Rabu, 14 Agustus 2013

Makanan dan Kesehatan Masyarakat Indonesia



            Makanan merupakan kebutuhan yang tidak dapat diganggu gugat kadarnya. Seperti udara yang kita hirup, asupan makanan harus selalu dipenuhi secara rutin setiap hari. Semua orang didunia memiliki kebutuhan akan makanan, selain karena manfaatnya sebagai sumber energi dalam beraktivitas juga sebagai gaya hidup. Makanan di berbagai daerah dan Negara memiliki keanekaragaman dalam soal rasa masakan, tampilan, bahkan tata krama mengonsumsi. Di Indonesia sendiri ada banyak jenis makanan yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Seperti Rendang di Sumatera barat Hingga Sagu di Papua. Akan tetapi saya sangat menyayangkan mentalitas sejumlah produser makanan yang justru mengimbangi keberagaman makanan Indonesia dengan cara pengolahan yang tidak jujur dan mencelakakan pengonsumsinya demi iming-iming keuntungan besar. 
            Ketidakjujuran para produser Makanan ini tentu saja akan mempengaruhi gizi pengonsumsinya. Gizi yang seharusnya seimbang terpaksa dirusak oleh makanan yang tidak bergizi. Seperti kita lihat Sekitar 37,3 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, separo dari total rumah tangga mengonsumsi makanan kurang dari kebutuhan sehari-hari, lima juta balita berstatus gizi kurang, dan lebih dari 100 juta penduduk berisiko terhadap berbagai masalah kurang gizi.
            Angka diatas menunjukkan bahwa tingkat kesehatan warga Indonesia masih jauh dari normal. Masih banyak saudara kita yang kekurangan gizi disebabkan oleh makanan yang tidak sehat. Kemiskinan memicu warga untuk mengencangkan sabuk, mencari cara agara apa yang mereka makan dapat terjangkau oleh pendapatan mereka. Apapun dilakukan termask berusaha untuk tidak jujur. Tentu saja hal ini menjadi boomerang bagi kesehatan mereka sendiri.
            Apabila kita telusuri rantai produksi hingga konsumsi masyarakat dalam hal ini di DKI Jakarta, kecurangan lebih banyak terjadi terhadap kalangan menengah kebawah. Hal ini terjadi karena kecurangan akan berbuah pada harga bahan dan makanan murah yang menjadi tujuan belanja kaum marjinal. Bisa kita lihat dari banyaknya pasien Rumah Sakit kelas 3 yang berobat setiap hari. Ini menunjukkan bahwa jelas mengapa kaum menengah kebawah lebih sering terserang penyakit yang mewabah. Selain disebabkan makanan yang buruk juga kareena lingkungan yang tidak higienis.
            Saya Mengambil contoh apa yang terjadi di sekitar rumah saya tinggal. Disini ada penjual ayam goring keliling setiap habis Maghrib. Banyak yang membelinya termasuk adik-adik saya. Setelah saya tanya, rasanya enak namun saya kaget saat adik saya bilang bahwa harga satu sayap paha hanya dua ribu rupiah. Saya ingin membeli sebelumnya, tetapi ketika melihat  ayam yang dimasak sangat kurus tanpa daging. Hanya ada tulang yang garing karena digoreng. Suatu waktu saya sempat melihat gerobag si abang ayam ini. Minyak yang dipakai sungguh gelap pekat. Sebenarnya tidak layak untuk dijadikan bahan memasak. Saya kecewa dalam hati. 
            Beberapa hari kemudian penyakitpun merebak. Tetangga saya yang sering mengonsumsi ayam langsung terpapar efeknya keesokan pagi. Beberapa kali Ia harus ke kamar mandi karena ayam gerobag tersebut. Anak yang masih balita ini gemar sekali memakan ayam kurang sehat bersama teman-teman sebayanya. Bahkan beberapa temannya juga ikut terserang penyakit yang sama. Diare.
            Beragam penyakit yang menjangkit anak-anaknya tidak membuat orang tua mereka sadar bahwa makanan yang dibeli anaknya menyebabkan penyakit. Setelah peristiwa diare tersebut masih saja anak-anak sekitar rumah saya membeli ayam gerobag tersebut. Kecuali adik saya paling kecil. Ia urung memebeli lagi setelah ibu melarang dan menjelaskan bahayanya.
            Dari kejadian diatas saya dapat mengambil pelajaran dari fakta keterbelakangan pola pikir masyarakat Indonesia dalam menghadapi penyakit. Kita lebih cenderung memilih untuk mengobati penyakit yang sudah terlanjur terjadi daripada berusaha mencegahnya. Dengan mengobati, kemungkinan sembuh hanya 50 persen saja namun jika kita mencegahnya dari jauh hari, bukan tidak mungkin penyakit enggan bersarang di tubuh kita.

            Andaikan masyarakat kita lebih sadar akan pencegahan penyakit, tentu tingkat kesehatan masyarakat Indonesia meningkat. Para bayi tidak perlu menangis setiap malam, Ibu bisa beristirahat lebih nyenyak, ayah bisa mencari nafkah dengan tenang, tidak ada lagi antrian di puskesmas bahkan pasien terlantar. Pemerintahpun tidak harus menggelontorkan anggaran lebih banyak untuk bidang kesehatan. Namun, semua kembali lagi pada bagaimana masyarakat itu sendiri, pengertian akan pentingnya kesehatan sangat diperlukan, penyuluhan di berbagai media juga cukup strategis mengenai masyarakat saat ini. Yang terpenting semua berjalan berkesinambungan demi tertanamnya pola hidup bersih dan sehat dalam masyarakat luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar