oleh Muhammad Yusuf Alfatha
Awal tahun dua ribu lima belas ditandai dengan perekonomian
Indonesia yang lesu. Di berbagai sektor baik itu agrikultur, industri, maupun
jasa mengalami penurunan persentase pertumbuhan. Bahkan di beberapa bidang
mengalami pertumbuhan yang negatif. Hal ini banyak dipengaruhi oleh penguatan
ekonomi Amerika serikat dan Eropa (BI, 2015). Nilai tukar rupiah saat ini juga
amat lemah hingga pada kuartal pertama tahun dua ribu lima belas stabil di
kisaran tiga belas ribu rupiah.
Lesunya perekonomian Indonesia saat ini dapat kita lihat
dari sektor pangan, terutama beras. Sudah satu bulan atau lebih sektor ini amat
disoroti oleh media. Bahan makanan paling pokok di Indonesia ini sempat
mengalami kenaikan yang signifikan di awal tahun. Begitu pula masalah
pengelolaan beras bagi rakyat miskin (Raskin) yang tidak menentu nasibnya. Lempar
tanggung jawab antara Bulog dan Kementerian Pertanian merebak disaat penelitian
menghasilkan prediksi bahwa produksi raskin nasional tidak dapat memenuhi
kebutuhan konsumsi rakyat miskin. Perum Bulog yang diberi mandat untuk
mengelola Beras nasional di masa lalu, kini hanya memegang persediaan raskin
saja. Disaat persediaan kurang, kementerian terpaksa mengimpor beras dari
negeri lain untuk menutupi konsumsi.
Hal senada juga keluar dari isi stok beras nasional. Dari kebututuhan beras nasional yaitu satu
juta lima ratus ribu kilogram per tahun, petani kita hanya bisa memproduksi
sebesar delapan ratus ribu kilogram pertahun. Angka ini dinilai sangat tinggi
jaraknya mengingat saat ini saja kita baru memasuki kuartal kedua tahun ini.
Para pengamat mempertanyakan kinerja dari kementerian
Pertanian yang bertanggung jawab atas beras nasional. Apalagi program Nawacita
presiden Joko Widodo juga memasukkan target Swasembada pangan di periode
pemerintahannya. Apabila saat ini saja stok beras masih minus, bagaimana
menghadapi tahun depan yang sudah memasuki masa pasar bebas ASEAN.
Ditengah goyangan dari berbagai pihak, kementerian Pertanian
memandang realistis prediksi dari para pengamat dengan berencana melakukan
impor beras dari Thailand dan Vietnam. Mereka menyadari bahwa saat ini produksi
beras tidak mencukupi kebutuhan rakyat. Mudahnya, perumahan semakin bertambah
bulan ke bulan namun lahan pertanian tidak bertambah, bahkan menyusut. Sementara
profesi buruh tani dan perangkatnya sudah mulai ditinggalkan karena dinilai
tidak memiliki masa depan yang cerah. Dilema inilah yang menjadi penyebab
mengapa dari tahun ke tahun produksi beras nasional tidak pernah memenuhi kebutuhan.
Bersaing dengan
pedagang besar
Ditengah tingginya harga beras saat ini banyak spekulasi
yang mengemukakan penyebab mengapa harga beras saat ini demikian tingg. Salah satu
penyebabnya ialah penerintah dan Bulog mendapat tekanan dari pedagang besar
dalam membeli beras dari petani. Para pedagang besar mampu membeli beras para
petani dengan harga tinggi, menyebabkan petani lebih suka menjual pada pedagang
besar dibandingkan ke pemerintah dengan harga yang lebih rendah. Padahal situasi
ini akan menyebabkan harga beras sulit untuk di prediksi. Beras yang dijual
kembali oleh pedagang besar pasti akan lebih mahal ketimbang melalui
pemerintah, hingga harga beras di eceran sangat jauh dari HPP. Ditambah lagi
dengan kenyataan bahwa para pedagang besar tidak langsung menjual ke konsumen
namun disalurkan lagi ke pedangan-pedagang yang semakin kecil hingga tujuh
sampai delapan rantai. Wajarlah apabila saat ini harga beras belum bisa turun
Berdasarkan data laporan pemantauan harga dan pasokan di
pasar induk oleh Kementerian Perdagangan pada 25 Mei 2015 dibanding harga
seminggu sebelumnya, harga semua beras jenis muncul stabi bila dibanding harga minggu
lalu. Sedangkan harga jenis beras IR64II dan III mengalami kenaikan harga
berkisar antara 0,66% - 1,20% dengan harga Rp7.650 (IR 64 III) dan Rp8.400 (IR
64 II).
Menurut pendapat saya pemerintah melalui menteri pertanian
seyogyanya memberikan stimulus yang ampuh bagi permasalahan beras saat ini,
misalnya memperluas lahan pertanian di Indonesia. Beberapa minggu lalu Presiden
sudah mengumumkan rencana kabupaten Merauke menjadi target lumbung padi di
Indonesia dengan potensi produksi amat tinggi. kemudian membatasi jumlah
pedagang besar yang langsung membeli di petani sehingga harga eceran dapat
mudah dikendalikan. Serta masalah raskin supaya bisa dikelola oleh bulog dengan
baik dan tidak ada tumpang tindih tanggung jawab. Beras merupakan bahan makanan
paling pokok bagi bangsa Indonesia, wajar bila menjadi isu yang vital, dan
sudah seharusnya ditangani secara adil dan professional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar