Senin, 15 Juli 2013

Sebuah Pertemuan (cerpen)

                Langit kota Magelang saat ini sungguh terik. Jemuran para ibu di perkampungan sebelah lekas kering sebelum sore, namun tetap bergeming sebab pemilik jemuran berlindung sejuk di dalam rumah masing masing. Beberapa tempayan berisi ikan asin pun sudah terlihat mengering  setelah beberapa hari. Terlihat pula segerombolan anak kecil menyerbu pedagang es keliling ketika dia berhenti.Terasa kegembiraan bapak pedagang es ketika dagangannya disemuti anak-anak.
Sementara dibalik tembok ini masih sibuk dengan latihan.Masih hari rabu.Terlalu jauh berfikir istirahat.Terlalu pagi pula memikirkan liburan.Ikhlas saja menjalani nya.Dari 12 orang yang latihan sejak pagi tadi.Hanya tersisa dua anak.Keduanya masih asyik berlatih dan sepakat belum lelah.
                “Dapat berapa Pull Up kamu wir?” Tanya Aris selagi bergelantungan di tiang.
                Dengan sedikit tersengal, wira menjawab sambil menghitung, “ sebelas.. dua belas…”
                “Aku baru dapat sepuluh.” lanjut Aris tanpa menagih jawaban Wira.
                “Lima belas… enam belas… tujuh belas…” kemudian Wira mengangkat tubuhnya dengan terampil dan duduk di atas tiang Pull Up. “Sudah jam 12 Ris, paling sebentar lagi dipanggil Pak Bowo.” Dengan tersenyum, Wira menggurau Aris, “Masa, anak TN Pull Up cuma kuat sebelas Ris?”
                “perutku lapar. Aku tidak bisa mengeluarkan semua tenagaku kalau begini.”Tepis aris.
                “Halah, alasan aja kamu.”Jawab Wira diselingi gelak tawa.
                Waktu terus berputar mengelilingi segala yang dilaluinya.Sejak satu tahun belakangan ini Wira menjalankan kehidupan barunya di sekolah SMA Taruna Nasional di kota Magelang ini. Ia ingin melanjutkan karir ayahnya sebagai Angkatan Laut. Sekolah jauh membuatnya tinggal di asrama bersama ratusan teman temannya dari berbagai penjuru daerah. Baginya, Ia ingin mengabdi pada Negara dan mewujudkan cita-citanya sejak kecil. Sesuatu yang diinginkan Wira. Namun dibalik semua itu banyak hal yang mesti  Ia korbankan.  Jarak yang jauh dari Jakarta ini pula yang memaksanya meninggalkan kehidupan dan teman-temannya di Jakarta.
                “ahh akhirnya bisa istirahat juga.” Gumam Wira selepas merebahkan tubuh setengah jadinya ke kasur graha.
                “Wee enak yo wir? Besok dapat tugas jaga graha kamu.Puas puasin dulu sajahari ini.”Balas Arga seperti memenangkan sesuatu.
                “Ohh iya ya.Duh gua belum cukup tidur dari kemarin pula.”Jawab Wira seperlunya.Lebih tepatnya agar Arga senang.
                Arga merengkuh guling dan mendekapnya dgn posisi terlentang, matanya mengerjap-ngerjap.“Besok juga latihan Paskibra ‘kan wir. Aku mesti buru-buru tidur, tapi susah sekali yah.Di TN ini hampir setiap hari latihan fisik, apalagi kita Paskibra. Kata temen-temenku di Temanggung sih nanti di dunia kerja ga banyak bantu. Aku jadi berfikir kalau kita tidak jadi tentara nanti, akan jadi apa ya supaya semua ilmu yang kita serap berguna?” jelasnya.
                Wira bangkit setelah mengambil HP di kasurnya.Belum juga membalas obrolan Arga.Seperti biasa, Wira kembali melamun.
 Kemudian ia membuka telepon selulernya.
Kak Wiraaa, Nisa semester pertama ini belum ranking kak, gimana nih? Pengennya sih juara kelas, tapi saingannya susah>_<
                Assalamualaykum kak Wiraaaaa! Gimana kabarnya sih?Kok Nisa SMS gak pernah dibales ya?kakak udah lupa sama  Nisa lagi?! Hehe canda kak, Nisa ngerti kok kakak padat banget di TN Jadwalnya. Nisa Cuma bisa bantu doa aja kak, semoga kakak sehat selalu, kerasan disana dan dapat teman-teman yang seru dan asyik. Nisa mau cerita nih kak perkembangan Nisa dari semester pertama kemarin, banyak banget saingan Nisa, tapi Alhamdulillah Nisa peringkat kedua kak! Ya ngga apa-apa lah ngga pertama. Eh kak, Ngga kerasa ya udah mau libur semester kak, Nisa gak sabar deh jadinya hehe kakak ke Jakarta ‘kan nanti?
                Seketika kamar pengap yang dihuni Wira menjadi sejuk bersalju, terlihat cahaya cerah dan burung berkicau.akan tetapi kasur yang Ia duduki keras bahkan menyakitkan seperti duri.
                Arga menyimak dengan sabar sekali apa yang dilakukan Wira sebelum menjawab obrolannya.
                Wira tidak nyaman dengan posisinya, lalu Ia duduk di pinggir kasur dan menatap kearah jendela sejenak lalu ke selulernya lagi. Kentara sekali kegelisahan Wira malam ini. Wira paham betul tanggungjawabnya sebagai siswa Taruna Nasional, Ia pun mengerti jelas tujuannya masuk disini untuk apa. Sejak SMP Ia mempersiapkan diri untuk menjadi siswa TN, sebuah tekad yang juga didukung Nisa Saat itu.Mimpinya pun tak jauh dari pohonnya, Ia ingin melanjutkan karir ayahnya di Angkatan Laut. Menjadi penerus orang tua sudah menjadi jalan hidup salah satu anak anggota Marinir. Akantetapi disamping itu Wira mempunyai kehidupan di Jakarta, apa yang jauh berbeda disini. Ia memiliki sahabat-sahabatnya, apalagi kehadiran Nisa yang Ia berusaha dapatkan sejak kelas delapan. Ia jadi teringat saat saat sulitnya mendapatkan kepastian dari Nisa, namun Wira tak pernah khawatir sebab  Ia tahu Nisa membalas sukanya. Wira tersenyum sendiri mengingat hal-hal itu.
                Arga menangkap senyuman aneh Wira, “Hey!malah cengegesan. Gimana?”
                “Eh iya. Gua sih kalo ngga disini mau ngambil perminyakan ITB jalur Undangan Ga, tapi pikir deh buat apa kita tiap hari lari, push up, baris, push up lagi, apel, baris lagi kalau kita ngga jadi TNI nanti?  Bukannya itu tujuan kita semua yg ada disini ya?” jawab Wira.
                “Tapi sebenarnya kita masuk TN bukan untuk jadi robot Wir, Jadi mesin serdadu di garda depan formasi perang. Melainkan kita ambil ilmu dari sini lalu kita baktikan ke masyarakat. Jadi tentara sih mayoritas tujuan anak TN, tapi bukan berarti pilihan kita itu saja.” Jelas Arga.
                Mata Wira nanar menatap Arga.Ia tertegun.
                Sejurus kemudian Ia membalas SMS Nisa memintanya untuk bertemu di suatu mal dan berbincang bersama dua bulan lagi saat libur semester tiba.

*
                Ayam jago terasa terlambat berkokok saat gadis ini membuka matanya. Sedikit kesal Ia rasakan karena belum sempat sembayang subuh. Tapi apadaya jika nasi telah menjadi bubur.Ia merasa salahnya pula karena memaksa membaca novel yang baru dibelinya minggu lalu sampai larut. Belum hendak bengkit, Ia masih ingin menggeliat diatas kasur sembari melempar senyum ke penjuru kamarnya. Bukannya tidak waras, sedari malam gadis ini juga tidak sabar menunggu hari ini.Pengerannya sudah pulang dan ngajaknya bertemu. Setelah sarapan dan solat, Nisa  bergegas mandi. Dihiasi senndung kecil iya menyusun hijabnya sedemikian rupa, ga boleh malu-maluinnih, serunya dalam hati
                Dengan berlari kecil, Nisa turun menuju ruang keluarga.“Umi, Bapak, Nisa berangkat dulu ya?”
                “Eh ngga Makan dulu?” Tanya Umi saat sedang minum teh dan menonton televise bersama bapak.
                “iya nih.” Sambung bapak.
                “Oh udah kok tadi pas umi sama bapak lagi dikamar.” Jawab Nisa. Kemudian Nisa meraih tangan orang tuanya.
                “Hati-Hati ya!” kata Umi.
                “Iya.Wassalamualaikum!”
                “Waalaikumsalam.” Jawab Umi dan Bapak.
               
                Mentari sedang berada pada singgasananya.Melawan siapa saja yang ada didepannya.Membuat urung orang keluar rumah tanpa alasan.Kecuali orang-orang yang memiliki urusan penting terpaksa mengarungi teriknya siang ini.Beruntung ketika sudah sampai tempat tujuan.Seperti Wira yang sudah datang lebih awal.Ia mengambil tempat di meja sebelah jendela. Barangkali banyak pikirannya mengingat apa yang di bicarakan bersama Agra beberapa bulan lalu. Hal itu masih mengganjal pikirannya.
                Wira menyeruput kopinya.
                Beberapa menit kemudian sosok gadis yang dinantinya sejak datang tadi muncul.Berjalan melewati lorong mall dan masuk restoran melewati kursi dan meja-meja pengunjung.Nisa tersenyum malu.Mulutnya terbuka saat tersenyum. Mungkin Ia berkata ‘Hai’ namun tak terdengar.Cantik sekali, dalam hati Wira.
Wira  membalas senyuman Nisa.
Wira menatap Nisa sejak melihatnya berjalan. Tatapannya sama saat pertama kali jatuh hati di SMP dulu. Gadis yang ingin sekali Ia jadikan, namun urung padahal Nisa tak menolak. Gadis yang masih membuatnya penasaran.Nisa selalu sabar menunggu Wira di TN, walaupun Nisa tahu rasanya tidak pernah enak. Wira mengerti, bahkan sebelum Ia di terima menjadi siswa TN. Itulah yang menjadi Pikiran Wira. Tanggung jawabnya sebagai taruna dan Nisa membuatnya berada dalam posisi dilematis.Wira sayang pada Nisa tapi sebetulnya tidak tega merasakannya tersiksa kerinduan setiap hari.Malam demi malam Wira lewati dengan berpikir panjang.

Belum ada yang bicara.Wira masih memandang Nisa dengan senyum.Sesekali membenarkan rambutnya yang tidak apa-apa. Lalu ia menoleh ke jendela. Kecut.Mungkin ini saatnya untuk berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar