Rabu, 17 Juli 2013

Ya Sudah (cepen) #edisiRamadhan

Siang itu kedua truk nyaris bersenggolan andai tidak berhenti. Penyempitan jalan membuat semuanya kacau. jalan yang semestinya dua jalur, kini tinggal menyisakan satu. Satu jalur untuk kedua arah, yang satu lagi mengalami perbaikan karena amblas beberapa bulan lalu. pengemudi truk dan bus besar pening tujuh keliling karena tak bisa bergerak. pengendara mobil kalut dalam bangku empuknya, menengok ke jam tangan khawatir terlambat sempai tujuan. Semua karena penyempitan jalan ini. Tapi masa bodoh bagi pengendara sepeda  motor, tekadnya untuk bisa buka puasa dirumah membuat para raja jalanan ini melakukan apa saja, termasuk melewati selah antara kedua truk tadi.

Dengan tergesa, Andi memacu motornya agar celah antar dua truk besar tidak lekas tertutup, begitu pula dengan pengendara sepeda motor yang lain. Baru melewati badan antara truk saja kepala pemuda SMA ini makin panas. Megap-megap Andi menghela nafas, menyaring sedikit udara sejuk diantara dominasi polutan, mungkin terjadi pada pengendara lain hingga mereka tak henti menekan klakson yang sebetulnya amat mengganggu disaat macet seperti ini. Apalagi sekarang masih siang, matahari belum ngantuk untuk kembali.

Terik panas mutlak menekan kesabaran Andi. Andai bukan bulan puasa mungkin Andi sudah membentak pengendara dibelakangnya.

Beruntung Andi dapan menahan kesabarannya. Selepas melewati celah itu, Andi langsung tancap gas pulang ke rumah. Di rumahpun Andi tidak bisa santai leha-leha. Karena pulang sedikit telat, Andi tidak dapat istirahat sejenak sebelum berangkat bimbel. Oleh karena itu Andi memacu kuda besinya lebih cepat agar memiliki lebih banyak waktu.


Sesampainya di rumah tubuh Andi seperti remuk. Ia mengumpat atas kesalahannya banyak bergarak di sekolah tadi. Setelah rebahan di lantai, Andi melangkah gontai menuju kamar mandi. Ia tak banyak bicara. Bari, adiknya pun seperti mengerti kalau Andi sedang lelah. Bari mengerti kalau abangnya sedang lelah maka Ia tidak bisa mengganggu.

Baru saja Andi selesai solat Ashar, telepon berdering. Bari mengangkatnya. Dari Ibu, dia bilang bahwa Rara minta dijemput di depan Pasar oleh Andi karena tidak ada angkot yang masuk ke dalam lagi. "Tolong ya mas, kasihan Rara nggak ada yang jemput."

Sontak Andi terkejut karena Ia harus  bimbel dan kalau menjemput harus jalan dua kali. Andi jadi teringat sejak dia SMP hingga sekarang tidak pernah minta dan ditawari jemputan. enak sekali Rara baru sekali masuk sekolah sudah dijemput.

Disisi lain, Rara adik Andi. kalau bukan Andi siapa lagi yang menjemputnya. Andi berada dalam dilema.

Akhirnya Andi mengorbankan waktu bimbelnya yang hanya satu jam untuk menjemput Rara. dalam hati Andi, "Yasudahlah, kasihan juga Rara kalau harus jalan dari pasar." kemudian Andi menghidupkan motornya dan melaju menuju pasar.

Baru sampai pertigaan jalan, telepon seluler berdering. Setelah diangkat ternyata Rara, "Mas, nggak usah jemput ya." setelah ditutup angkit yang membawa Rara lewat. "Woy" kata Rara. Andi pun tersenyum lega lalu melaju ke tempat bimbel.
"Alhamdulillah. Allah Maha Tahu."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar