“Huh,
selesai juga.” Ujarku rendah seusai mendengar lonceng pulang sekolah untuk
kesekian kalinya. Bel pulang sekolah berarti meninggalkan kelas yang nyaman dan
sejuk ini menuju siang hari yang terik. Namun juga seperti keluar dari penjara
panas tempat pelajaran panas ada, matematika dan fisika di jam terakhir.
Sungguh menyebalkan.
Pak
guru gendut gundul telah mempersilahkan kami keluar. Aku lantas lari paling
depan keluar kelas nyaman namun memenyiksa itu menuju udara kebebasan. Aku
mencari teman teman kelas sebelahku yang memang kebanyakan anggota remaja
masjid.
“Bert!
Ayolah main bola, ajak anak-anak kelas lo.” Ajak Fatih. Tanpa aku kumpulkan pun
teman teman remaja masjid kelasku sudah berkumpul dengan sendirinya. Sudah
paham bahwa rabu siang saatnya menggelar permainan bola seadanya. Tanpa alas
kaki dan hanya mengandalkan bola plastik kami dapat dengan riang menghabiskan
siang hari.
“Ayoo
maju maju semua tim gue!” Seru Yasir menggebu-gebu bersiap melempar bola ke rekannya bak Gianluigi
Buffon saat timnya tertinggal. Namun sayang, lagi-lagi bola lemparannya justru
terbawa angin dan melebar ke luar lapangan.
“Ah
bego lo sin lempar aja ga becus.” Bentak Tegar yang tadinya telah bersiap di
gawang lawan untuk menyambut lemparan Yasir. Kami yang lain tertawa melihat
tingkah konyol yasir. Pertandingan pun sempat terhenti karena semua pemain
jatuh dalam gelak tawa.
“Lo
lempar bola kaya melempar singkong.” Ujar
Baeku.
Begitulah
permainan kami hingga seterusnya.
Setelah
lelah bermain sebagian kami bergegas solat Ashar termasuk aku. Memori sepanjang
permainan tak luput dari perbincangan kami sesaat sebelum solat.
Jamaah
solat telah bubar, waktunya melegakan tenggorokan di warung Mail atau bang
Mail. Akantetapi ada yang membuat kami terkejut karena jalanan di depan
sekolah.
“Eh ada
apa itu Sein?” Husein menggeleng.
“Mana
gue tau ‘kan daritadi gue solat sama lo.” Jawabnya
“Oh
iya.” Aku mempercepat langkahku ke bang Mail. “Mail, ada apa ramai-ramai
begini?” tanyaku.
“Hmm
itu badak papua ribut.” Jawab Mail
“Ha
Siape? Baeku pasti ya? Ada-ada aja itu bocah. Ribut sama siapa sekarang Mail?”
Tambah Fatih yang datang bersamaku pula.
“Sekarang
sama karyawan botak tuh, si Rofii. Katenye sih gara-gara Baeku mau minta air
galon tadi. Terus nggak dikasih sama Rofii. Nah marah si Baeku. Bener sih
memang itu galon bukan punya Rofii, Baekunya juga lagi capek abis main bola
barangkali. Abis debat karena air gallon jadi tabok-tabokan orang berdua.” Mail
menjelaskan versi Baeku yang tadi sempat ke warung Mail. Setelah itu Mail
menuturkan bahwa Baeku dan Rofii akhirnya dipanggil oleh Pak Yahya dan disidang
saat itu juga. Bang Mail juga berkata, “Sampai keluar sekolah berkelahinya. Itu
lihat di depan gerbang pecahan piring dua-duanya melempar gelas sama piring,
untung warga sini misahin tadi.”
“Ah
gila banget Baeku kaya kesetanan, gimana sih kalo dikelas Sut?” disana
rombongan remaja masjid yang bersamaku ada aku, Fiki, Husain, Suta, dan Fatih.
“Baik
Kih kalo dikelas, iya ‘kan sut?” sela Husain selagi Suta sedang asyik dengan
kebiasaannya, melamun.
“Iya
Fik, dikelas mah sama siapa aja dia baik.” Ujar Suta terlambat. “Malah sering
digoda sama temen-temennya.”
“Usil
juga orangnya.” Tambah Fatih. Husein, Fatih, dan Suta satu kelas dengan Baeku,
sedangkan aku dan Fiki berada di sebelah kelas mereka.
Tidak terasa minuman kami
masing-masing telah habis. Udara semakin bersahabat dan tidak terik seperti
tadi siang. Suasana yang tegang pun sudah mencair kembali oleh tawa kami yang
ada disana. Fatih dan Suta hendak pulang ketika Baeku dengan raut wajah
kesalnya keluar dari sekolah. Ah apa yang telah diputuskan?
"Heh Baeku dateng tuh tanyain deh." kata Fatih beranjak dari motornya tidak jadi pulang.
"Awas Baeku galak!" Seloroh Fiki sambil tertawa. sementara itu Baeku semakin mendekat. aku tak berani sok akrab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar