Langit kota Magelang saat ini
sungguh terik. Jemuran para ibu di perkampungan sebelah lekas
kering sebelum sore, namun tetap bergeming sebab pemilik jemuran berlindung
sejuk di dalam rumah masing masing. Beberapa tempayan berisi ikan asin pun
sudah terlihat mengering setelah
beberapa hari. Terlihat pula segerombolan anak kecil menyerbu pedagang es
keliling ketika dia berhenti.Terasa kegembiraan bapak pedagang es ketika
dagangannya disemuti anak-anak.
Sementara dibalik tembok ini masih sibuk dengan latihan.Masih
hari rabu.Terlalu jauh berfikir istirahat.Terlalu pagi pula memikirkan
liburan.Ikhlas saja menjalani nya.Dari 12 orang yang latihan sejak pagi
tadi.Hanya tersisa dua anak.Keduanya masih asyik berlatih dan sepakat belum
lelah.
“Dapat berapa Pull Up kamu wir?”
Tanya Aris selagi bergelantungan di tiang.
Dengan sedikit tersengal, wira
menjawab sambil menghitung, “ sebelas.. dua belas…”
“Aku baru dapat sepuluh.” lanjut
Aris tanpa menagih jawaban Wira.
“Lima belas… enam belas… tujuh
belas…” kemudian Wira mengangkat tubuhnya dengan terampil dan duduk di atas
tiang Pull Up. “Sudah jam 12 Ris, paling sebentar lagi dipanggil Pak Bowo.”
Dengan tersenyum, Wira menggurau Aris, “Masa, anak TN Pull Up cuma kuat sebelas
Ris?”
“perutku lapar. Aku tidak bisa
mengeluarkan semua tenagaku kalau begini.”Tepis aris.
“Halah, alasan aja kamu.”Jawab
Wira diselingi gelak tawa.
Waktu terus berputar
mengelilingi segala yang dilaluinya.Sejak satu tahun belakangan ini Wira menjalankan
kehidupan barunya di sekolah SMA Taruna Nasional di kota Magelang ini. Ia ingin
melanjutkan karir ayahnya sebagai Angkatan Laut. Sekolah jauh membuatnya
tinggal di asrama bersama ratusan teman temannya dari berbagai penjuru daerah.
Baginya, Ia ingin mengabdi pada Negara dan mewujudkan cita-citanya sejak kecil.
Sesuatu yang diinginkan Wira. Namun dibalik semua itu banyak hal yang
mesti Ia korbankan. Jarak yang jauh dari Jakarta ini pula yang
memaksanya meninggalkan kehidupan dan teman-temannya di Jakarta.
“ahh akhirnya bisa istirahat
juga.” Gumam Wira selepas merebahkan tubuh setengah jadinya ke kasur graha.
“Wee enak yo wir? Besok dapat
tugas jaga graha kamu.Puas puasin dulu sajahari ini.”Balas Arga seperti
memenangkan sesuatu.
“Ohh iya ya.Duh gua belum cukup
tidur dari kemarin pula.”Jawab Wira seperlunya.Lebih tepatnya agar Arga senang.
Arga merengkuh guling dan
mendekapnya dgn posisi terlentang, matanya mengerjap-ngerjap.“Besok juga
latihan Paskibra ‘kan wir. Aku mesti buru-buru tidur, tapi susah sekali yah.Di
TN ini hampir setiap hari latihan fisik, apalagi kita Paskibra. Kata
temen-temenku di Temanggung sih nanti di dunia kerja ga banyak bantu. Aku jadi
berfikir kalau kita tidak jadi tentara nanti, akan jadi apa ya supaya semua
ilmu yang kita serap berguna?” jelasnya.
Wira bangkit setelah mengambil
HP di kasurnya.Belum juga membalas obrolan Arga.Seperti biasa, Wira kembali
melamun.
Kemudian ia membuka
telepon selulernya.
Kak Wiraaa, Nisa
semester pertama ini belum ranking kak, gimana nih? Pengennya sih juara kelas,
tapi saingannya susah>_<
Assalamualaykum
kak Wiraaaaa! Gimana kabarnya sih?Kok Nisa SMS gak pernah dibales ya?kakak udah
lupa sama Nisa lagi?! Hehe canda kak,
Nisa ngerti kok kakak padat banget di TN Jadwalnya. Nisa Cuma bisa bantu doa
aja kak, semoga kakak sehat selalu, kerasan disana dan dapat teman-teman yang
seru dan asyik. Nisa mau cerita nih kak perkembangan Nisa dari semester pertama
kemarin, banyak banget saingan Nisa, tapi Alhamdulillah Nisa peringkat kedua
kak! Ya ngga apa-apa lah ngga pertama. Eh kak, Ngga kerasa ya udah mau libur
semester kak, Nisa gak sabar deh jadinya hehe kakak ke Jakarta ‘kan nanti?
Seketika
kamar pengap yang dihuni Wira menjadi sejuk bersalju, terlihat cahaya cerah dan
burung berkicau.akan tetapi kasur yang Ia duduki keras bahkan menyakitkan
seperti duri.
Arga menyimak dengan sabar
sekali apa yang dilakukan Wira sebelum menjawab obrolannya.
Wira tidak nyaman dengan
posisinya, lalu Ia duduk di pinggir kasur dan menatap kearah jendela sejenak lalu
ke selulernya lagi. Kentara sekali kegelisahan Wira malam ini. Wira paham betul
tanggungjawabnya sebagai siswa Taruna Nasional, Ia pun mengerti jelas tujuannya
masuk disini untuk apa. Sejak SMP Ia mempersiapkan diri untuk menjadi siswa TN,
sebuah tekad yang juga didukung Nisa Saat itu.Mimpinya pun tak jauh dari
pohonnya, Ia ingin melanjutkan karir ayahnya di Angkatan Laut. Menjadi penerus
orang tua sudah menjadi jalan hidup salah satu anak anggota Marinir. Akantetapi
disamping itu Wira mempunyai kehidupan di Jakarta, apa yang jauh berbeda
disini. Ia memiliki sahabat-sahabatnya, apalagi kehadiran Nisa yang Ia berusaha
dapatkan sejak kelas delapan. Ia jadi teringat saat saat sulitnya mendapatkan
kepastian dari Nisa, namun Wira tak pernah khawatir sebab Ia tahu Nisa membalas sukanya. Wira tersenyum
sendiri mengingat hal-hal itu.
Arga menangkap senyuman aneh
Wira, “Hey!malah cengegesan. Gimana?”
“Eh iya. Gua sih kalo ngga
disini mau ngambil perminyakan ITB jalur Undangan Ga, tapi pikir deh buat apa
kita tiap hari lari, push up, baris, push up lagi, apel, baris lagi kalau kita
ngga jadi TNI nanti? Bukannya itu tujuan
kita semua yg ada disini ya?” jawab Wira.
“Tapi sebenarnya kita masuk TN
bukan untuk jadi robot Wir, Jadi mesin serdadu di garda depan formasi perang.
Melainkan kita ambil ilmu dari sini lalu kita baktikan ke masyarakat. Jadi
tentara sih mayoritas tujuan anak TN, tapi bukan berarti pilihan kita itu
saja.” Jelas Arga.
Mata Wira nanar menatap Arga.Ia
tertegun.
Sejurus kemudian Ia membalas SMS
Nisa memintanya untuk bertemu di suatu mal dan berbincang bersama dua bulan
lagi saat libur semester tiba.
*
Ayam jago terasa terlambat
berkokok saat gadis ini membuka matanya. Sedikit kesal Ia rasakan karena belum
sempat sembayang subuh. Tapi apadaya jika nasi telah menjadi bubur.Ia merasa
salahnya pula karena memaksa membaca novel yang baru dibelinya minggu lalu
sampai larut. Belum hendak bengkit, Ia masih ingin menggeliat diatas kasur
sembari melempar senyum ke penjuru kamarnya. Bukannya tidak waras, sedari malam
gadis ini juga tidak sabar menunggu hari ini.Pengerannya sudah pulang dan
ngajaknya bertemu. Setelah sarapan dan solat, Nisa bergegas mandi. Dihiasi senndung kecil iya
menyusun hijabnya sedemikian rupa, ga
boleh malu-maluinnih, serunya dalam hati
Dengan berlari kecil, Nisa turun
menuju ruang keluarga.“Umi, Bapak, Nisa berangkat dulu ya?”
“Eh ngga Makan dulu?” Tanya Umi
saat sedang minum teh dan menonton televise bersama bapak.
“iya nih.” Sambung bapak.
“Oh udah kok tadi pas umi sama
bapak lagi dikamar.” Jawab Nisa. Kemudian Nisa meraih tangan orang tuanya.
“Hati-Hati ya!” kata Umi.
“Iya.Wassalamualaikum!”
“Waalaikumsalam.” Jawab Umi dan
Bapak.
Mentari sedang berada pada
singgasananya.Melawan siapa saja yang ada didepannya.Membuat urung orang keluar
rumah tanpa alasan.Kecuali orang-orang yang memiliki urusan penting terpaksa
mengarungi teriknya siang ini.Beruntung ketika sudah sampai tempat
tujuan.Seperti Wira yang sudah datang lebih awal.Ia mengambil tempat di meja
sebelah jendela. Barangkali banyak pikirannya mengingat apa yang di bicarakan
bersama Agra beberapa bulan lalu. Hal itu masih mengganjal pikirannya.
Wira menyeruput kopinya.
Beberapa menit kemudian sosok
gadis yang dinantinya sejak datang tadi muncul.Berjalan melewati lorong mall
dan masuk restoran melewati kursi dan meja-meja pengunjung.Nisa tersenyum
malu.Mulutnya terbuka saat tersenyum. Mungkin Ia berkata ‘Hai’ namun tak
terdengar.Cantik sekali, dalam hati Wira.
Wira membalas senyuman
Nisa.
Wira menatap Nisa sejak melihatnya berjalan. Tatapannya sama
saat pertama kali jatuh hati di SMP dulu. Gadis yang ingin sekali Ia jadikan,
namun urung padahal Nisa tak menolak. Gadis yang masih membuatnya
penasaran.Nisa selalu sabar menunggu Wira di TN, walaupun Nisa tahu rasanya
tidak pernah enak. Wira mengerti, bahkan sebelum Ia di terima menjadi siswa TN.
Itulah yang menjadi Pikiran Wira. Tanggung jawabnya sebagai taruna dan Nisa
membuatnya berada dalam posisi dilematis.Wira sayang pada Nisa tapi sebetulnya
tidak tega merasakannya tersiksa kerinduan setiap hari.Malam demi malam Wira
lewati dengan berpikir panjang.
Belum ada yang bicara.Wira masih memandang Nisa dengan
senyum.Sesekali membenarkan rambutnya yang tidak apa-apa. Lalu ia menoleh ke
jendela. Kecut.Mungkin ini saatnya untuk berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar