Makanan
merupakan kebutuhan yang tidak dapat diganggu gugat kadarnya. Seperti udara
yang kita hirup, asupan makanan harus selalu dipenuhi secara rutin setiap hari.
Semua orang didunia memiliki kebutuhan akan makanan, selain karena manfaatnya
sebagai sumber energi dalam beraktivitas juga sebagai gaya hidup. Makanan di
berbagai daerah dan Negara memiliki keanekaragaman dalam soal rasa masakan,
tampilan, bahkan tata krama mengonsumsi. Di Indonesia sendiri ada banyak jenis
makanan yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Seperti Rendang di Sumatera
barat Hingga Sagu di Papua. Akan tetapi saya sangat menyayangkan mentalitas
sejumlah produser makanan yang justru mengimbangi keberagaman makanan Indonesia
dengan cara pengolahan yang tidak jujur dan mencelakakan pengonsumsinya demi
iming-iming keuntungan besar.
Ketidakjujuran
para produser Makanan ini tentu saja akan mempengaruhi gizi pengonsumsinya.
Gizi yang seharusnya seimbang terpaksa dirusak oleh makanan yang tidak bergizi.
Seperti kita lihat Sekitar 37,3 juta penduduk hidup di bawah
garis kemiskinan, separo dari total rumah tangga mengonsumsi makanan kurang
dari kebutuhan sehari-hari, lima juta balita berstatus gizi kurang, dan lebih
dari 100 juta penduduk berisiko terhadap berbagai masalah kurang gizi.
Angka
diatas menunjukkan bahwa tingkat kesehatan warga Indonesia masih jauh dari
normal. Masih banyak saudara kita yang kekurangan gizi disebabkan oleh makanan
yang tidak sehat. Kemiskinan memicu warga untuk mengencangkan sabuk, mencari
cara agara apa yang mereka makan dapat terjangkau oleh pendapatan mereka.
Apapun dilakukan termask berusaha untuk tidak jujur. Tentu saja hal ini menjadi
boomerang bagi kesehatan mereka sendiri.
Apabila
kita telusuri rantai produksi hingga konsumsi masyarakat dalam hal ini di DKI
Jakarta, kecurangan lebih banyak terjadi terhadap kalangan menengah kebawah.
Hal ini terjadi karena kecurangan akan berbuah pada harga bahan dan makanan
murah yang menjadi tujuan belanja kaum marjinal. Bisa kita lihat dari banyaknya
pasien Rumah Sakit kelas 3 yang berobat setiap hari. Ini menunjukkan bahwa
jelas mengapa kaum menengah kebawah lebih sering terserang penyakit yang
mewabah. Selain disebabkan makanan yang buruk juga kareena lingkungan yang
tidak higienis.
Saya
Mengambil contoh apa yang terjadi di sekitar rumah saya tinggal. Disini ada
penjual ayam goring keliling setiap habis Maghrib. Banyak yang membelinya
termasuk adik-adik saya. Setelah saya tanya, rasanya enak namun saya kaget saat
adik saya bilang bahwa harga satu sayap paha hanya dua ribu rupiah. Saya ingin
membeli sebelumnya, tetapi ketika melihat
ayam yang dimasak sangat kurus tanpa daging. Hanya ada tulang yang
garing karena digoreng. Suatu waktu saya sempat melihat gerobag si abang ayam
ini. Minyak yang dipakai sungguh gelap pekat. Sebenarnya tidak layak untuk
dijadikan bahan memasak. Saya kecewa dalam hati.
Beberapa hari kemudian penyakitpun
merebak. Tetangga saya yang sering mengonsumsi ayam langsung terpapar efeknya
keesokan pagi. Beberapa kali Ia harus ke kamar mandi karena ayam gerobag
tersebut. Anak yang masih balita ini gemar sekali memakan ayam kurang sehat
bersama teman-teman sebayanya. Bahkan beberapa temannya juga ikut terserang
penyakit yang sama. Diare.
Beragam penyakit yang menjangkit
anak-anaknya tidak membuat orang tua mereka sadar bahwa makanan yang dibeli
anaknya menyebabkan penyakit. Setelah peristiwa diare tersebut masih saja
anak-anak sekitar rumah saya membeli ayam gerobag tersebut. Kecuali adik saya
paling kecil. Ia urung memebeli lagi setelah ibu melarang dan menjelaskan
bahayanya.
Dari kejadian diatas saya dapat
mengambil pelajaran dari fakta keterbelakangan pola pikir masyarakat Indonesia
dalam menghadapi penyakit. Kita lebih cenderung memilih untuk mengobati
penyakit yang sudah terlanjur terjadi daripada berusaha mencegahnya. Dengan
mengobati, kemungkinan sembuh hanya 50 persen saja namun jika kita mencegahnya
dari jauh hari, bukan tidak mungkin penyakit enggan bersarang di tubuh kita.
Andaikan masyarakat kita lebih sadar
akan pencegahan penyakit, tentu tingkat kesehatan masyarakat Indonesia
meningkat. Para bayi tidak perlu menangis setiap malam, Ibu bisa beristirahat
lebih nyenyak, ayah bisa mencari nafkah dengan tenang, tidak ada lagi antrian
di puskesmas bahkan pasien terlantar. Pemerintahpun tidak harus menggelontorkan
anggaran lebih banyak untuk bidang kesehatan. Namun, semua kembali lagi pada
bagaimana masyarakat itu sendiri, pengertian akan pentingnya kesehatan sangat
diperlukan, penyuluhan di berbagai media juga cukup strategis mengenai masyarakat
saat ini. Yang terpenting semua berjalan berkesinambungan demi tertanamnya pola
hidup bersih dan sehat dalam masyarakat luas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar