remaja masjid yang bersamaku ada aku, Fiki, Husain, Suta, dan Fatih.

                “Baik Kih kalo dikelas, iya ‘kan sut?” sela Husain selagi Suta sedang asyik dengan kebiasaannya, melamun.

                “Iya Fik, dikelas mah sama siapa aja dia baik.” Ujar Suta terlambat. “Malah sering digoda sama temen-temennya.”
  
                “Usil juga orangnya.” Tambah Fatih. Husein, Fatih, dan Suta satu kelas dengan Baeku, sedangkan aku dan Fiki berada di sebelah kelas mereka.

Tidak terasa minuman kami masing-masing telah habis. Udara semakin bersahabat dan tidak terik seperti tadi siang. Suasana yang tegang pun sudah mencair kembali oleh tawa kami yang ada disana. Fatih dan Suta hendak pulang ketika Baeku dengan raut wajah kesalnya keluar dari sekolah. Ah apa yang telah diputuskan?

 "Heh Baeku dateng tuh tanyain deh." kata Fatih beranjak dari motornya tidak jadi pulang.
"Awas Baeku galak!" Seloroh Fiki sambil tertawa. sementara itu Baeku semakin mendekat. aku tak berani sok akrab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar