Sabtu, 1 Oktober 2022 merupakan hari terkelam dalam sejarah
sepakbola Indonesia. Sampai tulisan ini ditulis pada tanggal 2 Oktober 2022
tercatat ada 182 korban meninggal dunia dari tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang.
Tragedi naas ini terjadi setelah kekalahan tim Tuan Rumah Arema FC dari
Persebaya dengan skor 2 – 3. Semua orang di Indonesia dan Dunia menyoroti
malang hari ini.
Sungguh tulisan ini saya ketik dengan hati yang bergetar hingga
kesekujur tubuh. Dua orang meninggal di GBLA beberapa bulan lalu saja sudah
terasa menyakitkan, apalagi ini yang 180 orang lebih, hampir 2 kali lipat
jumlahnya dibandingkan Tragedi Hillsborough yang menewaskan 97 orang di
Inggris. Tidak pernah terbayang saat bermaksud menyaksikan tim kesayangan
bermain, justru disanalah ajal menjemput.
Bicara tentang kronologi, dari berita yang beredar awalnya
adalah setelah peluit Panjang akhir pertandingan ditiup para pemain dan staff
Arema menghampiri tribun penonton untuk menyampaikan permohonan maaf kepada para
Aremania yang hadir, sang kapten John Alfaridzie memimpin prosesi ini. Kemudian
saat sudah dekat dengan Tribun, ada 2 orang supporter menjadi masuk ke lapangan
menghampiri para pemain Arema. Sontak seperti tersulut, puluhan supporter lainnya
ikut-ikut masuk lapangan dan membuat para pemain dan staff berlarian ke ruang
ganti yang jaraknya satu lebar lapangan.
Suasana semakin memanas saat puluhan supporter menjadi
ratusan yang masuk ke lapangan. Pihak keamanan seperti tidak siap dengan situasi
ini dan memburu para supporter yang disinyalir sebagai provokator secara membabi
buta. Setelah tertangkap, para supporter itu dihajar dengan tangan, kaki,
pentungan, hingga tameng. Situasi ini membuat para supporter marah dan memburu
balik polisi.
Ternyata tragedy baru saja akan dimulai. Saat situasi
semakin kacau, puluhan supporter lain yang tidak terlibat ke lapangan ingin
keluar namun tiba-tiba lampu stadion dipadamkan, teriak kericuhan membuat massa
berdorong dorongan. Melihat kejadian ini, entah mengapa bagaimana polisi justru
melempar gas air mata ke arah tribun. Ya Tribn penonton yang mana didalamnya
ada penonton anak-anak, Wanita, hingga orang tua. Tentu saja ini membuat situasi
makin runyam. Banyak yang tidak bisa keluar karena akses keluar sangat kecil. Ada
juga yang jatuh dari atas tribun, terhimpit, sesak nafas, hingga meninggal.
Kabar ini baru saya baca pagi-pagi padahal semalam saya
nonton pertandingan sampai selesai. Sebagai penggemar sepakbola dalam dan luar
negeri Saya sangat sakit dan kecewa atas tragedi ini. Pertandingan sepakbola
mana yang seharga nyawa manusia? Tidak ada. Tambah bergetar kembali saat
mengetahui bahwa Panpel telah meminta pertandingan dimajukan ke jam 15.30 untuk
mengurangi risiko namun ditolak PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator
liga, kemudian fakta bahwa panpel menjual 40.000 tiket padahal kapasitas
kanjuruhan hanya 30.000, kemudian mengapa mesti menembakan gas air mata ke arah
tribun padahal kerusuhan ada di lapangan? Yang mana di tribun lebih banyak
penonton yang rentan, yang mana pula akses pintu keluar terbatas, polisi
berharap penonton bubar kemana?
Saya sangat kecewa karena timnas kita baru saja melangkah lebih baik di kontestasi internasional, ternyata kejadian ini terjadi. Namun dibalik itu saya turut berduka cita atas korban yang jatuh, sepak bola Indonesia digelayuti mendung pekat saat ini. Semua harus bertanggung jawab, bukan cuma tanggung jawab Bersama. Saya mendukung pengusutan tuntas tragedy ini, jangan ada yang ditutup-tutupi. Jangan menyalahkan penonton yang tidak bersalah. Evaluasi menyeluruh PSSI, Panpel, PTLIB, dan Keamanan. Walaupun sangat klise bila berharap pada federasi ini, kita tidak boleh menyerah demi orang-orang yang menggantungkan hidupnya di sepakbola.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar